• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Selasa, Mei 12, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Engkolisme

M. Risfan Sihaloho by M. Risfan Sihaloho
2026/05/11
in Cerpen, Nasional, Opini, Tilikan
0
Engkolisme
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: M. Risfan Sihaloho

 

Di tengah gersangnya tradisi meritokrasi dan karut-marutnya budaya birokrasi kita, lahir sebuah sekte baru yang bergerak di bawah radar,  namun dampaknya nyata: yakni “engkolisme”.

Istilah khas Medan ini bukan sedang bicara soal menghidupkan mesin sepeda motor tua, melainkan seni memompa ego atasan hingga melambung ke langit ketujuh.

Hari ini, di ruang-ruang rapat pemerintahan, di lorong-lorong organisasi kemasyarakatan, hingga di mimbar-mimbar akademik,  “ngengkol” telah bertransformasi dari sekadar perilaku menjilat menjadi sebuah soft-skill yang jauh lebih sakti ketimbang sertifikasi profesional manapun.

 

Pujian Kosong

Secara struktural, engkolisme adalah tarian asimetris. Si bawahan berperan sebagai tukang pompa (pengengkol), dan si atasan adalah ban kempis yang butuh dicitrakan berisi. Sungguh ini adalah simbiosis mutualisme yang menjijikkan: si pengengkol mendapat akses kekuasaan, sementara si atasan mendapat asupan dopamin lewat sanjungan palsu.

Yang menarik—sekaligus tragis—adalah pengakuan jujur para penguasa yang kerap berujar:

“Taunya kita lagi diengkol, tapi syor (senang) juga kita.”

Pernyataan ini adalah lonceng kematian bagi akal sehat. Ketika seorang pemimpin sadar sedang dibohongi namun memilih untuk menikmatinya, di sanalah feodalisme modern bersemi. Kita sedang membangun menara kekuasaan di atas fondasi “jual cakap” dan “jual kecap”.

 

Baca juga: Gemar Memuji dan Senang Disanjung itu Sama-sama Berbahaya

 

Reinkarnasi Kaum Sofis

Jika di zaman Yunani Kuno kaum Sofis dihujat karena memutarbalikkan logika demi bayaran, maka para praktisi engkolisme hari ini adalah reinkarnasi mereka yang lebih canggih. Mereka tidak butuh visi, misi, apalagi integritas. Cukup kuasai teknik berikut:

Pertama, timing yang tepat: Kapan harus memuji warna dasi bos atau tertawa paling keras untuk leluconnya yang garing.

Kedua, pilihan diksi yang menghanyutkan: Membungkus kegagalan atasan menjadi “langkah strategis yang belum dipahami publik”.

Ketiga, pasang wajah tanpa dosa: Tetap konsisten memuja meski yang dipuja sedang menabrak nalar.

Di dunia profesionalisme sejati, engkolisme adalah sampah. Namun dalam ekosistem kita yang pragmatis, mereka yang konsisten “ngengkol” rezim justru lebih cepat naik pangkat ketimbang mereka yang berdarah-darah bekerja tapi “kaku” berkomunikasi (baca: jujur).

 

Penutup

Engkolisme adalah bukti bahwa feodalisme tidak pernah benar-benar mati; ia hanya berganti baju menjadi etiket organisasi dan birokrasi. Kita sedang membiarkan orang-orang medioker menguasai hajat hidup orang banyak hanya karena mereka lihai bersilat lidah dan pandai memainkan emosi penguasa.

Selama “Syor” masih menjadi indikator keberhasilan ketimbang “Output”, maka jangan harap inovasi akan lahir. Kita akan terus terjebak dalam lingkaran setan para penjilat.

Pertanyaannya: sampai kapan kita mau dipimpin oleh mereka yang mabuk karena asap “engkol” anak buahnya sendiri?

Sudah saatnya kita berhenti memompa ban yang bocor moral, sebelum seluruh kendaraan republik ini masuk ke jurang kenaifan.

Lagi pula, bukan kah sekarang eranya metik? Jadi lucu saja melihat masih banyak yang suka “ngengkol” 😀 (*)

 

Tags: EngkolengkolismejilatngengkolPenjilat
Previous Post

FKIP UHAMKA Kirim 7 Mahasiswa Magang di Bandara dan Hotel di Jepang

Next Post

Dorong Wisata Religi dan Pemberdayaan UMKM, Grand Mercure Siap Dukung Sukses Muktamar 49 Muhammadiyah 2027

Related Posts

Penjilat

Penjilat

23 Juli 2025
241
Next Post
Dorong Wisata Religi dan Pemberdayaan UMKM, Grand Mercure Siap Dukung Sukses Muktamar 49 Muhammadiyah 2027

Dorong Wisata Religi dan Pemberdayaan UMKM, Grand Mercure Siap Dukung Sukses Muktamar 49 Muhammadiyah 2027

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In