✍️ Mujahiddin
Associate Professor Pada Bidang Studi Pembangunan di FISIP UMSU
Kapan dunia mengalami perdamaian yang panjang? Hampir tidak ada. Sejarah manusia baik dalam skala global maupun lokal selalu diisi dengan cerita konflik atau peperangan. Kondisi ini yang digugat secara tidak langsung oleh John Lennon dalam lagunya berjudul “Imagine” yang diliris pada tahun 1971.
Jika kita amati teks yang ditulis Lennon pada lagu tersebut, bait-bait awal ia menggugat kehadiran surga dan neraka dengan pesan bahwa perang banyak disebabkan oleh religiusitas yang menghadirkan keyakinan dogmatis.
Pada bait berikutnya, gugatan ia tujukan pada posisi negara; baginya nasionalisme yang berlebihan dan problem-problem batas negara (termasuk geopolitik) dapat menjadi penyebab terjadinya perang.
Meski lagu ini diliris pada tahun 1971 dengan latar sosial-politik situasi perang dingin dan perang Vietnam yang secara langsung telah membelah dunia menjadi dua blok (timur dan barat), namun pertanyaan reflektif yang diajukan oleh Lennon pada lirik lagu tersebut rasa-rasanya masih relevan untuk dijawab kembali hari-hari ini.
Situasi dunia memang telah berubah, tidak ada lagi skat antara blok timur dan blok barat. Namun keserakahan untuk terus memonopoli dan menghegamoni satu sama lainnya masih terus terjadi; baik dalam bentuk perjanjian dagang dan atau perebutan energi. Untuk yang terakhir ini, manusia telah mengalami keserakahan yang begitu akut.
Dan benar saja, Lennon telah lebih dahulu bertanya dalam liriknya; imagine no possessions, wonder if you can? No need for greed or hunger.
Krisis Energi & Kemanusiaan
Sebenarnya dunia saat ini sedang mengalami “perang dunia terselubung” atau dalam istilah lain juga disebutkan sebagai “perang dunia ketiga yang bertahap”. Hal ini dapat dilihat dari eskalasi konflik yang terus meluas. Di Eropa ada invasi Rusia ke Ukraina yang belum benar-benar selesai. Di Asia Selatan; hubungan antara India dan Pakistan tidak dalam situasi normal, eskalasi perang sewaktu-waktu dapat terjadi. Tidak hanya itu, Pakistan juga dalam kondisi konflik di perbatasan dengan Afghanistan yang eskalasinya masih terjadi hingga saat ini.
Bergeser ke sisi lainnya yaitu Asia Barat atau biasa disebut sebagai kawasan Timur Tengah juga tidak dalam kondisi baik-baik saja. Kawasan ini menjadi kawasan yang tidak henti-hentinya mengalami peperangan. Perang antara Israel dan Palestina yang berkepanjangan telah menyeret banyak negara untuk terlibat. Belakangan, Israel juga menyerang beberapa negara di kawasan lainnya.
Terakhir serang tersebut diarahkan ke Iran dengan dukungan kuat Amerika Serikat. Konfilik antara Israel-Amerika Serikat dengan Iran ini telah mencapai tahap terbuka dan memberikan dampak yang signifikan pada kondisi ekonomi global; krisis energi dan kenaikan harga menjadi ancaman yang nyata bagi postur keuangan banyak negara. Hal ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang menyebabkan terganggunya 20% pasokan minyak dunia.
Tidak hanya problem energi dan ekonomi, praktik perang ini telah menjadi problem kemanusiaan. United Nations (UN/PBB) mencatat konflik yang terjadi pada tahun 2026 mengakibatkan angka kematian dan krisis kemanusiaan terburuk sejak Perang Dunia II, dengan lebih dari 45 juta orang terancam kelaparan akibat lonjakan harga pangan dan gangguan logistik.
Pada akhirnya, dunia yang ditempati oleh manusia ini adalah satu ruang yang tidak pernah benar-benar aman. Banyak dari manusia di dunia ini terjebak pada permainan dan senda gurau dunia itu sendiri. Moral (jika tidak ingin menyebutnya sebagai iman) dan pengetahuan tidak benar-benar menuntun manusia untuk melihat masa depannya.
Materialisme dalam moral dan pengetahuan hanya mengajarkan manusia untuk hidup hari ini secara pragmatis. Itu sebanyak, perang menjadi bagian dari eksistensi hegemonik yang harus terus dilakukan. Tanda itu ada dalam bentuk kesiap-siagaan; “si vis pacem, para bellum”. Lantas bagaimana kita mau membayangkan (imagine) dunia yang damai?
Para Iustitiam
Apa yang dibutuhkan dunia untuk damai? jawaban sederhananya adalah keadilan.
UN/PBB sejak didirikan tidak bisa menjadi forum keadilan bagi banyak negara di dunia. Selalu ada standart ganda yang membuat rasa keadilan tidak pernah tegak.
Kritik ini sudah lama diberikan kepada institusi pemersatu bangsa-bangsa ini. Namun hingga saat ini, belum ada satu langkah taktis apa-pun bagi negara-negara di luar Permanent Five (Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB; AS, Rusia, China, Prancis, Inggris) untuk menggugat posisi ketidakadilan yang diciptakan dalam struktur privilege hak veto.
Anehnya, belakangan justru muncul satu forum perdamaian baru yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donal Trump yang diberi nama Board of Peace (BoP). Forum yang dipimpin oleh negara yang tidak pernah serius dalam penciptaan kedamaian dan penegakan keadilan global bahkan cendrung mempunyai beragam standart ganda untuk meluluskan kepentingannya. Hal yang paling paradoks lainnya adalah member dari forum ini justru banyak diisi oleh negara-negara yang berpenduduk muslim; Indonesia, Arab Saudi, Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Uni Emirat Arab, Azerbaijan, Maroko, Bahrain, Uzbekistan, Kuwait.
Pertanyaan yang paling mendalam yang harus diajukan kembali adalah bagaimana cara kita menegakkan keadilan (para Iustitiam), jika kita sendiri telah bersekutu dengan orang yang tidak pernah sungguh-sungguh dalam keadilan?
Idul Fitri 1447 H
Idul Fitri 1447 H harus menjadi simbol harapan di tengah kegelapan perang yang terus membara. Harapan untuk lepas dari belenggu materialisme dunia harus dikuatkan kembali dengan membangun narasi taqwa yang transformatif bagi umat.
Puasa sebagai kewajiban bukan sebatas ritual keagamaan, tetapi ia dapat dijadikan sebagai filosofi ideologi yang membentuk penahanan diri (self-restraint) secara total dari hal-hal yang bersifat materialisme-pragmatis.
Jika nilai ideologi ini tidak bisa ditransformasikan maka kemanangan umat tidak akan pernah terjadi khususnya dalam alur paradigmatik yang menuntun kedamaian dan keadilan di masa depan. Kita akan terus tunduk dihadapan wajah kapitalisme global yang hegemonik dan rakus.
Lantas apakah pernyataan ini hanya sebatas ‘imagine’? You may say that I’m a dreamer, But I’m not the only one; itu yang dikatakan John Lennon diakhir-akhir lirik lagu imagine-nya.
Selamat Idul fitri, selamat bertransformasi. (*)


