• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Selasa, Maret 24, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Kecerdasan yang Tergadaikan

Jufri by Jufri
2026/03/24
in Jufri Daily, Nasional, Opini
0
Kecerdasan yang Tergadaikan
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

✍️ Jufri

Saya membaca sebuah narasi kebijakan yang membuat dahi berkerut. Di satu sisi, pemerintah mendorong Work From Anywhere (WFA) dan sekolah daring dengan alasan efisiensi energi. Di sisi lain, program makan bergizi tetap berjalan,bahkan dengan skema yang mengharuskan anak-anak tetap datang ke sekolah.

Di titik ini, pertanyaan sederhana muncul dari akal sehat yang paling dasar: jika datang ke sekolah dianggap tidak efisien untuk belajar, mengapa menjadi efisien untuk sekadar mengambil jatah makan?
(Jika kebijakan ini jadi dilaksanakan)

Di sinilah kita mulai merasakan ada sesuatu yang tidak utuh dalam cara berpikir kebijakan. Seolah-olah kecerdasan tidak lagi dipakai sebagai alat utama dalam merumuskan keputusan, melainkan hanya sebagai pelengkap administratif. Padahal, bernegara bukan sekadar mengeluarkan aturan, tetapi memastikan setiap kebijakan berdiri di atas logika yang utuh dan dapat dipertanggungjawabkan.

Jika kita kembali pada pengertian WFA itu sendiri, ia adalah sistem kerja fleksibel yang menekankan hasil, bukan kehadiran fisik. Artinya, orientasinya adalah efisiensi, mobilitas yang ditekan, dan pemanfaatan teknologi untuk menjaga produktivitas. Dalam logika ini, kehadiran fisik menjadi sesuatu yang dikurangi, bahkan dihindari, kecuali benar-benar diperlukan.

Namun di sinilah letak keganjilan itu muncul. Ketika konsep fleksibilitas yang menjadi ruh WFA tidak diterjemahkan secara konsisten dalam kebijakan lain, maka yang lahir adalah kebingungan. Anak-anak diminta tidak hadir untuk belajar, tetapi dalam waktu yang sama dimungkinkan hadir untuk urusan lain. Ini bukan lagi soal setuju atau tidak setuju, tetapi soal konsistensi berpikir.

Masalahnya bukan pada niat baik. Kita semua tahu, program makan bergizi adalah langkah penting untuk masa depan generasi bangsa. Kita juga memahami bahwa efisiensi energi adalah kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.

Namun, ketika dua kebijakan ini berjalan dengan arah yang seolah bertabrakan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya efektivitas program, tetapi juga kepercayaan publik.

Lebih berbahaya lagi, kebijakan yang tidak sinkron akan melahirkan kebingungan kolektif. Rakyat dipaksa memahami sesuatu yang bahkan tampak tidak dipahami secara utuh oleh pembuat kebijakan itu sendiri. Dalam jangka panjang, kebingungan ini bisa berubah menjadi apatisme. Orang tidak lagi peduli benar atau salah, karena yang terlihat hanyalah inkonsistensi.

Kita juga perlu jujur melihat kenyataan lain. WFA dalam praktiknya bukan sekadar “bebas bekerja di mana saja”, tetapi membutuhkan kesiapan: infrastruktur digital, kedisiplinan, serta sistem pengawasan berbasis kinerja. Tanpa itu, WFA hanya akan menjadi slogan modern yang kehilangan substansi. Hal yang sama berlaku pada pendidikan daring. Ia bukan sekadar memindahkan ruang kelas ke layar, tetapi menuntut kesiapan guru, siswa, dan orang tua.

Di titik ini, kita dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: apakah kebijakan ini benar-benar disiapkan dengan matang, atau sekadar respons cepat yang belum sepenuhnya terintegrasi?

Di sinilah letak kegelisahan itu: jangan sampai kecerdasan dalam bernegara ini tergadaikan oleh keputusan yang setengah matang. Negara tidak boleh berjalan dengan logika yang parsial. Jika tujuan kita adalah mengurangi mobilitas, maka semua kebijakan harus mengarah ke sana secara konsisten. Jika tujuan kita adalah menjaga kualitas pendidikan, maka jangan sampai pendidikan justru menjadi variabel yang paling mudah dikorbankan.

Kita tidak sedang berbicara soal teknis semata. Ini soal arah berpikir. Soal bagaimana negara menghargai akal sehat warganya. Sebab rakyat hari ini bukan sekadar objek kebijakan, tetapi subjek yang mampu menilai, membandingkan, dan merasakan kejanggalan.

Dialektika dan diskusi adalah ruh persaudaraan agar arah tetap tepat dan tujuan tetap benar. Kritik bukanlah bentuk permusuhan, melainkan tanda bahwa masih ada harapan agar kebijakan bisa diperbaiki. Justru yang berbahaya adalah ketika semua orang diam, menerima tanpa berpikir, dan membiarkan inkonsistensi menjadi hal yang biasa.

Pada akhirnya, kita berharap sederhana: negara hadir dengan kecerdasan yang utuh. Tidak setengah-setengah. Tidak saling bertabrakan. Karena ketika kecerdasan itu tergadaikan, yang hilang bukan hanya kejelasan kebijakan, tetapi juga masa depan generasi yang seharusnya kita jaga bersama. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

 

Tags: MBGWFA
Previous Post

KPK Cabut Status Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akademisi: Bukti Respons terhadap Tekanan Publik

Next Post

Perang Memanas, Minyak Melonjak: Seperti Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Related Posts

Ethics of Care Soroti MBG Ramadan: Label Bergizi, tapi Menghina Akal Sehat

Ethics of Care Soroti MBG Ramadan: Label Bergizi, tapi Menghina Akal Sehat

25 Februari 2026
121
MBG, Amar Makruf Nahi Munkar, dan Cara Kita Menjaga Nurani Publik

MBG, Amar Makruf Nahi Munkar, dan Cara Kita Menjaga Nurani Publik

23 Februari 2026
133
Angka Kasus Keracunan Program MBG Terus Meningkat, Ethics of Care: Bukan Sekadar Statistik, tapi Potret Kegagalan Sistemik

Korban Keracunan MBG Terus Bertambah, Ethics of Care: Hukum Tidak Boleh Diam

1 Februari 2026
122
Angka Kasus Keracunan Program MBG Terus Meningkat, Ethics of Care: Bukan Sekadar Statistik, tapi Potret Kegagalan Sistemik

Ethics of Care Soroti Tekanan terhadap Pengkritik Program MBG

26 Januari 2026
120
Sidak Menu MBG, Direktur Pemberdayaan BGN: Dapur SPPG UMSU Bisa Jadi Percontohan

Sidak Menu MBG, Direktur Pemberdayaan BGN: Dapur SPPG UMSU Bisa Jadi Percontohan

15 Januari 2026
141
Korwil BGN Sergai Tinjau Progres Pembangunan Dapur Makan Bergizi Muhammadiyah

Korwil BGN Sergai Tinjau Progres Pembangunan Dapur Makan Bergizi Muhammadiyah

9 Januari 2026
994
Next Post
Perang Memanas, Minyak Melonjak: Seperti Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Perang Memanas, Minyak Melonjak: Seperti Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In