Oleh: Heri Isnaini
Suatu hari saya bertanya kepada beberapa mahasiswa calon guru bahasa Indonesia tentang pengalaman mereka belajar sastra ketika masih di sekolah. Jawabannya beragam, tetapi ada satu pola yang menarik. Sebagian besar masih mengingat nama-nama angkatan sastra, definisi puisi, unsur intrinsik cerpen, atau ciri-ciri drama.
Namun, ketika saya bertanya puisi apa yang pernah mengubah cara mereka memandang kehidupan, kelas mendadak sunyi.
Mereka pernah belajar sastra, tetapi tidak banyak yang benar-benar mengalami sastra.
Pengalaman semacam ini mungkin tidak hanya terjadi di satu ruang kelas. Ia menjadi gambaran yang cukup umum tentang pembelajaran sastra di sekolah kita. Sastra sering diajarkan sebagai kumpulan konsep yang harus dihafal. Siswa diminta mengingat definisi, mengenali unsur-unsur, dan menjawab soal-soal yang jawabannya sudah tersedia di buku paket.
Padahal sastra lahir bukan untuk dihafal. Sastra lahir untuk dialami.
Di sinilah saya sering merasa bahwa ada sesuatu yang hilang dalam pembelajaran sastra kita. Kita terlalu sibuk menjelaskan sastra sehingga lupa mengajak siswa bertemu dengan sastra itu sendiri.
Bayangkan seseorang yang ingin mengenal hujan. Kita bisa menjelaskan proses kondensasi, siklus air, tekanan udara, dan berbagai teori meteorologi. Semua penjelasan itu penting.
Namun, pengetahuan tentang hujan tidak akan pernah sama dengan pengalaman berdiri di bawah gerimis pada sore hari, mencium aroma tanah yang basah, atau mendengar suara air yang jatuh di atap rumah masa kecil.
Begitu pula sastra. Kita dapat menjelaskan apa itu metafora, simbol, ironi, atau alur. Kita dapat membahas berbagai teori sastra dari strukturalisme hingga pascakolonialisme. Akan tetapi, semua itu tidak otomatis membuat seseorang mengalami keindahan, kegelisahan, atau kebijaksanaan yang terkandung dalam sebuah karya sastra.
Sastra tidak hanya meminta untuk dipahami. Sastra meminta untuk dirasakan. Sebab itulah saya selalu percaya bahwa pembelajaran sastra yang bermakna tidak lahir pertama-tama dari teori, melainkan dari pengalaman estetik. Teori memang penting, tetapi ia seharusnya hadir setelah pengalaman, bukan menggantikannya.
Seorang siswa yang membaca puisi tentang kehilangan semestinya diberi ruang untuk merasakan kehilangan itu terlebih dahulu. Ia perlu masuk ke suasana batin puisi sebelum diajak membicarakan majas atau struktur teksnya. Sebab sastra bekerja melalui pengalaman manusia, bukan melalui definisi.
Saya teringat pada puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak pembaca mencintai puisi Sapardi bukan karena mereka mampu menjelaskan teori yang melatarinya, melainkan karena mereka menemukan pengalaman hidupnya sendiri di dalam puisi-puisi itu. Hujan, rindu, waktu, kesunyian, dan perpisahan hadir sebagai pengalaman yang akrab bagi siapa saja.
Ketika seseorang membaca puisi “Aku Ingin”, misalnya, yang bekerja bukan pertama-tama kemampuan akademiknya, melainkan pengalaman kemanusiaannya. Ia menghubungkan kata-kata dalam puisi dengan kenangan, harapan, kehilangan, atau cinta yang pernah dialaminya. Sastra menjadi cermin yang memantulkan dirinya sendiri.
Di titik inilah membaca sesungguhnya berubah menjadi pengalaman hidup. Sayangnya, dalam praktik pembelajaran, pengalaman seperti itu sering kali tidak memperoleh ruang yang cukup. Siswa lebih sering diminta mencari jawaban yang benar daripada membangun pemaknaan. Mereka lebih sering diuji kemampuannya mengidentifikasi unsur daripada kemampuannya berdialog dengan teks.
Padahal setiap pembaca datang ke sebuah karya sastra dengan pengalaman yang berbeda. Seorang siswa yang tumbuh di desa mungkin akan memahami sebuah cerita dengan cara yang berbeda dari siswa yang tumbuh di kota. Seorang anak yang pernah kehilangan orang yang dicintainya akan membaca tema kematian dengan kedalaman yang berbeda dibandingkan mereka yang belum pernah mengalaminya.
Perbedaan-perbedaan itulah yang membuat sastra menjadi hidup. Ketika siswa membaca cerita rakyat Sangkuriang, misalnya, yang penting bukan hanya mengetahui bahwa cerita tersebut berasal dari Jawa Barat atau termasuk kategori legenda.
Yang jauh lebih penting adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul sesudahnya. Mengapa manusia sering gagal mengenali dirinya sendiri? Mengapa hasrat dapat mengalahkan akal sehat? Mengapa hubungan antara manusia dan takdir selalu menjadi tema yang berulang dalam berbagai kebudayaan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membawa sastra keluar dari ruang hafalan dan memasukkannya ke wilayah refleksi.
Hal yang sama dapat dilakukan ketika mengajarkan mitologi Nusantara. Tokoh-tokoh dalam mitos tidak perlu diperlakukan sekadar sebagai bahan cerita masa lampau. Mereka dapat dibaca sebagai simbol pengalaman manusia yang terus berulang. Kisah Malin Kundang bukan hanya tentang anak durhaka. Ia dapat dibaca sebagai refleksi tentang identitas, ambisi, dan keterputusan manusia dari akar kehidupannya. Cerita Lutung Kasarung bukan sekadar dongeng. Ia mengandung pertanyaan tentang kesetiaan, pengorbanan, dan pencarian jati diri.
Ketika pembelajaran sastra bergerak ke arah seperti itu, siswa mulai menyadari bahwa sastra tidak berbicara tentang masa lalu semata. Sastra berbicara tentang dirinya sendiri.
Dalam konteks ini, peran guru sastra menjadi sangat penting.
Guru sastra bukan sekadar penyampai materi. Guru sastra adalah fasilitator pemaknaan. Ia tidak bertugas menyediakan semua jawaban, melainkan membuka ruang bagi lahirnya berbagai kemungkinan pemahaman. Tugas guru bukan memaksa siswa menerima satu tafsir yang dianggap paling benar. Tugas guru adalah membantu siswa membangun hubungan yang bermakna dengan teks yang dibacanya.
Oleh sebab itu, guru sastra idealnya juga seorang pembaca yang hidup. Ia membaca bukan karena tuntutan administrasi, tetapi karena kebutuhan intelektual dan kemanusiaan. Ia memiliki pengalaman dialog yang panjang dengan buku-buku. Ketika masuk ke kelas, ia tidak hanya membawa materi pembelajaran. Ia membawa pengalaman membaca yang hidup.
Siswa dapat merasakan perbedaan itu. Guru yang hanya menghafal teori akan berbicara tentang sastra sebagai objek pelajaran.
Sebaliknya, guru yang mencintai sastra akan berbicara tentang sastra sebagai pengalaman hidup. Ia mungkin menceritakan bagaimana sebuah novel membuatnya memandang kemiskinan secara berbeda. Ia mungkin berbagi pengalaman tentang puisi yang menemaninya melewati masa sulit. Ia mungkin menunjukkan bahwa membaca bukan kewajiban akademik, melainkan cara memahami kehidupan. Pada saat itulah sastra mulai menemukan maknanya di sekolah.
Lebih jauh lagi, sastra memiliki peran penting dalam pembentukan karakter. Namun karakter yang lahir dari sastra berbeda dengan karakter yang diajarkan melalui ceramah moral. Sastra tidak memerintah. Sastra mengajak.
Ceramah sering memberi tahu apa yang harus dilakukan. Sastra mengajak pembaca merasakan akibat dari setiap pilihan manusia. Ketika membaca kisah tokoh yang tamak, pembaca merasakan kehancuran yang ditimbulkan oleh ketamakan itu. Ketika membaca kisah tentang pengorbanan, pembaca ikut mengalami nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran semacam ini bekerja melalui empati.
Dan empati merupakan salah satu kemampuan paling penting yang dibutuhkan manusia modern. Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, manusia justru semakin membutuhkan kemampuan untuk memahami orang lain. Sastra menyediakan ruang untuk itu. Melalui cerita, puisi, dan drama, seseorang belajar melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Ia belajar memahami kesedihan yang tidak dialaminya sendiri. Ia belajar mengenali harapan, ketakutan, dan impian orang lain.
Dengan kata lain, sastra membantu manusia menjadi manusia. Mungkin karena itulah hampir semua peradaban besar di dunia selalu memelihara cerita. Dari mitologi Yunani hingga wayang Nusantara, dari epos Mahabharata hingga hikayat Melayu, manusia terus menciptakan dan mewariskan narasi. Di dalam narasi itu tersimpan nilai, kebijaksanaan, dan pengalaman kolektif yang membentuk identitas budaya.
Sekolah semestinya menjadi tempat di mana warisan kemanusiaan itu terus dihidupkan.
Sastra tidak boleh direduksi menjadi kumpulan istilah yang harus dihafal untuk menghadapi ujian. Sastra harus dikembalikan kepada hakikatnya sebagai pengalaman estetik dan pengalaman kemanusiaan. Siswa perlu diajak bertemu dengan teks, berdialog dengannya, mempertanyakan maknanya, bahkan mungkin berbeda pendapat dengannya.
Sebab tujuan akhir pembelajaran sastra bukanlah menghasilkan siswa yang mampu menyebutkan unsur intrinsik sebuah novel. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan manusia yang lebih peka, lebih reflektif, dan lebih bijaksana dalam memandang kehidupan.
Pada akhirnya, mengajarkan sastra bukanlah mengajarkan teori tentang sastra semata. Mengajarkan sastra adalah mengajarkan cara merasakan, memahami, dan memaknai hidup. Dan itu hanya mungkin terjadi ketika sastra dihadirkan sebagai pengalaman yang hidup, bukan sekadar definisi yang dihafal.
Sebab sastra yang hanya dipahami akan berhenti di kepala. Namun sastra yang dialami akan tinggal lebih lama di hati dan mungkin, pada saat yang tepat, membantu seseorang memahami dirinya sendiri. (*)
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.












