No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result
Home
Esai

Etos Keilmuan Para Astronom Muslim

Oleh: Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar

by Mujaddid
6 Desember 2019
in Esai, Islam, Keislaman
Reading Time: 3 mins read
0
0
Ilustrasi Astronomi Islam.

Ilustrasi Astronomi Islam.

0
SHARES
272
VIEWS
Share on Facebook
Share on Twitter

Menurut Ibn Khaldun (w. 808/1405), astronomi adalah ilmu yang mengkaji gerak planet-planet ‘diam’, planet-planet ‘pengembara’ dan planet-planet yang ‘berbolak-balik’ di angkasa. Sementara menurut Mohamad Ahmad Sulaiman (w. 1435/2014), astronomi adalah ilmu yang mengkaji segala sesuatu yang berkaitan dengan alam semesta berupa benda-benda langit di luar atmosfir bumi seperti matahari, bulan, bintang, sistem galaksi, planet, satelit, komet dan meteor dari segala asal-usul, gerak, fisik dan kimianya dengan menggunakan hukum-hukum matematika, fisika, kimia dan bahkan biologi.

Ilustrasi Astronomi Islam. (foto: alcetron)

Secara garis besar, ada 5 kontribusi besar peradaban Islam di bidang astronomi, yaitu: (1) instrumen-instrumen astronomi, (2) observatorium, (3) tabel astronomi (zij), (4) mikat, dan (5) literatur-literatur. Tidak dipungkiri, segenap kontribusi itu dilahirkan oleh karena etos dan nalar saintifik yang besar sebagai dimiliki para astronom dan ilmuwan Muslim. Etos-etos itu adalah: pencari kebenaran, kejujuran dan orisinalitas, Kosmopolitanisme dan Universalisme, keterbukaan dan apropriasi, dan kritisisme.

 

Pencari Kebenaran.

Mengamati langit bagi seorang astronom Muslim merupakan upaya menerjemahkan ayat-ayat Allah di segenap semesta. Dalam beberapa ayat-Nya juga tampak bahwa pengamatan terhadap alam semesta merupakan bagian dari perintah Allah. Semangat al-Qur’an adalah semangat mengungkapkan kebenaran. Semangat ini ditangkap dan diinternalisasikan oleh para astronom Muslim sedemikian rupa sehingga begitu serius mempelajari astronomi dari berbagai aspek dan tradisi lalu mengembangkannya dengan segenap penemuan, dan lantas mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Kejujuran dan Orisinalitas.

Tidak diragukan bahwa para astronom Muslim memiliki intensitas yang tinggi dalam menulis karya sebagai hasil pengamatan dan perenungannya terhadap langit. Nilai-nilai yang ditekankan dalam kode etik penulisan para astronom Muslim adalah kejujuran dan orisinalitas. Salah satu rintisan sarjana astronomi Muslim klasik yang diwariskan kepada dunia astronomi sampai hari ini adalah ditumbuhkannya tradisi penyebutan tokoh terdahulu sebagai apresiasi keilmuannya. Sebelum peradaban Islam, belum ada kode etik bahwa seorang astronom yang mengutip harus menyebutkan nama penulis dan sumber yang dikutipnya. Ibn Majdi (w. 850/1446), astronom Muslim asal Mesir, dalam salah satu karyanya “Ghunya al-Fahīm wa ath-Tharīq Ilā Hall at-Taqwīm” (Analisis Komprehensif dan Tata Cara Penguraian Penanggalan) tercatat menukil dan menyebut beberapa tokoh astronomi senior seperti Kusyyār al-Jīlī (w. ± 350/961), Nashiruddin al-Thūsī (w. 672/1272), Ibn Syāthir (w. 777/1375). Materi yang dikutip berupa pembahasan ru’yah al-hilāl. Apa yang dilakukan Ibn Majdi agaknya belum dimiliki oleh sarjana-sarjana astronomi pra Islam. Ptolemeus misalnya tidak merasa berkewajiban untuk menyebutkan sumber-sumber pengamatan dan penelitiannya beserta silang pendapat yang ada diantara tokoh-tokoh yang ia bahas.

 

Kosmopolitanisme dan Universalisme

Sarjana astronomi Muslim memiliki etos keterbukaan dan kosmopolitan yang dapat menerima berbagai tradisi keilmuan astronomi dari beragam peradaban. Sikap ini sejalan dan merupakan pengejawantahan sabda Nabi Saw “ambillah hikmah itu dari mana saja berasal”. Sikap keterbukaan-kosmopolitan ini pada akhirnya menyebabkan para astronom Muslim mampu mengembangkan sains astronomi dan ikut memberi kontribusi besar bagi peradaban dunia.

Ilustrasi Astronomi Islam.

Keterbukaan dan Apropriasi 

Para ilmuwan muslim terkhusus yang mendalami astronomi tidak canggung melahap manuskrip-manuskrip astronomi dari India, Persia dan Yunani. Itu dilakukan tanpa ada ketakutan akan terlebur dalam paradigma atau cara pandang perdaban-peradaban pra-Islam tersebut. Para astronom Muslim dengan penuh percaya diri membuka diri untuk disapa oleh teks-teks asing yang mungkin saja bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Mereka membaca karya-karya Hindu asal India, Zoroaster asal Persia, paganisme dari Harran (Suriah), Hellenisme asal Iskandariah, ataupun Nasrani asal Romawi. Mereka juga terbiasa bekerja sama dengan sarjana-sarjana Nasrani, Yahudi, dan Hindu dalam menyusun karya-karya ilmiah mereka. Penerjemah ulung Hunain bin Ishaq adalah sarjana beragama Nasrani, ia banyak menrjemahkan karya-karya astronomi dari Yunani. Al-Biruni juga berkolaborasi dengan sarjana-sarjana Hindu selama 13 tahun di India dalam menyusun buku berjudul “Tahqiq Ma li al-Hind Min Maqulah Maqbulah fi al-‘Aql au Mardzulah”, sebuah karya ensiklopedis yang sangat sistematis dan komprehensif tentang sejarah dan sosiologi India.

Namun yang menarik para astronom Muslim ini justru mereka melakukan proses kreatif terhadap berbagai tradisi keilmuan pra-Islam tersebut, yaitu dengan melakukan sintesis yang melahirkan bangunan ilmu pengetahuan yang benar-benar baru, yaitu astronomi Islam.

 

Kritisisme.

Dalam khazanah intelektual peradaban Islam, tradisi kritik tampaknya merupakan fenomena umum yang berlaku ketika itu. Tak terkecuali, tradisi ini tumbuh subur dikalangan sarjana astronomi Muslim klasik. Fenomena dialog, debat, diskusi, dan saling kritik merupakan hal lazim ketika itu. Ibn Sina (w. 428/1037) dan al-Biruni (w. 440/1048) misalnya, keduanya pernah saling berdebat tentang berbagai hal mulai dari persoalan astronomi, fisika, matematika, sampai filsafat. Al-Biruni mengkritik keras aliran peripatetik dalam banyak segi yang justru didukung kuat oleh Ibn Sina. Al-Biruni juga mengkritik beberapa doktrin fisika peripatetik Aristotelian, misalnya tentang masalah gerak, gravitasi, ruang, dan materi. Namun, pada saat yang sama , dua tokoh besar inipun pernah saling berkorespondensi dalam banyak hal yang mereka sepakati bersama. Hal ini tidak lain menunjukkan kesadaran intelektual yang tinggi. Dalam satu hal keduanya berdebat dan saling mengkritik, namun dalam satu hal lainnya keduanya dapat berdiskusi.

Salah satu bentuk etos kritisisme sarjana Muslim adalah tumbuhnya tradisi revisi suatu terjemahan yang dilakukan lebih dari satu kali. Hal ini dilakukan dalam rangka melahirkan versi terjemahan yang lebih efektif dan autentik. Di sini, semangat kritisime sarjana Muslim berkorelasi erat dengan etos pertanggungjawaban ilmiah guna mengungkap kebenaran sejatinya. (*)


Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, Dosen UMSU dan Kepala Observatorium Ilmu Falak (OIF) UMSU

 

Tags: astronomiastronomi islamilmu falakOIF UMSU

Related Posts

OIF UMSU Gelar Pengamatan dan Shalat Gerhana Bulan
Daerah

OIF UMSU Gelar Pengamatan dan Shalat Gerhana Bulan

4 Maret 2026
41
Pemko Medan Gandeng OIF UMSU Pantau Hilal Awal Ramadan 1447 Hijriah
Daerah

Pemko Medan Gandeng OIF UMSU Pantau Hilal Awal Ramadan 1447 Hijriah

18 Februari 2026
47
UMSU dan Universiti Malaya Malaysia Gelar Seminar Ilmu Falak
Internasional

UMSU dan Universiti Malaya Malaysia Gelar Seminar Ilmu Falak

26 November 2025
45
UMSU Gelar Live Streaming “Harvest Blood Moon” Kolaborasi 4 Negara
Internasional

UMSU Gelar Live Streaming “Harvest Blood Moon” Kolaborasi 4 Negara

7 September 2025
50
Internasional

Kepala OIF UMSU Lakukan Perjalanan Akademik ke Mesir

1 Oktober 2024
69
OIF UMSU Riset Naskah Falak Abad 9 H/15 M di Mesir
Internasional

OIF UMSU Riset Naskah Falak Abad 9 H/15 M di Mesir

1 Oktober 2024
89

Recent Posts

  • FISIP UMSU FC Tampil di Piala Rektor 2026, Bawa Semangat Kebersamaan dan Riang Gembira
  • Perkuat Ekosistem Digital Kampus, Rektor UMSU Temui Menteri Komdigi Meutya Hafid
  • Jadi Kontingen Terbesar di ASEAN, UMSU Utus 47 Mahasiswa Kuliah dan Studi Pengalaman di Malaysia
  • Menuntaskan Perjalanan, Menjaga Keteladanan
  • Analisis Faksionalisme, Akomodasi Politik, dan Paradoks Pelembagaan: Studi Kasus Partai Golkar Sumatera Utara

Recent Comments

  1. Waras mengenai Unik dan Edukatif, MuTu Fest Membatik SD Muhammadiyah 1 Bancar Kenalkan Batik Tulis pada Anak TK dan RA
  2. Waras mengenai Unik dan Edukatif, MuTu Fest Membatik SD Muhammadiyah 1 Bancar Kenalkan Batik Tulis pada Anak TK dan RA
  3. Ashsaism mengenai IMM Sumsel Dukung Zaki Nugraha jadi Caketum pada Muktamar IMM XX Palembang
  4. Ay mengenai Temanku
  5. Akuntansi mengenai Dukung Swasembada Pangan Nasional, Penyuluh Pertanian OKUT Normalisasi Saluran Irigasi

Follow TAJDID.ID on:

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

© 2026 JNews – Premium WordPress News & Magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?
Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required.
Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.