Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Senewen

Mujaddid by Mujaddid
2022/03/15
in Cerpen
Reading Time: 12 mins read
0
Senewen

Ilustrasi. (net)

Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

“Pak…… Mbok ya, jangan melamun terus kayak gitu terus. Setiap pagi kok, Bapak selalu seperti ini. Eling, Pak, sama Gusti Pangeran. Jangan seperti ini terus,” Bu Rina mencoba menasehati suaminya.

“Apa to, Bu. Aku baru dzikir kok malah dianggap sebagai tindakan yang sia-sia. Bagus, to, Bu ne, kalau ingat kepada Gusti Pangeran sejak pagi begini. Nanti waktu beraktivitas bisa plong dan hatinya ringan.”

“Ya…… dzikir itu bagus, Pak. Tapi ya, Bapak pagi-pagi jangan ngalamun gini. Enggak bagus, Pak. Nanti kalau ada setan lewat dan Bapak kesambet gimana? Kan aku juga yang repot.”

“Ah, setan ya malah takut to ya sama orang baru dzikir. Masak, mendekat ke Gusti Pangeran kok enggak oleh, lho, Bu ne, ni aneh. Udah, Bu, aku mau dzikir dulu ini. Biar khusyuk jangan diganggu.”

“Oalah, Pak…… apa ya tiap hari sampai besok nyawa sampeyan diambil sama Gusti Pangeran mau begini terus, Pak. Mbok udah, Pak yang legowo. Cuma kalah dari di pemilihan enggak usah dipikirkan terus. Itu kan udah setahun yang lalu. Nanti malah bisa jadi penyakit, Pak, takutnya kalau dijadikan beban pikiran terus-terusan.”

“Ya, gimana ya, Bu ne, Bapak itu selama ini udah kerja keras lho demi warga sini. Enggak kenal waktu ini mikirin warga dari dulu, tapi kok ya dua kali pemilihan kok ya kalah terus. Aku kecewa sama warga sini kok enggak bisa menangin aku. Apa jangan-jangan itu kuwu menang karena curang ya? Jangan-jangan dia bikin permainan di belakang?”

“Enggak baik, Pak, suuzan gitu. Bapak kan enggak punya bukti kalau Pak Kuwu menang di pemilihan karena curang. Mungkin belum rezekinya Bapak untuk pemilihan dua kali ini, Pak. Bapak fokus mengabdi secara istiqomah saja, Pak. Jangan mengharap imbalan apapun seperti dukungan untuk meraih jabatan yang lebih tinggi. Dilosno, ae, Pak. Yang lalu sudahlah. Kita sambut yang akan datang dengan lebih baik, Pak. Bapak fokus amanah sebagai bayan dusun ini aja. Kawula dusun sini tu cinta lho sama, Bapak. Buktinya pemilihan kemarin kan Pak Kuwu kalah suara di dusun ini, Pak.”

“Ah….. ya enggak bisa kaya ngono. Kawula dusun ini tu kalau memang cinta sama aku harusnya semangat mengkampanyekan prestasiku ke warga dusun lain. Enggak kayak begini, aku yang babak bundas gerak dhewe. Udah….. lah aku kecewa berat sama warga dusun sini. Begitu pula sama para penggede desa ini. Aku sekarang kerja tak niati untuk ngasih makan anak-istri aja. Enggak usah terlalu mikir tentang tanggungjawab dan harus berprestasi atau enggak? Toh, penggede lain juga pada begitu. Aku tahu itu penggede suka nyari pundi-pundi dari proyek-proyek desa, aku sebenarnya pengen buka masalahnya. Tapi, ya sudah lah kawula juga enggak peduli sama nasibku kok. Jadi, ya bodo amat lah…..” Pak Buat menunjukan kekesalan atas situasi di desanya.

“Ya….. jangan begitu, Pak. Kerja untuk rakyat harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Harus amanah. Jangan kerja sekadar kerja, Pak. Lebih bagus kalau berprestasi dan Bapak bikin terobosan untuk penyelesaian masalah, Pak. Jangan sampai kejadian lagi nanti, Pak, seperti kemarin kawula dusun sini langsung ngamuk ke kantor kalurahan. Kan enggak enak, Pak, kita dianggap sama penggede desa tidak bisa jaga keharmonisan masyarakat. Itu ada anggapan lho…. Bapak dianggap sudah tidak bisa ngemong kawula,” Bu Rina mengingatkan suaminya mengenai bahaya terus terjebak dalam kekalutan.

“Ah, ya biar saja. Itu para kawula ngamuk kan juga hak mereka. Itu para penggede bilang gitu ya biar kepentingan mereka tidak diganggu saja. Mereka tidak mau kalau kedudukannya diusik. Mereka kan maunya kawula tu ya nurut sama junjungannya. Sekarang biar para penggede itu tahu rasa. Biar mereka mengerti kalau apa yang mereka kerjakan tu berdampak ke warga. Masak mereka aja enggak peduli ke kawula, tapi kok cuma aku aja yang suruh gerak. Ogah lah……”

“Enggak enak, Pak, kalau waktu aku ngumpul sama istri para penggede, keluarga kita selalu jadi bahan perbincangan. Masak aku sebagai istri dianggap enggak bisa membujuk Bapak untuk bisa menenangkan masyarakat. Bapak jangan gitu lah, sebagai pemimpin itu harus jadi teladan, Pak.”

“Ah, Bu ne, enggak perlu risau dengan ocehan seperti itu. Biar kan, Bu. Ingat anjing menggonggong kafilah berlalu, Bu. Bapak juga udah capek kerja beneran berusaha memperjuangkan aspirasi warga dusun sini. Bapak tidak pernah didengar di setiap forum rembugan kebijakan desa. Para penggede itu bikin pertemuan cuma untuk stempel rencana yang sudah mereka susun sebenarnya, Bu. Itu daftar hadir dan berita acara selalu diklaim sebagai bukti partisipasi warga, Bu. Warga yang diundang ya yang punya kedudukan baik secara kekayaan maupun sosial di dusun masing-masing, Bu. Kawula alit mana pernah diberi undangan forum rembugan itu. Udah lah, Bu, aku mau berangkat ke kantor. Assalamualaikum…..” Pak Buat pamit kepada istrinya dan beranjak dari kursi tamu.

“Loh eeeee, Bapak mau kemana, Pak? Kok bilang mau ke kantor. Pak, bukannya hari ini kalurahan tutup? Itu Pak Carik sama Pak Kuwu kan baru punya hajatan. Anaknya Pak Carik sama Pak Kuwu kan menikah hari ini, Pak. Ayo… datang ke tempat Pak Carik. Pak,” Bu Rina mengingatkan dan mencegah suaminya untuk pergi.

“Hah kok ditutup-tutup barang lo? Ini para penggede gimana sih kok sibuk dengan urusannya sendiri. Duwe gawe kok waktu hari kerja gini. Duh….. enggak tahu adab, tak bertanggungjawab gini kok nyuruh aku untuk ngemong warga dusun sini dengan baik. Lha…. mereka aja malah utamakan kepentingan mereka sendiri kok….” Pak Buat semakin kesal dengan para penggede desa setelah mendengar kabar adanya hajatan Pak Carik di hari kerja.

“Hush, jangan gitu, Pak. Ayo, Pak, kita datang ke hajatan anaknya Pak Carik. Itung-itung sekalian Bapak menyambung tali silaturahmi dengan penggede yang lain. Kan jadi enak dan rasanya adem ayem, kalau Bapak terlihat akur dengan penggede lain di mata para kawula. Barangkali Bapak bisa islah dan semakin bisa jadi tauladan bagi masyarakat.”

“Ah, enggak mau. Enggak dikasih undangan kok datang. Udah enggak usah, Bu. Jangan melihat sesuatu itu cuma dari seremoninya saja, Bu. Terlihatnya sudah islah, tapi kalau di dalam hatinya masih pada belum bisa melapangkan ya susah, Bu ne.”

“Sudah, Pak, datang saja. Bapak yang memulai menyambung tali silaturahmi. Itu kan bagus, Pak. Bisa memperpanjang umur dan memperkuat persaudaraan sesama hamba-Nya.”

“Bu ne ki jangan ngeyel toh, udah dibilang enggak diberi undangan kok mau datang. Nanti kalau malah jadi buah bibir warga lagi gimana? Nanti dibilang…… Tuh, Pak Buat sama istrinya enggak dikasih undangan kok datang ke hajatan. Kan aku jadi semakin malu, Bu.”

“Kita itu diundang sama istrinya Pak Carik, Pak. Kami para istri ingin para suami ingin menyambung silaturahmi satu sama lain. Hubungan renggang seperti ini harus diakhiri, Pak. Enggak bisa terus-terusan begini. Kita tidak bisa hidup sendiri, Pak.”

“Loh…. istrinya yang ngundang, ya yang datang Bu ne aja. Pak Carik aja enggak undang aku kok.”
“Ya enggak gitu, Pak, kita berdua yang diundang.”

“Emangnya Bu Carik bilang ke suaminya kalau mau ngundang aku? Kalau bilang paling enggak bakal dikasih….”

“Memang beliau enggak izin ke suaminya, tapi ini kan demi hal baik, Pak, untuk menyambung tali silaturahmi.”

“Lho……. enggko sek, hal baik gimana? Bu Carik aja bikin keputusan tanpa dirembug dulu dengan suaminya. Enggak baik itu kalau istri bikin keputusan sendiri tanpa persetujuan suami. Setiap keputusan di dalam keluarga harus diputuskan bersama. Jangan secara sepihak, apalagi sembunyi-sembunyi gitu. Itu enggak benar, Bu. Enggak usah ditiru dan diikuti itu.”

“Pokoknya, Bapak harus mau menyambung silaturahmi dengan penggede yang lain. Aku udah enggak kuat, Pak, dengan itu gunjingan tentang hubungan para penggede yang dikira sudah renggang. Bagaimana pun jua, Bapak harus nurut sekali ini saja. Ini kan juga, demi kebaikan kita sebagai bagian dari para penggede, Pak.”

“Enggak ya enggak, udah dibilang enggak ada undangan kok. Udah lah aku mau nengokin kolam aja.”

“Pokoknya Bapak harus nurut, ayo….. berangkat, Pak,” Bu Rina meraih tangan Pak Buat dan memaksanya untuk mau menghadiri hajatan pernikahan anak Pak Carik dengan Pak Kuwu.

Page 2 of 3
Prev123Next
Tags: Anggalih Bayu Muh KamimcerpenSenewen
Previous Post

Puisi~puisi Anggalih Bayu Muh Kamim

Next Post

Puisi~puisi Riska Widiana (3)

Related Posts

Engkolisme

Engkolisme

11 Mei 2026
184
Azmi Syahputra: Legal Opinion adalah Resonansi Nurani Hukum

Azmi Syahputra: Legal Opinion adalah Resonansi Nurani Hukum

9 November 2025
220
UM Bandung Libatkan Dinkes dan Praktisi UMKM dalam Pembekalan KKN 2025

UM Bandung Libatkan Dinkes dan Praktisi UMKM dalam Pembekalan KKN 2025

2 Agustus 2025
155
Keluarga yang Sederhana

Keluarga yang Sederhana

1 Oktober 2023
295
Pidato 6 Bahasa Santri PontrenMu Darul ‘Ulum Majenang Meriahkan Pembukaan Musyda Muhammadiyah dan Aisyiyah Cilacap

Pidato 6 Bahasa Santri PontrenMu Darul ‘Ulum Majenang Meriahkan Pembukaan Musyda Muhammadiyah dan Aisyiyah Cilacap

29 Mei 2023
449
Mengharap Mentari

Mengharap Mentari

29 April 2023
299
Next Post
Puisi~puisi Riska Widiana (3)

Puisi~puisi Riska Widiana (3)

UMJ dan STIKes Muhammadiyah Tegal Sepakati Kerjasama

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
107
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan