Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Paman Sam: Halal No, Thayyib Yes

Mujaddid by Mujaddid
2026/02/26
in Uncategorized
Reading Time: 3 mins read
0
Paman Sam: Halal No, Thayyib Yes
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

✍️ Padian Adi S. Siregar

Ketua PC Muhammadiyah Kampung Durian-Medan

 

Perjanjian dagang terbaru antara Indonesia dan Amerika Serikat kembali memantik perdebatan lama yang tak pernah benar-benar usai: soal halal. Isu yang beredar menyebutkan bahwa produk makanan asal Paman Sam berpotensi masuk ke Indonesia tanpa sertifikat halal. Bagi sebagian kalangan, ini dipandang sebagai ancaman terhadap kedaulatan regulasi dan identitas keagamaan. Namun di balik kegaduhan tersebut, tersimpan paradoks yang lebih dalam: bagaimana jika produk yang tidak bersertifikat halal formal justru memenuhi prinsip thayyiban—baik, sehat, aman, dan etis?

Secara hukum, posisi Indonesia sebenarnya tegas. Produk makanan dan minuman yang wajib halal harus memiliki sertifikat resmi sesuai regulasi nasional. Artinya, tidak ada ruang legal untuk menghapus kewajiban tersebut. Namun kritik terhadap perjanjian dagang tidak berhenti pada aspek administratif. Sejumlah pengamat menilai, kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat berpotensi memperlemah posisi tawar Indonesia dalam menetapkan standar teknis, termasuk dalam urusan sertifikasi, pengawasan, dan perlindungan konsumen domestik.

Kritik lain muncul dari sisi ekonomi-politik. Perjanjian dagang kerap dituding lebih menguntungkan negara dengan kekuatan industri besar. Amerika Serikat memiliki kapasitas produksi pangan masif, efisiensi tinggi, dan dukungan teknologi yang sulit disaingi produsen lokal Indonesia. Kekhawatiran pun muncul: apakah pasar domestik akan dibanjiri produk impor murah? Apakah peternak dan pelaku usaha kecil dalam negeri mampu bersaing? Dalam konteks ini, isu halal menjadi simbol resistensi—bukan semata persoalan agama, tetapi juga perlindungan ekonomi nasional.

Namun persoalannya tidak sesederhana itu. Dunia pangan modern beroperasi dalam standar yang semakin kompleks. Keamanan pangan, pengujian laboratorium, pengendalian residu antibiotik, pelacakan rantai pasok, hingga kesejahteraan hewan menjadi bagian dari tata kelola industri global. Di sinilah konsep thayyiban menemukan relevansinya. Dalam tradisi Islam, makanan tidak cukup hanya halal; ia juga harus baik, tidak membahayakan, bergizi, dan diproduksi secara etis.

Amerika Serikat, terlepas dari kritik terhadap praktik industri tertentu, memiliki sejarah panjang dalam mendorong standar keamanan pangan dan nutrisi. Melalui organisasi seperti World Central Kitchen dan Project Healthy Children, bantuan makanan bergizi disalurkan ke berbagai wilayah terdampak bencana dan krisis. Sementara FoodCorps fokus pada edukasi gizi dan peningkatan akses pangan sehat bagi anak-anak sekolah. Inisiatif-inisiatif ini menekankan kualitas, keamanan, dan nilai gizi—unsur yang identik dengan prinsip thayyiban.

Lebih jauh lagi, diskursus tentang animal welfare di Amerika juga berkembang signifikan. Standar kesejahteraan hewan—mulai dari pemberian pakan yang layak, ruang gerak memadai, hingga metode penyembelihan yang meminimalkan penderitaan—menjadi perhatian dalam banyak skema sertifikasi. Secara substansi, ini selaras dengan semangat etika Islam yang melarang perlakuan zalim terhadap hewan. Paradoks pun mengemuka: produk tertentu mungkin belum bersertifikat halal menurut standar Indonesia, tetapi diproduksi dengan perhatian serius pada keamanan pangan dan kesejahteraan hewan.

Di titik inilah diskusi menjadi sensitif. Apakah halal formal harus menjadi satu-satunya parameter? Ataukah substansi—kesehatan, keamanan, dan etika—juga perlu diberi bobot setara? Tentu, bagi umat Islam, halal tetap merupakan kewajiban normatif yang tidak dapat dinegosiasikan. Namun menjadikan label halal sebagai satu-satunya ukuran kualitas berisiko menyederhanakan persoalan. Produk yang halal secara administratif belum tentu unggul secara nutrisi. Sebaliknya, produk yang belum tersertifikasi halal bisa saja memenuhi standar higienitas, keamanan, dan kesejahteraan hewan yang tinggi.

Kritik terhadap perjanjian dagang seharusnya tidak berhenti pada sentimen identitas atau kecurigaan politik. Ia perlu diarahkan pada penguatan sistem pengawasan nasional. Jika kekhawatiran adalah masuknya produk tanpa kontrol memadai, maka jawabannya adalah memperkuat kapasitas pengujian, transparansi, dan akuntabilitas. Jika kekhawatiran adalah perlindungan peternak lokal, maka kebijakan pendampingan dan insentif harus diprioritaskan. Perdebatan halal tidak boleh menjadi tirai yang menutupi persoalan struktural yang lebih besar.

Narasi “Paman Sam; Halal No, Thayyiban Yes” memang terdengar provokatif. Namun provokasi ini bukan untuk menegasikan halal, melainkan untuk mengingatkan bahwa substansi tidak boleh dikalahkan oleh formalitas. Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin integrasi dua konsep ini: memastikan kepatuhan halal sekaligus menegakkan standar thaiyyiban secara menyeluruh—termasuk keamanan pangan, kualitas gizi, dan kesejahteraan hewan.

Pada akhirnya, konsumenlah yang memegang peran kunci. Di era globalisasi, kecerdasan konsumsi menjadi kebutuhan mendesak. Masyarakat tidak cukup hanya bertanya, “Apakah ini halal?” tetapi juga, “Apakah ini sehat? Apakah ini aman? Apakah prosesnya etis?” Perjanjian dagang bisa saja membuka pintu impor, tetapi kualitas pilihan tetap berada di tangan publik.

Halal tetap wajib bagi yang meyakininya. Thayyiban adalah kebijaksanaan yang melengkapinya. Tanpa thayyiban, halal bisa menjadi simbol tanpa substansi. Tanpa halal, thayyiban mungkin kehilangan legitimasi normatif bagi umat beriman. Keduanya bukan lawan, melainkan dua pilar etika konsumsi. Dan mungkin, di tengah kontroversi perjanjian dagang ini, kita justru diingatkan untuk melihat persoalan secara lebih utuh—melampaui label, tanpa mengabaikan prinsip. (*)

 

 

Previous Post

Pemerintah sebagai “Necessary Evil” dan Urgensi UU Etika Pemerintahan

Next Post

Transisi Energi Buka Peluang Kerja Baru, Mahasiswa Disiapkan Masuki Green Jobs

Related Posts

Bahaya Mikroplastik Kian Nyata, Akademisi UM Bandung Ingatkan Ancaman Kesehatan Global

Bahaya Mikroplastik Kian Nyata, Akademisi UM Bandung Ingatkan Ancaman Kesehatan Global

27 November 2025
134
Ethics of Care: Etika Pejabat Terkikis, Jabatan Disalahgunakan

Ethics of Care Kritik Proyek Sekolah Garuda: Pemerintah Terjebak dalam Obsesi Infrastruktur

12 Oktober 2025
143
Sosiolog: Pertanian Indonesia Mati Karena Obsesi Istilah yang Tak Jelas

Sosiolog: Pertanian Indonesia Mati Karena Obsesi Istilah yang Tak Jelas

24 Juli 2025
144
Pentingnya Kolaborasi Lintas Agama dan Budaya untuk Pembangunan Lingkungan Berkelanjutan di Sawahlunto

Pentingnya Kolaborasi Lintas Agama dan Budaya untuk Pembangunan Lingkungan Berkelanjutan di Sawahlunto

23 Februari 2025
180
Ketua IKA UMSU Jabodetabek Sampaikan Ucapan Selamat kepada Ribuan Wisudawan UMSU

Ketua IKA UMSU Jabodetabek Sampaikan Ucapan Selamat kepada Ribuan Wisudawan UMSU

18 Desember 2024
195
Pimnas 2024: UMSU Satu-Satunya PTS di Sumut yang Raih Medali

Pimnas 2024: UMSU Satu-Satunya PTS di Sumut yang Raih Medali

22 Oktober 2024
154
Next Post

Transisi Energi Buka Peluang Kerja Baru, Mahasiswa Disiapkan Masuki Green Jobs

Diskusi Publik IMM DKI Jakarta: Kepemimpinan Pramono-Rano Dinilai Berhasil dan Layak Diapresiasi

Diskusi Publik IMM DKI Jakarta: Kepemimpinan Pramono-Rano Dinilai Berhasil dan Layak Diapresiasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
108
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
116

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan