Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Ujian di Bulan Juni: Bukan Sekadar Hasil Belajar

Mujaddid by Mujaddid
2026/06/12
in Nasional, Opini
Reading Time: 4 mins read
0
Ujian di Bulan Juni: Bukan Sekadar Hasil Belajar

Gambar ilustrasi by AI.

Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Sary Sukawati

 

Masih ingat puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Hujan di Bulan Juni”?

Puisi yang sederhana, tetapi begitu membekas.Tentang sesuatu yang datang dengan tenang, tidak tergesa-gesa, bahkan seolah bekerja diam-diam.

Tulisan ini memang bukan tentang hujan. Ini tentang ujian di bulan Juni. Entah mengapa, bulan Juni seolah memiliki suasana yang berbeda. Bagi sebagian orang, Juni mungkin hanya penanda pertengahan tahun. Namun, bagi siswa SD, SMP, SMA, bahkan mahasiswa di perguruan tinggi, Juni hampir selalu identik dengan satu kata: ujian.

Bulan Juni seakan menjadi bulan yang paling padat. Jadwal ujian mulai ditempel, lembar soal mulai disiapkan, dan suasana belajar pun berubah. Ada yang mendadak rajin membuka buku, ada yang mulai panik, ada yang mencoba terlihat tenang, dan ada pula yang menjalani semuanya seperti biasa.

Musim ujian ternyata tidak hanya menghadirkan soal-soal dan nilai rapor. Ia juga membawa banyak rasa. Ada rasa takut, cemas, waswas, bersemangat, antusias, bahkan kadang campur aduk seperti rasa nano-nano. Semua perasaan itu sangat manusiawi.

Menariknya, rasa yang muncul tidak selalu diikuti oleh tindakan yang sejalan. Ada yang takut menghadapi ujian, tetapi waktunya justru lebih banyak dihabiskan untuk bermain gim. Ada yang panik, lalu memilih belajar mati-matian dalam dua atau tiga malam terakhir. Ada pula yang tetap menjalani hari-hari seperti biasa dengan keyakinan, “Nanti juga bisa.”

Orang tua pun kadang tidak kalah menarik. Ada yang ikut panik. Ada yang mendadak berubah profesi menjadi guru privat, pelatih, pengawas, bahkan kadang menjadi “komandan perang” di rumah. Tensi mulai naik, suara mulai meninggi, dan suasana rumah mendadak berubah seperti ruang karantina menjelang ujian. Sebaliknya, ada juga yang memilih bersikap tenang dan menyerahkan semuanya kepada anak.

Lalu, apakah semua sikap dan tindakan itu berpengaruh terhadap hasil ujian?

Saya kira jawabannya adalah iya. Sebab, hasil belajar tidak lahir secara tiba-tiba. Hasil merupakan cerminan dari proses yang berlangsung sebelumnya. Karena itu, ketika nilai yang diperoleh tidak sesuai harapan, yang pertama kali seharusnya kita refleksikan bukan hanya hasilnya, melainkan cara kita belajar selama ini.

Di sinilah saya ingin berbincang lebih serius dengan Anda semua. Sekalipun hasil itu penting, saya rasa proses jauh lebih penting. Kegiatan merefleksi tidak berhenti pada hasil akhir, tetapi juga perlu menyentuh semua proses yang berlangsung jauh sebelum ujian itu sendiri dilaksanakan.

Sebab, pada hakikatnya ujian hanyalah kegiatan evaluasi terhadap materi yang telah dipelajari selama satu semester. Ujian bukan pekerjaan satu minggu, apalagi pekerjaan satu malam. Ia adalah akumulasi dari perjalanan belajar yang seharusnya sudah berlangsung secara bertahap sejak awal semester dimulai.

Sayangnya, perhatian kita sering kali langsung tertuju pada hasil akhir. Ketika nilai bagus, semua ikut senang. Tetapi ketika hasil tidak sesuai harapan, tidak sedikit yang segera mencari siapa yang harus disalahkan. Anak dianggap kurang belajar, orang tua merasa kurang mendampingi, guru dianggap kurang maksimal mengajar, atau bahkan sistem pendidikan yang menjadi sasaran.

Padahal, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Mengapa nilainya rendah?”, melainkan, “Bagaimana cara belajarnya selama ini?”

Saya sering membayangkan begini. Mustahil seseorang menanam pohon mangga hari ini, lalu berharap besok pagi sudah dapat memetik buahnya. Pohon itu membutuhkan waktu. Ia harus disiram. Dipupuk. Dirawat. Dan dijaga secara konsisten. Bahkan ketika belum terlihat buahnya, proses pertumbuhan itu sebenarnya sedang berlangsung.

Belajar pun demikian. Ia tidak tumbuh karena kepanikan semalam. Ia bertumbuh sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Halaman demi halaman. Pertanyaan demi pertanyaan. Kesalahan demi kesalahan. Dan justru di situlah letak keindahannya.

Apa yang selama ini kita rasakan ternyata didukung oleh berbagai hasil penelitian mutakhir. Sweller (2023) menjelaskan bahwa kapasitas memori kerja manusia terbatas. Ketika terlalu banyak informasi dipaksakan masuk dalam waktu yang singkat, otak mengalami beban kognitif yang berlebihan (cognitive overload). Akibatnya, informasi tidak tersimpan secara optimal dalam memori jangka panjang.

Penelitian Khalafi dan koleganya (2024) menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan secara bertahap dengan jeda tertentu (spaced learning) menghasilkan retensi dan pemahaman yang lebih baik. Temuan tersebut diperkuat oleh hasil meta-analisis Mawson dan Kang (2025) yang menyimpulkan bahwa belajar secara tersebar (distributed practice) jauh lebih efektif dibandingkan belajar sekaligus dalam satu waktu. Sederhananya, belajar empat jam tanpa henti belum tentu lebih baik dibandingkan empat kali belajar masing-masing satu jam yang dilakukan pada waktu berbeda. Karena ternyata otak kita pun membutuhkan jeda. Ia membutuhkan waktu untuk mencerna. Ia membutuhkan kesempatan untuk menghubungkan satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya. Ia membutuhkan proses untuk menjadikan pengetahuan itu benar-benar bermakna.

Untuk memudahkan kita memahami perbedaan antara belajar sekaligus dengan belajar secara bertahap, perhatikan ilustrasi berikut.

Sumber: Penulis dengan bantuan AI, 2026

Gambar tersebut mengingatkan kita bahwa belajar dalam waktu yang panjang tanpa jeda tidak selalu menghasilkan pemahaman yang lebih baik. Sebaliknya, pembelajaran yang dilakukan secara bertahap, diselingi waktu untuk beristirahat, merefleksi, dan mengulang kembali materi justru membantu otak menyimpan informasi dengan lebih kuat dan lebih lama.

Maka, bagaimana seharusnya kita mempersiapkan diri menghadapi ujian?

Menurut saya, jawabannya sederhana, tetapi memang tidak selalu mudah dilakukan. Belajar seharusnya dimulai sejak hari pertama masuk sekolah, bukan ketika jadwal ujian sudah ditempel di dinding kelas. Setiap materi yang diberikan guru sesungguhnya telah disusun berdasarkan tujuan dan indikator pembelajaran yang harus dikuasai siswa secara bertahap. Karena itu, setiap indikator pembelajaran perlu diikuti, dipahami, dan dilatih sedikit demi sedikit. Jangan menunggu semuanya menumpuk di akhir semester, lalu berharap dapat dituntaskan hanya dalam beberapa malam.

Belajar bukanlah kegiatan musiman. Belajar bukan sekadar ritual menjelang ujian.
Belajar adalah kebiasaan. Belajar adalah proses yang terus bertumbuh. Belajar adalah perjalanan panjang yang memerlukan kesabaran dan konsistensi. Karena hasil yang baik jarang lahir dari usaha yang mendadak. Ia biasanya lahir dari proses yang tenang, bertahap, dan dilakukan secara terus-menerus.

Maka, ketika hasil ujian tidak sesuai harapan, jangan terlalu cepat menyalahkan diri sendiri. Jangan pula terburu-buru memarahi anak atau menyalahkan guru. Barangkali yang perlu diperbaiki bukan nilai akhirnya, melainkan proses yang mengantarkan pada hasil tersebut.

Sebab, sebagaimana pohon mangga yang tidak pernah berbuah dalam semalam, hasil belajar pun tidak pernah tumbuh dari kepanikan semalam. Ia tumbuh perlahan. Sedikit demi sedikit. Hampir tak terasa. Namun justru karena itulah, buahnya akan lebih kuat, lebih manis, dan lebih bertahan lama.

Dan mungkin, seperti hujan di bulan Juni dalam puisi Sapardi, proses belajar terbaik pun tidak selalu berlangsung dengan gaduh dan tergesa-gesa. Ia bekerja diam-diam. Ia bertumbuh perlahan. Namun justru karena itulah, ia meninggalkan jejak yang paling dalam.

Pada akhirnya, ujian di bulan Juni hanyalah sebuah persinggahan. Ia bukan garis akhir dari perjalanan belajar, melainkan sekadar tempat kita berhenti sejenak untuk melihat ke belakang: apa yang sudah kita pelajari, apa yang masih perlu diperbaiki, dan bagaimana kita bisa melangkah lebih baik pada perjalanan berikutnya? Karena sesungguhnya, yang paling penting bukanlah seberapa cepat kita sampai, melainkan cara kita bertumbuh selama perjalanan itu berlangsung. (*)

 

Penulis adalah dosen IKIP Siliwangi yang saat ini tengah melanjutkan kuliah di UPI Bandung pada Program Studi (S3) Pendidikan Bahasa Indonesia. Lahir di Bandung 29 Agustus dan menjadi dosen adalah pilihan hidupnya sejak tahun 2006. Aktivitas pengajaran, penelitian, dan pengabdian kerap menemani hari-harinya. Kegiatan berkarya, berbagi ilmu, dan bercengkarama di ruang akademik telah melengkapi kegiatan utamanya sebagai istri dan ibu dari tiga buah hati (KaRara, Teh Rena, dan De’ Eza). Motto hidupnya saat ini “Bersyukur, Bergerak, dan Bermanfaat”. Surel: sarysukawati@gmail.com

Tags: pendidikanSary SukawatiSekolahUjian
Previous Post

Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya: Dimulai dari Diri Sendiri

Next Post

Peneliti UMSU dan UMJ Paparkan Strategi Pencegahan Ekstremisme Berbasis Komunitas pada Forum Internasional di Malaysia

Related Posts

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
119
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
116
Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

29 Juni 2026
104
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Next Post
Peneliti UMSU dan UMJ Paparkan Strategi Pencegahan Ekstremisme Berbasis Komunitas pada Forum Internasional di Malaysia

Peneliti UMSU dan UMJ Paparkan Strategi Pencegahan Ekstremisme Berbasis Komunitas pada Forum Internasional di Malaysia

Akademisi ini Paparkan Peta Pilpres 2024 di Sumatera Utara

Rupiah Sekarat Bertengkar dengan Siapa? Ini Jawaban Menohok Akademisi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
116
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan