Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Sepotong Kayu untuk Tuhan

Mujaddid by Mujaddid
2019/07/27
in Cerpen
Reading Time: 13 mins read
0
Sepotong Kayu untuk Tuhan

Foto ilustrasi.

Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Kayu itu akan membuatnya tersenyum pada hari kematiannya. Ketika itu boleh jadi tubuhnya telah hancur oleh tanah dikuburnya. Tetapi jelaslah, kayu itu masih akan tetap menjadi saksi, ia pernah hidup dan menyumbangkan sesuatu untuk surau. Tidak, bukan orang yang akan membuatnya senang, tetapi karena Tuhan sendiri melihat itu. Kalau saja mungkin ia akan menghindari penglihatan orang. Sebab, hanya Tuhan jugalah yang diinginkannya.

Disaksikannya ranting demi ranting jatuh dari pohon. Seperti itulah manusia. Satu per satu ia akan dikuburkan. Ranting jatuh itu masih pula dapat dipergunakan. Mereka dapat masuk api dan memberi panas pada dasar periuk atau memberi panas pada mereka yang kedinginan. Tetapi apa yang disumbangkan orang mati. Tidak satu pun. Bahkan orang akan menyusahkan tetangganya, karena orang-orang lain harus mengangkutnya ke kubur, memasukkannya keliang. Sesudahnya adalah tanggung jawabnya sendiri.

Hari berikutnya sudah mulai dapat membantu-bantu. Penebang itu sudah mulai menebang bagian bawah. Ranting-ranting sudah jatuh, berserakan. Sesungguhnya ia akan mengangkut kayu-kayu itu. Sekarang bolehlah kayu itu rebah dengan aman. Tak ada yang akan disangkutnya. Cabang-cabangnya telah bersih. Bisa saja sekarang, tergelimpang.

Dia pun ingin berbuat. Diingatnya ada kapak dirumah, kapak itu pertama-tama harus ditajamkan. Ya, ia mengeluarkan batu pengasah dan seember air. Aduh, tukang tebang itu melarangnya. Ia telah tua. Tetapi perlu diketahui bahwa untuk mengasah kapak dan memukul kapak itu pada pohon, bayi pun bisa dipercaya. Apalagi orang-orang tua! Keringatnya telah mengalir, ketika ia harus mengangkut air dari sumur. Dengan tenaganya dapatlah ia mempunyai sebuah kapak yang baik, mengkilat tajam, hanya besi tak terpatahkan oleh kapak semengkilat itu. Aduh celaka, penebang macam apa itu! Ia mengatakan kapak itu tidak akan mempan. Tentang kapak, penebang yang mana pun tak dapat mengalahkannya. Ia sudah merawat kapak-kapak sejak. Tak sangsi lagi, kapak itu pasti yang setajam-tajamnya didunia.

Itulah sebabnya ia berjuang keras melawan ketuaannya sendiri. Ia mengayunkan kapaknya keras-keras, sehingga badannya sendiri terguncang. Penebang itu merasa terganggu dan mengatakan padanya kalau bukannya kayu yang akan putus, hanya tubuhnya saja yang kehabisan tenaga. Lagi pula kapaknya tak mengena sasarannya. “Jangan kau pukulkan kapak itu lurus, Pak. Agak miring sedikit,” kata penebang itu. Ya, soal cara menebang bisalah dia memperbaiki. Tetapi untuk menghentikan pekerjaan itu, jangan berani. Ia buktikan lelaki tua bukannya pemalas yang selalu menggantungkan hidup pada orang lain. Pahala yang didapatnya mengantarkannya sampai akhirat. Dan, mana bisa istri akan mengumpatnya dengan: pemalas. Menyumbangkan pohon nangka kekuningan, bercahaya dalam sinar matahari. Dia akan dapat berkata tentang pohon nangka itu: itulah yang ditebang dengan tanganku.

Ia merasa telah bekerja dengan sangat keras, tak seorang pun menyuruhnya. Pada hari ketiga dari pekerjaan itu, ia bangun pagi-pagi. Betapa senang ia ketika penebang itu datang dan dia dapat menunjukkan hasil tebangannya. Kapak itu telah diayunkan begitu kuatnya, membuat bekas yang dalam. Penebang itu mengatakan, “kayu ini digigit nyamuk atau ditebang dengan kapak?” Tentu saja ia keliru, tidak pernah menghitung bahwa nyamuk tak sekalipun mau menggigit pohon nangka. Ya, tentu kapak! Penebang itu tersenyum: “Sudahlah, Kakek. Sudahlah, Bapak. Sudahlah, apalagi dikatakannya. Tidak, itu kayunya sendiri. Penebang itu memberi contoh padanya bagiamana menebang dengan cara yang betul. Dan alangkah besar bekas tebangan itu! Lelaki tua tersenyum,; “Itu karena kapakmu yang tajam! Dan tenagamu yang segar. Cobalah kalau kau sudah kerja sejak pagi!”

Mundur? Tidak, sekali-kali tidak. Istrinya akan benar kalau ia tak meneruskan kerjanya. Siapa pun yang mau bekerja bukannya pemalas. Jangan menilai seseorang dari hasilnya, tapi dari niatnya. Dan ia berniat menebang habis pohon nangka itu! Sesungguhnya perbuatna itu dihitung dari niatnya! Ia mengulang lagi dari niatnya. Cobalah ingat, ia mulai lebih pagi daripada penebang sebenarnya. Dan tenaganya pun lebih banyak keluar. Perkara keringat, itu karena penebang lebih banyak minum. Dan, apakah kerja diujur dengan banyaknya keringat yang keluar. Itu sungguh tidak jujur. Dapat saja keringat bercucuran tanpa bekerja.

Page 4 of 7
Prev1...345...7Next
Tags: cerpenkuntowijoyo
Previous Post

Texas A & M University Nobatkan Wakil Ketua MDMC Sebagai Alumni Berprestasi

Next Post

Haedar Nashir: Eksistensi PTM Makin Diakui Dunia

Related Posts

Engkolisme

Engkolisme

11 Mei 2026
184
Azmi Syahputra: Legal Opinion adalah Resonansi Nurani Hukum

Azmi Syahputra: Legal Opinion adalah Resonansi Nurani Hukum

9 November 2025
220
UM Bandung Libatkan Dinkes dan Praktisi UMKM dalam Pembekalan KKN 2025

UM Bandung Libatkan Dinkes dan Praktisi UMKM dalam Pembekalan KKN 2025

2 Agustus 2025
155
Keluarga yang Sederhana

Keluarga yang Sederhana

1 Oktober 2023
295
Pidato 6 Bahasa Santri PontrenMu Darul ‘Ulum Majenang Meriahkan Pembukaan Musyda Muhammadiyah dan Aisyiyah Cilacap

Pidato 6 Bahasa Santri PontrenMu Darul ‘Ulum Majenang Meriahkan Pembukaan Musyda Muhammadiyah dan Aisyiyah Cilacap

29 Mei 2023
449
Mengharap Mentari

Mengharap Mentari

29 April 2023
299
Next Post

Haedar Nashir: Eksistensi PTM Makin Diakui Dunia

Brutalitas Kapitalisme di Indonesia (2)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
108
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
116
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
117

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan