Salah satu yang terpengaruh oleh ide-ide ini adalah seorang pelajar bernama Tahir Jalaluddin (1869-1956). Pemuda Minang, keturunan Tuanku Nan Tuo, seorang ulama besar pada masa paderi, . Setelah 12 tahun belajar di Mekkah dengan Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi, tahun 1895 Thahir Jalaluddin meneruskan pendidikannya di Kairo. Di sini ia mulai mengenal Al-Manar dan mengenal Rashid Ridha. Bersama sahabatnya, Syekh Sayid Al Hadi (1867-1934), Thahir Jalaluddin menempa ilmu di Kairo. Paham pemurnian Islam melaju deras bersama modernisasi dalam gerak Islam. Pemakaian mesin cetak untuk media massa dan buku-buku pelajaran Islam, yang sebelumnya ditolak oleh sebagian ulama karena dianggap bagian dari sekularisasi, nyata-nyata menginspirasi para murid Riwaq Jawi ini. Pemakaian teknologi ini kemudian melahirkan sebuah budaya cetak yang revolusioner, yang akan mengubah wajah dunia Islam di Hindia Belanda dan sekitarnya.(2)
Mesin cetak pertama kali dikenalkan ke nusantara, bahkan Asia Tenggara, oleh missionaries Kristen Jesuit tahun 1588 di Filipina. Namun baru 1744 ketika Vendunieuws muncul sebagai surat kabar pertama di Batavia. Kemudian Bataviasche Coloniale Courant (1801) menyusul. Keduanya merupakan surat kabar yang kebanyakan berisi berita pelelangan dan iklan. Berikutnya perkembangan surat kabar tak lagi terbendung. Pemilikan dan peruntukan surat kabar mulai dari orang asing, hingga yang diperuntukkan bagi masyarakat melayu, yaitu Al Djuab (1795-1801) bersemi saat itu. Namun, yang seringkali dikenang adalah Bintang Hindia, yang di asuh oleh Abdul Rivai, karena mulai memberikan gambaran Hindia sebagai sebuah bangsa. Ada pula Tirtoadsurjo, tokoh Sarekat Dagang Islam (SDI) yang dikenal mula-mula, mendirikan Soenda Berita, sebuah mingguan berbahasa melayu pertama di Indonesia tahun 1903. [3]
Begitu menjamurnya surat kabar, namun tak satu pun yang membawa Islam sebagai benderanya. Barulah pada tahun 1906, selepas pulang dari Kairo, Syekh Tahir Jalaluddin menerbitkan Al Imam di Singapura. Bersama Syekh Al Hadi (Singapura), serta Haji Abbas bin Muhammad Taha (Aceh) merintis Al Imam menjadi media massa Islam pertama di tanah Melayu-Nusantara. Tentu saja saati itu belum ada negara bernama Indonesia, Singapura ataupun Malaysia. Yang ada ialah wilayah-wilayah yang dijajah oleh Inggris dan Belanda. Al Imam mampu menerobos batas-batas kolonial itu, hingga mampu menciptakan bayangan akan sebuah komunitas bernama bangsa melayu. Sebuah bayangan yang mampu untuk menembus sekat-sekat wilayah yang diciptakan penjajah dan mengikat bangsa Melayu menjadi satu dalam ikatan agama Islam. Pernyataan itu di tandai oleh Al Imam dengan pemakaian istilah Umat Timur, Umat Melayu, Umat Kita sebelah sini, Umat Islam kita di sini, oleh Al Imam untuk menyebut bangsa Melayu.[4]
Sejak awal Al Imam memang bersuara menyatakan penyesalannya akan nasib umat Islam di tanah melayu-nusantara yang tertajajah di mana-mana. Dalam sebuah edisinya, mereka menyebut Tanah Sumatera, Tanah Manado, Tanah Jawa, Tanah Borneo dalam genggaman Belanda, hingga tanah melayu peninsula dalam cengkeraman Inggris. (Al Imam Vol. 1, No. 3, 19 September 1906). Harapan mereka tak lain agar umat Islam mampu meraih kemerdekaannya.[5]
Al imam berdiri mengibarkan Islam sebagai dasarnya. Menyebarkan dakwah Islam. Mengikuti jejak jejak Al Manar dengan semangat pembaruan dan pemurnian Islam, Al Imam menegaskan haluannya untuk ; mengingatkan mereka yang terlupa; membangunkan mereka yang terlelap; menunjukkan arah yang benar kepada mereka yang tersesat; memberi suara kepada mereka yang berbicara dengan bijak; mengajak umat Islam berupaya sebisa mungkin untuk hidup menurut perintah Allah; serta mencapai kebahagiaan terbesar di dunia dan memperoleh kenikmatan Tuhan di Akhirat (Al Imam, I Juli 1906). [6]
Nyatanya pengaruh Abduh dan Ridha memang besar bagi Al Imam. Majalah Al Manar mewarnai Al Imam begitu kental. Bahkan Al Imam memuat tafsir Muhammad Abduh yang dimuat oleh Al Manar. Tafsir ini mereka muat tahun 1908, atau dua tahun setelah terbitnya Al Imam. Pemuatan tafsir Al Manar karya Muhammad Abduh ini, bagaimana pun membuka pintu reformasi agama di tanah melayu dan Hindia Belanda. Jika sebelumnya tafsir yang dipakai di Hindia Belanda umumnya adalah tafsir Jalalain (Al-Suyuthi) yang hanya dipelajari di pesantren, maka kini Al Imam membuat tafsir yang dapat dibaca oleh kalangan yang lebih luas.
Melalui media massa cetak pula, Al Imam membuka pintu pembelajaran bagi umat Islam, yang biasanya hanya di lakukan di pesantren. Hal ini turut melepas ‘monopoli’ ulama tradisional di Pesantren sebagai satu-satunya pemegang otoritas keilmuan. Dan yang terpenting Al Imam membawa budaya baru bagi umat Islam di Melayu dan Hindia Belanda, yaitu budaya cetak. Kemajuan inilah yang akhirnya membuka pintu lahirnya pers Islam lainnya di Indonesia.
Jejak Al Imam meresap begitu mendalam bagi umat Islam di Hindia Belanda, hingga tahun 1911 di Sumatera Barat terbitlah sebuah majalah bernama Al Munir. Al Munir didirikan sebagai wadah bagi kaum muda yang menggelorakan pembaruan Islam di Sumatera Barat. Didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad, Al Munir menjadikan Al Imam sebagai contohnya. Haji Abdullah Ahmad sendiri sebelumnya adalah perwakilan Al Imam di Padang Panjang. Kunjungannya ke Singapura memungkinkan dirinya untuk mempelajari manajemen penerbitan ala Al Imam dan keterampilan teknis menerbitkan majalah. Begitu sentralnya peran Haji Abdullah Ahmad, hingga ia seringkali dipanggil, Haji Abdullah Al Munir.[7]
Haji Abdullah Ahmad tidak sendirian dalam membesarkan Al Munir. Ia membesarkan bersama dua orang sahabatnya, Haji Abdul Karim Amrullah (ayah dari Buya Hamka) dan Syekh Jamil Jambek. Mereka merupakan murid langsung dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi. Sepulang dari Mekkah, mereka kembali ke sumatera Barat untuk menggerakan paham pembaruan agama di sana. Maka tak heran jika Al munir bertujuan untuk; memperoleh agama Islam yang sejati serta menegakkan syariat Nabi Muhammad yang benar dengan dorongan menghidupkan kembali tradisi Nabi dan mengutuk bid’ah dalam praktik ibadah umat Muslim (Al Munir 3, 2, 1913).
Seperti Al Imam, Al Munir juga memiliki hubungan yang erat dengan Al Manar dibawah kendali Rashid Ridha. Seringkali Al Munir merujuk pada fatwa-fatwa yang terdapat dalam Al Manar. Umpamanya mengenai pakaian barat, yang dahulu sering dilarang oleh ulama tradisional karena indentik dengan orang kafir. Pendapat Rashid Ridha yang menolak pendapat ini, dijadikan rujukan oleh Haji Abdullah Ahmad. [8]
Pada praktiknya, Al Munir tidak hanya bersuara keras terhadap praktik bid’ah, tetapi juga pada pemerintah kolonial Belanda. Kritik-kritik keras terhadap pemerintah kolonial membuat mereka mendapatkan tekanan dan pengawasan dari pemerintah kolonial saat itu. Al Munir pun kerap bersuara mengenai kemerdekaan bangsa di Hindia Belanda. Namun ketatnya pengawasan pemerintah kolonial, membuat mereka menyampaikannya secara hati-hati dan terselubung, misalnya dengan membahas kemerdekaan Turki, Mesir dan India dari jeratan penjajah. Bahkan ketika membahas suatu tulisan tentang ilmu pengetahuan-pun, ujungnya akan membahas bagaimana mencapai kemerdekaan.[9]
Pada masa jayanya, Al Munir tidak hanya berpusat pada media massa, tetapi juga memiliki usaha percetakan. Penyebaran Al Munir tidak hanya di Sumatera barat, namun sampai ke Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Malaya. Dalam penerbitannya, Al munir memuat tulisan mengenai persatuan umat Islam, pengetahuan agama, serta hukum agama yang berkaitan dengan adat. Keistimewaan Al Munir adalah ia menjadi majalah yang masih menggunakan huruf arab melayu. Namun pemakaian huruf arab melayu memang berada di tepi jurang. Membanjirnya mesin cetak yang memakai huruf latin membuat pencetakan dengan huruf arab melayu sulit bersaing. Hal ini pula yang turut menerpa Al Munir. Namun terbakarnya kantor mereka menjadi pertanda lonceng kematiannya. Di Sumatera Barat tak hanya Al Munir, pers yang berlandaskan Islam. Hadir pula Al Itqan, Al Bayan dan Munirul Manar yang diterbitkan perguruan Sumatera Thawalib. Saat itu memang masa-masa keemasan pers di Sumatera Barat. Tetapi di pulau Jawa,tempat lahirnya Sarekat Islam, gaung pers Islam juga terdengar kencang. Melahirkan berbagai media massa yang menyokong perjuangan mereka.