Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Surga Anak-anak

Oleh: Naguib Mahfouz

Mujaddid by Mujaddid
2019/08/07
in Cerpen
Reading Time: 6 mins read
0
Surga Anak-anak
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

“Bapak!”
“Ya?”
“Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama.”
“Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu.”
“Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang.”
“Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan.”
“Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain.”

Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan ia berkata sambil juga tersenyum:

“Itu hanya pada pelajaran agama saja.”
“Kenapa, Pak?”
“Karena kau punya agama sendiri dan ia punya agama lain.”
“Bagaimana sih, Pak?”
“Kau Islam dan ia Kristen.”
“Kenapa?”
“Kau masih kecil, nanti akan mengerti.”
“Saya sudah besar sekarang.”
“Masih kecil, Sayangku.”
“Kenapa saya seorang Islam?”

Ia harus lapang dada dan harus hati-hati. Juga tidak mempersetankan pendidikan modern yang baru pertama kali diterapkan. Dan ia berkata:

“Bapak dan Ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam.”
“Dan Nadia?”
“Bapak dan ibunya Kristen. Sebab itu ia juga Kristen.”
“Apa karena bapaknya berkacamata?”
“Bukan. Tak ada urusannya kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen.”

Ia berusaha mengikuti silsilah kakek-kakeknya sampai entah tak ada batasnya, agar anak itu bosan dan mengalihkan percakapan ke arah lain. Tapi sang anak bertanya:

“Siapa yang lebih baik?”

Ia berpikir sejenak, lalu berkata:

“Orang Islam baik dan orang Kristen juga baik.”
“Tentu salah satu ada yang lebih baik.”
“Ini baik dan itu juga baik.”
“Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama?”
“Oo tidak, Sayang, itu tidak bisa. Tiap orang tetap harus seperti bapak dan ibunya.”
“Tapi kenapa?”

Memang betul, pendidikan modern itu keji juga! Dan ia bertanya:

“Apa tidak tunggu saja sampai kau besar nanti?”
“Tidak.”
“Baiklah, kau tahu mode kan? Seseorang bisa menyenangi mode tertentu, dan orang lain menyenangi mode lain. Bahwa kau orang Islam, itu artinya mode terakhir. Sebab itu kau harus tetap Islam.”
“Jadi, Nadia itu mode lama?”

Hmm, jangan-jangan Tuhan akan menjewermu bersama Nadia pada hari yang sama. Tampaknya ia telah melakukan kesalahan, betapapun ia sudah berhati-hati. Dan ia merasa seperti didorong tanpa ampun ke sebuah leher botol. Katanya:

“Masalahnya adalah selera. Tapi tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”
“Apakah dapat saya katakan pada Nadia, bahwa ia mode lama dan saya mode baru?”

Segera ia memotong:

“Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga.”
“Kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas yang lain?”
“Di sini Allah disembah dengan cara tertentu, dan di sana dengan cara lain.”
“Apa bedanya, Pak?”
“Nanti tahun depan kau akan mengetahuinya, atau tahun berikutnya lagi. Sekarang kau cukup tahu saja, bahwa orang Islam itu menyembah Allah dan orang Kristen juga menyembah Allah.”
“Siapa sih Allah, Pak?”

Jadinya ia berpikir agak lama juga. Lantas ia bertanya untuk sekadar mengulur waktu:

“Apa kata Bu Guru di sekolah?”
“Ia membaca surat-surat dari Al-Qur’an dan mengajari kami sembahyang. Tapi saya tidak tahu siapa Allah itu.”

Ia berpikir lagi, sambil tersenyum agak remang. Katanya:

“Ia yang menciptakan dunia seluruhnya.”
“Seluruhnya?”
“Ya, seluruhnya.”
“Apa artinya mencipta?”
“Yang membuat segala sesuatu.”
“Bagaimana caranya?”
“Dengan kekuasaan yang agung sekali.”
“Dimana Ia tinggal?”
“Di dunia seluruhnya.”
“Dan sebelum ada dunia?”
“Di atas.”
“Di langit?”
“Ya.”
“Saya ingin melihat-Nya.”
“Tidak bisa.”
“Meskipun melalui televisi?”
“Ya, tidak bisa juga.”
“Tak seorang pun bisa melihat-Nya?”
“Tak seorang pun.”
“Bagaimana Bapak tahu Ia ada di atas?”
“Begitulah.”
“Siapa yang kasih tahu Ia di atas?”
“Para nabi.”
“Para nabi?”
“Ya, seperti nabi kita Muhammad.”
“Bagaimana caranya?”
“Dengan kesanggupan yang khas ada padanya.”
“Kedua matanya tajam sekali?”
“Ya.”
“Kenapa begitu?”
“Allah menciptakannya begitu.”
“Kenapa?”

Dan ia menjawab sambil menahan kesabarannya:

“Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”
“Dan bagaimana nabi melihat-Nya?”
“Agung sekali, kuat sekali, dan berkuasa atas segala sesuatu.”
“Seperti Bapak?”

Ia menjawab sambil menahan tawanya:

“Ia tak ada bandingannya.”
“Kenapa Ia tinggal di atas?”
“Bumi tak bisa memuat-Nya. Tapi ia bisa melihat segala sesuatu.”

Anak kecil itu diam sebentar, lalu katanya:

“Tapi Nadia bilang, Ia tinggal di bumi.”
“Karena Ia tahu dan melihat segala sesuatu, maka seolah-olah Ia tinggal di mana-mana.”
“Dan ia juga bilang, orang-orang telah membunuh-Nya.”
“Tapi Ia hidup dan tidak mati.”
“Nadia bilang, orang-orang itu telah membunuh-Nya.”
“Tidak, Sayang. Mereka mengira telah membunuh-Nya. Tapi ia hidup dan tidak mati.”
“Dan kakekku masih hidup juga?”
“Kakekmu sudah meninggal.”
“Apa orang-orang juga telah membunuhnya?”
“Tidak, ia meninggal sendiri.”
“Bagaimana?”
“Ia sakit, dan kemudian meninggal.”
“Dan adikku juga akan meninggal karena ia sakit?”

Keningnya mengerenyit sebentar, sementara ia melihat gerak semacam protes dari arah istrinya.

“Tidak. Insya Allah ia akan sembuh.”
“Dan kenapa Kakek meninggal?”
“Sakit dalam ketuaannya.”
“Bapak pernah sakit dan Bapak juga sudah tua. Kenapa tidak meninggal?”

Tiba-tiba ibunya menghardiknya. Anak itu jadi heran tak mengerti, sebentar matanya ditujukan pada ibunya, sebentar lagi pada ayahnya. Kata sang ayah:

“Kita semua akan mati kalau Tuhan menghendakinya.”
“Kenapa Tuhan menghendaki agar kita semua mati?”
“Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”
“Apa mati itu menyenangkan?”
“Tidak, Sayang.”
“Kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan?”
“Selama Tuhan yang menghendaki begitu, itu artinya baik dan menyenangkan.”
“Tapi tadi Bapak bilang, itu tidak menyenangkan.”
“Hmm, Bapak keliru tadi.”
“Dan kenapa Ibu marah waktu saya bilang bahwa Bapak akan mati?”
“Karena Tuhan belum menghendaki begitu.”
“Kenapa Ia menghendaki begitu, Pak?”
“Dialah yang membawa kita ke dunia, dan Dia pula yang membawa kita pergi.”
“Kenapa?”
“Agar kita berbuat baik di dunia sebelum kita pergi.”
“Kenapa kita tidak tinggal saja terus di dunia?”
“Nanti tak akan muat dunia kalau semua orang tinggal.”
“Dan kita tinggalkan hal-hal yang baik?”
“Kita akan pergi ke hal-hal yang lebih baik lagi.”
“Di mana?”
“Di atas.”
“Di sisi Tuhan?”
“Ya.”
“Dan kita bisa melihat-Nya?”
“Ya.”
“Tentunya itu bagus kan?”
“Tentu.”
“Kalau begitu, kita harus pergi.”
“Tapi sekarang kita belum melakukan hal-hal yang baik.”
“Dan Kakek sudah melakukannya?”
“Ya.”
“Apa yang ia lakukan?”
“Ia telah membangun rumah dan menanam kebun.”
“Dan Tutu, sepupuku, apa yang sudah ia lakukan?”

Wajahnya jadi merengut sebentar, kemudian pandangannya ia tujukan ke arah istrinya seperti minta kasihan.

“Ia juga telah bikin sebuah rumah kecil sebelum ia pergi.”
“Tapi Lulu, tetangga kita, ia pernah memukulku dan tak pernah berbuat baik.”
“Ia anak nakal.”
“Tapi ia tidak akan mati.”
“Kecuali kalau Tuhan menghendakinya.”
“Meskipun ia tidak berbuat hal-hal yang baik?”
“Semua akan mati. Siapa yang berbuat baik, ia akan pergi ke sisi Tuhan. Dan siapa yang berbuat jahat, ia akan ke neraka.”

Anak kecil itu menarik napas seraya kemudian diam. Sang ayah tiba-tiba merasa dirinya begitu capek. Tak tahu ia, berapa dari kata- katanya tadi yang benar dan berapa yang salah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah menggerakkan tanda tanya, yang kemudian mengendap di dalam dirinya.

Namun si kecil tiba-tiba berseru:
“Saya ingin selalu bersama Nadia!”

Ditolehkannya kepalanya seperti ingin tahu. Si kecil itu berseru lagi:
“Meski pada pelajaran agama sekalipun!”

Dan ia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Istrinya juga ketawa. Sambil menguap mengantuk, ia kemudian berkata:
“Tak bisa kubayangkan, pertanyaan-pertanyaan ini bisa didiskusikan pada taraf umur begitu!”

Istrinya menyahut:
“Nanti ia akan besar, dan akan bisa menjelaskan hal-hal itu padanya.”

Cepat ia menoleh ke perempuan itu, untuk mengetahui apa memang betul kata-katanya atau hanya sekadar cemoohan belaka. Namun dilihatnya perempuan itu sudah sibuk lagi dengan sulamannya.

 

 

  • Cerpen ini disarikan dari buku “Antologi Cerpen Nobel” (Penerbit Bentang, Mei 2004).

 

 

NAGUIB MAHFOUZ adalah seorang sastrawan asal Mesir yang mempelopori sastra modern Mesir. Beliau adalah penerima Hadiah Nobel di tahun 1988 dan merupakan penulis aktif yang telah menghasilkan 50 novel, 350 cerita pendek, lusinan naskah film, dan 5 drama panggung. Beliau meninggal tahun 2006 di usia 94 tahun.

Tags: cerpen islamiNAGUIB MAHFOUZsastra islamsastrawan mesirsurga anak-anak
Previous Post

Rupiah Kembali Loyo, Darmin Nasution Salahkan China

Next Post

Djanginduang Dalimunthe, Ashabiqunal-awwalun IMM Sumut Tutup Usia

Related Posts

Engkolisme

Engkolisme

11 Mei 2026
184
Azmi Syahputra: Legal Opinion adalah Resonansi Nurani Hukum

Azmi Syahputra: Legal Opinion adalah Resonansi Nurani Hukum

9 November 2025
220
UM Bandung Libatkan Dinkes dan Praktisi UMKM dalam Pembekalan KKN 2025

UM Bandung Libatkan Dinkes dan Praktisi UMKM dalam Pembekalan KKN 2025

2 Agustus 2025
155
Keluarga yang Sederhana

Keluarga yang Sederhana

1 Oktober 2023
295
Pidato 6 Bahasa Santri PontrenMu Darul ‘Ulum Majenang Meriahkan Pembukaan Musyda Muhammadiyah dan Aisyiyah Cilacap

Pidato 6 Bahasa Santri PontrenMu Darul ‘Ulum Majenang Meriahkan Pembukaan Musyda Muhammadiyah dan Aisyiyah Cilacap

29 Mei 2023
449
Mengharap Mentari

Mengharap Mentari

29 April 2023
299
Next Post
Djanginduang Dalimunthe, Ashabiqunal-awwalun IMM Sumut Tutup Usia

Djanginduang Dalimunthe, Ashabiqunal-awwalun IMM Sumut Tutup Usia

Djanginduang Dalimunthe, Ashabiqunal-awwalun IMM Sumut yang Sederhana dan Tidak Suka Tonjolkan Diri

Djanginduang Dalimunthe, Ashabiqunal-awwalun IMM Sumut yang Sederhana dan Tidak Suka Tonjolkan Diri

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
116
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan