Oleh: M. Risfan Sihaloho
Ada sebuah pepatah lama di dunia debat: “Jika kau tidak bisa membunuh idenya, bunuhlah pembawa pesannya.”
Tampaknya, pepatah purba ini tidak sekadar diingat, tapi benar-benar dihayati, diimani, dan dijadikan Standar Operasional Prosedur (SOP) oleh para pemandu sorak rezim penguasa belakangan ini.
Mari kita jujur. Mengemas argumen berbasis data, logika, dan indikator makro-mikro itu melelahkan. Butuh membaca, butuh riset, dan yang paling berat: butuh fungsi otak yang berjalan optimal. Maka, ketika ada suara sumbang yang mengusik kenyamanan singgasana, jalur pintas paling seksi yang kerap diambil adalah ad hominem. Sebuah kesesatan logika (logical fallacy) kuno yang mendadak jadi komoditas paling laku di pasar politik kita.
Mengapa repot-repot membedah substansi jika Anda bisa menyerang isi dompet, masa lalu, bentuk fisik, atau bahkan motif tersembunyi si pengkritik?
***
Kasus paling gres yang tersaji di etalase ruang publik kita adalah bagaimana eks diplomat senior, Dino Patti Djalal, mendadak jadi “sasaran tembak”. Dosa beliau? Sederhana saja: mempertanyakan efektivitas dan urgensi kunjungan luar negeri Sang Presiden. Sebuah kritik yang sebenarnya standar-standar saja dalam iklim demokrasi, bahkan terkesan normatif untuk kaliber seorang mantan wakil menteri luar negeri.
Namun, respons yang datang dari para die hard penguasa justru jauh dari kata elegan. Bukannya fokus menyodorkan data capaian diplomasi, kalkulasi untung-rugi kunjungan, atau output konkret bagi rakyat, barisan pembela ini justru kompak merilis serangan personal. Karakter Dino dikuliti, rekam jejaknya dicari-cari celahnya, dan motifnya dipertanyakan.
Ini adalah sebuah arogansi yang telanjang. Pesannya jelas: “Kami tidak peduli apa yang Anda katakan, kami hanya peduli pada siapa Anda, dan bagaimana cara kami membungkam Anda.”
Logika publik sengaja dibelokkan. Kita diajak menonton sirkus pembunuhan karakter, alih-alih berdiskusi tentang bagaimana uang pajak kita dibelanjakan di luar negeri.
Menu Wajib Logical Fallacy ala Buzzer
Fenomena ini menegaskan satu hal: alergi kritik akut sedang menjangkiti lingkar kekuasaan. Ada kesan antikritik yang dibungkus dengan narasi ofensif yang emosional. Ironis, mengingat sebelum duduk di kursi empuk kekuasaan, janjinya adalah menjadi pelayan rakyat yang siap mendengar. Begitu takhta digenggam, kuping mendadak tipis, lambung mendadak asam hanya karena sedikit kritik.
Jika kita bedah, anatomi serangan para pembela rezim ini sebenarnya punya pola dan menu logical fallacy yang itu-itu saja, mengalir dari satu jenis kesesatan ke kesesatan lainnya.
Pertama, mereka gemar menggunakan jurus ad hominem abusif. Polanya mudah ditebak: ketika dikritik, mereka akan berteriak, “Halah, dia kan cuma barisan sakit hati yang nggak dapat jatah menteri!” . Targetnya jelas, menggeser fokus publik dari validitas kritik menuju ke busuknya motif personal yang dituduhkan.
Kalau jurus pertama kurang mempan, meluncurlah jurus kedua: tu quoque, alias tuduhan kemunafikan. Dengan sok tahu mereka akan mengungkit masa lalu sembari mencibir, “Dulu zaman kamu menjabat, emangnya kamu nggak pernah ke luar negeri?” Seolah-olah kesalahan di masa lalu otomatis membatalkan kebenaran kritik hari ini demi hukum.
Skenario pamungkasnya adalah serangan sirkumstansial, sebuah upaya licik untuk menciptakan polarisasi “Kita vs Mereka”. Narasi yang dilempar ke pasar adalah tuduhan bahwa si pengkritik pasti punya agenda terselubung dengan kubu oposisi. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk membakar emosi massa akar rumput agar berhenti berpikir jernih.
Demokrasi Tanpa Dialektika, Selamat Datang di Zaman Kegelapan
Ketika kekuasaan merawat para pemikir instan yang hanya modal urat leher, maka yang terjadi adalah pendangkalan intelektual massal. Penguasa yang bijak—jika mereka masih ingat arti kata bijak—seharusnya menyambut kritik dengan dada tegak dan argumen yang elegan. Kritik adalah jamu, pahit tapi menyehatkan. Namun, tampaknya rezim hari ini lebih memilih menelan madu palsu dari para penjilat, sembari memuntahkan racun kepada mereka yang berani mengingatkan.
Jika setiap kritik dibalas dengan cacian personal, maka perlahan tapi pasti, ruang dialog akan mati. Kita akan tiba di sebuah era di mana kebenaran tidak lagi diukur dari kekuatan argumen, melainkan dari seberapa keras Anda bisa meneriaki dan mempermalukan lawan bicara.
Untuk para pembela rezim yang gemar menyerang secara ad hominem: teruskan saja. Teruskan memamerkan arogansi dan kemiskinan argumen kalian di depan publik. Karena dengan begitu, rakyat tidak perlu bersusah payah menilai kualitas penguasa. Kalian sendiri yang sedang menelanjangi borok junjungan kalian secara sukarela. (*)











