✍️ Irfan Dahnial
Dosen FKIP UMSU
Kisah Nabi Yusuf AS yang diceritakan dalam Al-Qur’an sebenarnya bukan hanya cerita tentang kesabaran dan ujian hidup. Di dalamnya juga ada pelajaran besar tentang bagaimana sebuah masyarakat bisa bertahan menghadapi krisis. Ketika Nabi Yusuf menafsirkan mimpi raja di Mesir Kuno tentang tujuh tahun masa subur dan tujuh tahun masa paceklik, beliau tidak hanya memberikan tafsir mimpi. Beliau mengajarkan cara berpikir yang jauh ke depan. Saat panen melimpah, rakyat tidak disuruh berpesta atau menghabiskan semuanya. Mereka diajak menyimpan sebagian hasil panen untuk menghadapi masa sulit yang akan datang.
Bayangkan jika pada masa itu rakyat Mesir menghabiskan semua hasil panennya. Ketika masa paceklik datang, tentu akan terjadi kelaparan, keributan, bahkan mungkin perang karena memperebutkan makanan. Tetapi Nabi Yusuf mendidik rakyatnya untuk disiplin dan berpikir bersama. Mereka diajak memahami bahwa kehidupan tidak selalu berada pada masa senang. Ada waktunya lapang, ada waktunya sempit. Dengan cara berpikir seperti itu, masyarakat menjadi kuat dan negara pun tetap stabil.
Pelajaran ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini, terutama menjelang Lebaran. Biasanya ketika mendekati hari raya, suasana hati menjadi sangat gembira. Banyak orang menerima THR, hasil usaha meningkat, dan keinginan untuk membeli banyak hal pun muncul. Tidak sedikit yang merasa harus membeli pakaian baru, perabot baru, bahkan terkadang sampai memaksakan diri berutang demi terlihat “sempurna” di hari raya.
Padahal jika kita belajar dari Nabi Yusuf, masa ketika rezeki datang justru adalah waktu untuk berpikir bijak. Lebaran memang hari kemenangan dan hari bergembira. Namun kegembiraan tidak harus selalu diukur dengan banyaknya barang yang kita beli. Kebahagiaan Lebaran seharusnya datang dari rasa syukur, kebersamaan keluarga, dan hati yang tenang karena kehidupan setelah Lebaran tetap terjaga.
Di sinilah sebenarnya pendidikan dalam keluarga sangat penting. Anak-anak perlu diajarkan bahwa uang bukan hanya untuk dihabiskan, tetapi juga harus diatur. Ketika mereka menerima THR atau hadiah Lebaran, orang tua bisa mengajarkan untuk membaginya: sebagian untuk kebutuhan, sebagian untuk ditabung, dan sebagian lagi untuk bersedekah. Dengan cara sederhana seperti itu, anak-anak belajar tanggung jawab sejak dini.
Sebagai akademisi di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, pemikiran seperti ini juga sering saya sampaikan. Saya sering menekankan bahwa pendidikan tidak cukup hanya membuat anak pintar dalam pelajaran. Pendidikan juga harus membuat anak kuat dalam menghadapi kehidupan. Anak perlu dibentuk karakternya, diajarkan nilai tanggung jawab, kesederhanaan, dan kemampuan mengelola hidup dengan bijak.
Jika kita melihat lebih dalam, kisah Nabi Yusuf juga mengajarkan kebijaksanaan dalam berpikir. Beliau mampu membaca tanda-tanda masa depan dan mengambil keputusan yang tidak hanya menguntungkan dirinya sendiri, tetapi menyelamatkan seluruh masyarakat. Itulah yang dalam dunia pendidikan disebut sebagai berpikir filosofis: menggunakan pengetahuan untuk kebaikan bersama.
Maka menjelang Lebaran ini, ada baiknya kita merenung sejenak. Apakah kita hanya merayakan hari raya dengan membeli banyak hal, ataukah kita juga menjadikannya sebagai kesempatan untuk mendidik keluarga? Lebaran bisa menjadi momen untuk menanamkan nilai syukur, kesederhanaan, dan tanggung jawab kepada anak-anak.
Pada akhirnya, kisah Nabi Yusuf mengajarkan satu hal penting: masyarakat yang kuat tidak dibangun dalam satu malam. Ia dibangun melalui pendidikan, kebiasaan baik, dan cara berpikir yang bijak. Jika keluarga-keluarga kita kuat, mampu mengelola rezeki dengan baik, dan menanamkan nilai yang benar kepada anak-anak, maka masa depan masyarakat juga akan menjadi lebih kokoh.
Lebaran bukan hanya tentang kemenangan setelah berpuasa, tetapi juga tentang bagaimana kita memulai kehidupan yang lebih bijak setelahnya. Dan dari kisah Nabi Yusuf, kita belajar bahwa menjaga keseimbangan antara kegembiraan dan kebijaksanaan adalah salah satu kunci kehidupan yang penuh berkah. (*)






