Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Pembelajaran Sastra dan Penumbuhan Nilai Karakter

Mujaddid by Mujaddid
2026/04/02
in Esai, Nasional, Opini
Reading Time: 4 mins read
0
Pembelajaran Sastra dan Penumbuhan Nilai Karakter
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Heri Isnaini

Ada sesuatu yang kerap kita lupakan ketika berbicara tentang pembelajaran sastra di ruang-ruang kelas. Bahwa sastra bukan sekadar teks, melainkan pengalaman batin. Ia bukan hanya kumpulan kata, melainkan ruang sunyi tempat manusia berjumpa dengan dirinya sendiri. Dalam sunyi itulah, nilai-nilai karakter tidak diajarkan, tetapi tumbuh dengan sendirinya.

Saya sering merasa, pembelajaran sastra hari ini terlalu tergesa-gesa menjadi “ilmiah.” Kita sibuk membedah struktur, mengurai majas, menghafal periodisasi. Memang, semua itu penting, tentu saja dan pasti.

Namun, di balik itu, ada sesuatu yang perlahan hilang, yaitu getaran. Padahal, justru dalam getaran itulah karakter menemukan akarnya.

Ketika seorang siswa membaca puisi Sapardi Djoko Damono, misalnya, ia tidak hanya sedang memahami metafora hujan atau rindu. Ia sedang belajar merasakan. Dan, merasakan adalah langkah awal untuk menjadi manusia yang utuh. Dari sana, empati tumbuh tanpa perlu diperintah. Dari sana, kepekaan hadir tanpa perlu diceramahi.

Pembelajaran sastra, jika dijalankan dengan kesadaran seperti itu, sesungguhnya adalah proses pembentukan karakter yang paling halus. Ia tidak memaksa, tidak menggurui, tidak menghakimi. Ia mengajak. Ia membiarkan pembaca berjalan pelan, tersesat sedikit, lalu menemukan sesuatu yang mungkin tak pernah ia cari, tetapi justru sangat ia butuhkan.

Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian sering kali diajarkan dalam bentuk slogan. Namun dalam sastra, nilai-nilai itu hadir sebagai konflik. Tokoh yang ragu, tokoh yang gagal, tokoh yang terluka, tokoh yang berdosa menjadi bagian dari ejawantah pengalaman yang justru di situlah siswa belajar bahwa menjadi manusia tidak pernah sederhana. Mereka tidak sekadar tahu bahwa “jujur itu baik,” tetapi memahami betapa sulitnya menjadi jujur dalam situasi tertentu.

Saya percaya, karakter tidak lahir dari kepastian, tetapi dari pergulatan. Sebab kepastian hanya menghasilkan kepatuhan, sementara pergulatan melahirkan kesadaran.

Dalam kepastian, seseorang tinggal menerima, seperti ini benar, itu salah, ini baik, itu buruk. Tidak ada ruang retak, tidak ada ruang ragu. Padahal, justru di dalam keraguan itulah manusia diuji sebagai manusia.

Pergulatan adalah momen ketika seseorang berhadapan dengan pilihan yang tidak sederhana. Ia tahu apa yang benar, tetapi situasi membuatnya bimbang. Ia ingin jujur, tetapi kejujuran itu berisiko. Ia ingin setia, tetapi keadaan menggoda untuk berpaling.

Di titik itulah karakter bekerja bukan sebagai hafalan nilai, melainkan sebagai keputusan batin.
Sastra menyediakan ruang yang sangat kaya untuk menghadirkan pergulatan semacam ini.

Dalam karya sastra, kita tidak menemukan manusia yang steril dari konflik, melainkan manusia yang rapuh, yang ragu, yang kadang kalah oleh dirinya sendiri. Tokoh-tokoh itu tidak hadir untuk diteladani secara utuh, tetapi untuk dipahami secara mendalam.

Ambil contoh tokoh-tokoh dalam karya Pramoedya Ananta Toer. Mereka sering kali berada dalam situasi yang tidak hitam-putih: antara idealisme dan realitas, antara keberanian dan ketakutan. Pembaca tidak dipaksa untuk menghakimi, melainkan diajak untuk ikut merasakan tekanan batin yang mereka alami. Dari sana, pembaca belajar bahwa keputusan moral tidak pernah sesederhana teori.

Atau dalam puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, misalnya, pergulatan itu hadir dalam bentuk yang lebih sunyi. Tidak ada konflik yang meledak-ledak, tetapi ada kegamangan yang halus: tentang waktu, tentang kehilangan, tentang kesederhanaan, atau tentang keterbatasan manusia. Pembaca diajak untuk berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan. Dan dari proses berdamai itu, lahirlah kedewasaan.

Dengan demikian, sastra bukan sekadar media untuk “mengajarkan nilai,” tetapi ruang simulasi batin. Ia memungkinkan seseorang mengalami konflik tanpa harus benar-benar terluka olehnya. Ia memberi jarak sekaligus kedekatan. Jarak karena itu hanya cerita, kedekatan karena emosi yang dirasakan begitu nyata.

Di situlah letak kekuatan sastra dalam menumbuhkan karakter. Ia tidak memberi jawaban, tetapi memperkaya pertanyaan. Ia tidak menawarkan kepastian, tetapi melatih ketahanan dalam menghadapi ketidakpastian.

Dan mungkin, karakter yang paling kuat bukanlah mereka yang selalu tahu apa yang benar, tetapi mereka yang pernah ragu kemudian tetap memilih dengan sadar, meski pilihan itu tidak pernah benar-benar mudah.

Dalam cerpen, siswa bisa melihat bagaimana keputusan kecil dapat berujung pada konsekuensi besar.

Dalam novel, mereka menyaksikan perjalanan panjang seorang tokoh yang jatuh, bangkit, lalu jatuh lagi.

Dalam puisi, mereka belajar bahwa bahkan kesedihan pun memiliki makna.

Semua itu membentuk cara pandang dan cara pandang adalah fondasi karakter.
Di titik ini, guru sastra tidak lagi berperan sebagai pengajar, melainkan sebagai penjaga pengalaman. Ia bukan hanya menjelaskan teks, tetapi membuka kemungkinan makna. Ia memberi ruang bagi siswa untuk menafsir, meragukan, bahkan menolak. Karena karakter yang kuat tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari keberanian untuk berpikir dan merasakan secara mandiri.

Barangkali, yang perlu kita lakukan dalam pembelajaran sastra bukan menambah materi, tetapi memperdalam perjumpaan. Memberi waktu bagi siswa untuk diam setelah membaca. Memberi ruang bagi mereka untuk bertanya tanpa takut salah. Dan yang terpenting, membiarkan sastra bekerja dengan caranya sendiri, dengan perlahan, dengan sunyi, tetapi tetap mengakar.

Sebab pada akhirnya, sastra tidak mengubah manusia secara instan. Ia hanya menanam benih. Dan seperti semua benih, ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan kepercayaan. Namun sekali ia tumbuh, ia tidak hanya menghasilkan pengetahuan, melainkan juga kebijaksanaan. Sebab pengetahuan berhenti pada apa yang diketahui, sementara kebijaksanaan bergerak pada bagaimana seseorang memaknai hidupnya sendiri.

Di titik itu, sastra tidak lagi sekadar dibaca, tetapi dihidupi. Ia menjelma menjadi cara seseorang memandang luka, memahami kehilangan, dan merawat harapan yang paling sunyi. Barangkali, seperti yang pernah disiratkan oleh Sapardi Djoko Damono dalam kesederhanaannya, “yang fana adalah waktu.” Dan kita, yang belajar dari sastra, perlahan mengerti bahwa yang abadi bukanlah kepastian, melainkan cara kita mencintai, merasakan, dan bertahan di tengah kefanaan itu. (*)

Bandung, 2 April 2026

 

Penulis adalah Dosen Sastra IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Lahir di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni. Heri sangat menyukai sastra dan kajian atasnya. Tulisan-tulisannya sudah dimuat dalam berbagai media massa baik daring maupun cetak.

Tags: KarakterPembelajaran Sastrasastra
Previous Post

Silaturahim Ekonomi Dakwah: Dari Cafe Literasi menuju Kemandirian Umat

Next Post

Irene Siagian Laporkan Suami ke Polisi atas Dugaan KDRT dan Penelantaran Anak

Related Posts

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
119
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
116
Kayu Gelondongan dan Hutan Kita

Muktamar Muhammadiyah: Menyalakan Pencerahan, Merawat Demokrasi, Membangun Peradaban

29 Juni 2026
108
Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

29 Juni 2026
104
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
Next Post
Irene Siagian Laporkan Suami ke Polisi atas Dugaan KDRT dan Penelantaran Anak

Irene Siagian Laporkan Suami ke Polisi atas Dugaan KDRT dan Penelantaran Anak

Belajar dari Kasus Amsal Sitepu

Belajar dari Kasus Amsal Sitepu

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
116
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan