TAJDID.ID~Gowa 🔳 Merantau bagi halak atau orang Batak bukan hanya pergi mencari nafkah semata, tetapi juga cara belajar mendewasakan diri. Di daerah perantauan yang jauh, rasa persaudaraan menjadi pegangan penting agar mereka tidak kehilangan jati diri dan iman.
Hal inilah yang terlihat jelas dari kelompok “Saroha”, sebuah perkumpulan perantau asal Tanah Batak, kawasan Tapanuli Sumatera Utara, saat merayakan Hari Raya Iduladha di Sulawesi Selatan.
Sesuai namanya yang berarti “sehati”, Kelompok Saroha membuktikan bahwa jarak yang jauh dari kampung halaman tidak mengurangi rasa kepedulian mereka. Pada perayaan kurban tahun ini, mereka menyiapkan tiga ekor sapi sebagai wujud rasa syukur.
Menariknya, amal ibadah ini dibagi untuk dua tempat. Sebanyak dua ekor sapi disembelih di Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sedangkan satu ekor sapi lagi dikirim langsung ke Tanah Batak untuk dibagikan kepada warga di kampung halaman yang membutuhkan bantuan.
Wilayah Barombong menjadi tempat berkumpulnya energi kebersamaan komunitas ini. Berdasarkan keterangan seorang tokoh Saroha, acara kurban tahunan ini berhasil mendatangkan sekitar 60 warga Batak Muslim yang tinggal menyebar di berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Karena sehari-hari mereka tinggal berjauhan di kabupaten yang berbeda, kegiatan rutin setiap tahun ini menjadi momen berharga untuk melepas rindu. Di tempat inilah mereka bisa mengobrol santai sekaligus mempererat kembali tali persaudaraan yang sempat terhalang jarak.
Suasana akrab semakin terasa saat proses memasak daging kurban dimulai bersama-sama. Uniknya, sebagian daging sapi tersebut diolah menjadi masakan ala khas Batak Tapanuli yang kaya bumbu, sehingga mengobati rasa rindu akan kampung halaman.
Setelah matang, hidangan lezat ini langsung dinikmati bersama dalam suasana penuh tawa. Agar lebih berberkah ibadah merata, sebagian daging yang masih segar dibagikan kepada warga sekitar Barombong dan juga anggota Saroha lainnya yang tidak bisa hadir.
Lewat tradisi rutin ini, Kelompok Saroha tidak sekadar menjalankan ibadah kepada Tuhan, tetapi juga menjaga hubungan baik antarmanusia. Mereka berhasil memadukan kewajiban agama untuk berbagi dengan tradisi gotong royong khas suku Batak.
Pertemuan puluhan warga di Barombong ini menjadi bukti nyata bahwa di perantauan, sesama perantau adalah keluarga terdekat yang akan selalu saling membantu dalam satu hati yang sama. (*)
Penulis: Haidir Fitra Siagian



