• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Senin, Maret 30, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Melawan Keheningan Arsip: Mengapa Raja Sang Naualuh Damanik Lebih dari Sekadar Memori Lokal?

Shohibul Anshor Siregar by Shohibul Anshor Siregar
2026/03/30
in Daerah, Nasional, Opini, Ulasan
0
Melawan Keheningan Arsip: Mengapa Raja Sang Naualuh Damanik Lebih dari Sekadar Memori Lokal?
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

✍️ Shohibul Anshor Siregar

 

Kota Pematangsiantar baru saja meresmikan Monumen Raja Sang Naualuh Damanik setinggi 12 meter pada April 2025, menandai akhir dari perjalanan panjang pembangunan yang sempat terbengkalai sejak 2011 .

Namun, di balik kemegahan perunggu tersebut, muncul sebuah tantangan intelektual yang provokatif: benarkah Sang Naualuh adalah tokoh sejarah yang signifikan, ataukah ia hanyalah “konstruksi modern” yang lahir dari tradisi lisan karena namanya dianggap “senyap” dalam arsip resmi Belanda?

Argumen mengenai “keheningan arsip” (archive silence) menyatakan bahwa ketiadaan nama Sang Naualuh dalam survei etnografi atau catatan landraad (pengadilan) kolonial adalah bukti negatif atas ketidakberadaannya sebagai aktor politik besar.

Namun, perspektif ini berisiko terjebak dalam bias historiografi kolonial yang sering kali menggunakan penghapusan administratif sebagai alat untuk memarjinalkan lawan politik yang dianggap berbahaya.

Penelitian sejarah yang lebih mendalam menunjukkan bahwa “keheningan” tersebut sesungguhnya tidaklah mutlak. Keberadaan Sang Naualuh secara administratif diakui secara formal oleh pemerintah Hindia Belanda melalui Besluit Gubernemen No. 1 tertanggal 24 April 1906, yang memerintahkan pengasingannya ke Bengkalis . Dokumen primer ini adalah bukti hukum yang tak terbantahkan bahwa birokrasi kolonial mengidentifikasi dan mengambil tindakan hukum terhadap sosok Sang Naualuh.

Lebih jauh lagi, konversinya ke agama Islam pada tahun 1901 bukanlah sekadar urusan privat, melainkan sebuah manuver geopolitik yang terdokumentasi untuk membendung pengaruh misionaris Jerman (RMG) yang saat itu mendapat dukungan dari otoritas kolonial.

Sang Naualuh juga tercatat secara konsisten menolak menandatangani Korte Verklaring—sebuah kontrak politik pendek yang mewajibkan raja-raja lokal tunduk sepenuhnya pada kedaulatan Belanda.

Strategi kolonial untuk menguasai Siantar memang tidak selalu melalui kontak senjata besar, melainkan melalui manipulasi hukum di Landraad (pengadilan pribumi). Belanda melakukan taktik “pembunuhan karakter” dengan menuduh Sang Naualuh melakukan pelanggaran moral dan percobaan peracunan pejabat untuk melegitimasi penangkapannya tanpa harus memicu pemberontakan rakyat skala luas .

Sejarawan Anthony Reid dalam studinya menekankan bahwa kompleksitas etnis di Sumatera menuntut adanya identitas “Indonesia” yang baru untuk mengatasi pembelahan masa lalu . Dalam kerangka ini, Sang Naualuh Damanik adalah jembatan penting. Keberaniannya menolak hegemoni Belanda dan visinya dalam merintis pembangunan jalan serta keterbukaan kota adalah bukti bahwa ia adalah aktor politik yang sadar akan dinamika zamannya.

Membangun monumen di Pematangsiantar bukan sekadar tindakan romantisme sejarah atau pencitraan identitas suku. Ini adalah upaya dekonstruksi mandiri terhadap narasi kolonial yang pernah mencoba membisukan perannya.

Pada akhirnya, validitas sejarah seorang pemimpin tidak hanya terletak pada tumpukan kertas di gudang arsip di Den Haag, melainkan pada nilai-nilai keberanian, integritas, dan toleransi yang tetap hidup dan menginspirasi masyarakatnya hingga hari ini. (*)

Tags: Raja Sang Naualuh Damanik
Previous Post

Jelang Vonis Amsal Sitepu, Akademisi Berharap Putusan Jadi ‘Cahaya Keadilan’

Next Post

Wajah Politik Warga Muhammadiyah

Related Posts

No Content Available
Next Post
Wajah Politik Warga Muhammadiyah

Wajah Politik Warga Muhammadiyah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In