Hal senada juga disarankan oleh Omer Taspinar (Fighting Radicalism, Not “Terrorism”: Root Causes of an International Actor Redefined, 2016) yakni soft terapi dengan bertumpu kepada pembangunan manusia melalui pemerataan. Sama sekali tidak diperlukan persenjataan dan pasukan karena akarnya ada pada ketidak-adilan global.
Jangan lupa, bahwa ketaatan terhadap Islam sama sekali bukan ancaman bagi demokrasi, karena itu tindakan anti marginalisasi dan anti inklusi adalah terapi ampuh yang harus dikerjabersamakan seluruh pemerintahan di dunia.
Dua abad terakhir kolonialisme Barat mengembangkan dan meyakinkan mayoritas wilayah budaya dunia bahwa lembaga negara terbaik dan terkuat berakar pada ideologi negara nasional dan ekonomi pasar bebas.
Setelah berakhirnya Perang Dingin, posisi yang sama telah diperbarui melalui inspirasi ideologis yang lebih luas berdasarkan superioritas etis dari sistem demokrasi termasuk juga sikap neoliberalis ekonomi, yang berbeda dengan nilai-nilai sebelumnya.
Secara paralel, dan dengan runtuhnya Uni Soviet, umumnya mengidentifikasi agama Islam dalam sikap yang paling konservatif dan fundamentalis, meskipun dieksploitasi pada 1980-an selama konfrontasi militer terakhir melawan Rusia di Afghanistan, menjadi, dalam narasi populer AS dan imajinasi kolektif, musuh baru. Sikapnya yang anti-global dan anti-Barat digambarkan, disajikan dan dianalisis, dengan kelompok-kelompok teroris dilarang sementara mereka digambarkan secara ideologis. Narasi ini itu sangat takberdasar, artifisial.
Pemikiran Konservatif baru di AS terutama sejak tahun 1970-an, dan dengan kepercayaan tinggi atas teori “Clash of Civilization,” secara umum telah mensahkan Islam dan kekerasannya sebagai ancaman bagi Perdamaian Dunia.
Meskipun terorisme global Islam (al-Qaeda) mulai muncul melalui serangan teroris di Kenya dan Tanzania (1998), narasi tentang ketidakmampuan Islam “umum” untuk menjadi bagian dari komunitas dunia, ketidakmampuan anti-global mereka untuk percaya pada sebuah “dunia Jamak”, semuanya dijadikan sebagai narasi untuk mensahkan tindakan-tindakan anti kebersamaan dalam tatanan hidup bersama satu jagad, satu mata hari, satu rembulan. Justru yang terjadi malah peluncuran perang aneh untuk pemusnahan melalui bentuk baru kolonialisme budaya.
Universidad de Navarra di Spanyol beberapa hari ke depan akan menyelanggarakan sebuah kajian serius “The Narrative of Islamic violence in History. Creation, artifice and reality”. Dari keterangan tentang kegiatan ini kelihatannya forum itu ingin menantang pakem-pakem pemikiran yang selama ini didominasi oleh Barat.
Forum seperti ini sangat langka di dunia dan ketika dunia mengharapkan keadilan itu artinya penghargaan atas setiap orang dengan segenap nilai dan agama yang dipeluknya tidak boleh diabaikan sama sekali. (*)
Penulis adalah Dosen FISIP UMSU dan Koordinator n’BASIS