✍️ M. Risfan Sihaloho
“Aku menangis karena tak punya sepatu, sampai aku bertemu dengan seorang laki-laki yang tak memiliki kaki.” ~ Saadi Shirazi
Pada suatu saat dalam hidup, kita pernah berdiri di hadapan kekurangan kecil yang terasa begitu besar. Kita memandangnya lama-lama, mengelus luka yang sebenarnya tidak terlalu dalam, lalu menyimpulkan bahwa hidup sedang tidak adil kepada kita.
Barangkali karena sepatu yang tak kita miliki.
Sepatu itu mungkin hanya benda sederhana: kulit yang dijahit, sol yang menempel, dan tali yang mengikat. Namun di dalam pikiran kita, ia menjelma menjadi simbol harga diri, kenyamanan, bahkan martabat. Tanpa sepatu itu, kita merasa dunia sedikit lebih keras dari biasanya.
Lalu kita mengeluh.
Keluhan itu seperti hujan kecil yang turun pelan-pelan dari langit hati. Ia tidak deras, tetapi cukup untuk membuat langit terasa muram. Kita berjalan dengan perasaan kurang, memandang orang lain dengan rasa iri yang samar, dan diam-diam merasa hidup terlalu berat.
Namun kehidupan sering memiliki cara yang sunyi untuk mengubah cara pandang manusia.
Di suatu tikungan tak terduga, kita bertemu dengan seseorang yang bahkan tidak memiliki kaki.
Pertemuan itu tidak selalu dramatis. Kadang ia terjadi begitu saja: di jalanan, di sudut pasar, di rumah sakit, atau dalam cerita yang tiba-tiba menampar kesadaran kita. Tetapi dampaknya seperti cahaya yang menembus jendela gelap.
Tiba-tiba kita melihat dunia dari arah yang berbeda.
Sepatu yang tadi terasa sangat penting mendadak kehilangan bobotnya. Yang sebenarnya berharga ternyata bukan sepatu itu, melainkan kaki yang selama ini kita gunakan untuk berjalan tanpa pernah benar-benar kita syukuri.
Betapa sering manusia lupa pada nikmat yang paling dekat dengannya.
Kita lupa pada kaki yang setia membawa kita menempuh perjalanan hidup. Kita lupa pada tubuh yang masih mampu bergerak, pada udara yang masih bisa kita hirup, pada pagi yang masih memberi kita kesempatan baru untuk memulai hari.
Kita terlalu sering memandang apa yang belum kita miliki, hingga buta terhadap apa yang sudah kita miliki.
Padahal hidup tidak pernah benar-benar kosong dari karunia.
Ada orang yang berjalan tanpa sepatu, tetapi ia masih memiliki kaki untuk melangkah. Ada orang yang hidup sederhana, tetapi hatinya lapang. Ada orang yang tidak memiliki banyak hal, tetapi ia memiliki kemampuan untuk tersenyum.
Sebaliknya, ada pula yang memiliki banyak sepatu—lemari penuh, merek mahal, dan kilau yang mengundang iri—namun tetap merasa hidupnya kurang.
Di situlah rahasia kehidupan yang sering luput dari perhatian: kebahagiaan tidak selalu tinggal di tempat yang penuh, melainkan di hati yang mampu melihat.
Saadi Shirazi seakan mengingatkan kita bahwa keluhan manusia sering lahir dari cara pandangnya sendiri. Dunia tidak berubah dalam satu pertemuan singkat, tetapi hati manusia bisa berubah dalam satu kesadaran.
Kesadaran bahwa hidup ini, betapapun sederhana, masih menyimpan begitu banyak nikmat.
Bahwa kaki yang kita gunakan untuk berjalan adalah karunia yang tak ternilai.
Bahwa jalan hidup yang kita tempuh—meskipun tidak selalu mulus—masih memberi kita kesempatan untuk melangkah.
Dan kadang-kadang, manusia baru belajar bersyukur setelah hidup mempertemukannya dengan seseorang yang lebih sunyi dari dirinya.
Seseorang yang tidak memiliki kaki, tetapi mungkin memiliki ketabahan yang jauh lebih kokoh daripada kita.
Di hadapan orang itu, keluhan kita menjadi kecil. Hampir tak terdengar.
Seperti tangis tentang sepatu yang tiba-tiba kehilangan alasan untuk jatuh. (*)


