Oleh: M. Risfan Sihaloho
Dalam setiap “gerakan”, selalu ada dikhotomi: “yang digerakkan” dan “yang menggerakkan”. Namun, di era di mana tagar lebih sakti daripada orasi, dan algoritma lebih menentukan arah massa daripada ideologi, garis pembatas itu kian kabur.
Ada kecenderungan absurd, apakah kita sedang berbaris menuju pembebasan, atau sekadar menjadi figuran dalam skenario besar yang tidak kita pahami?
Ontologi “Sang Penggerak”
Secara filosofis, gerakan adalah manifestasi dari eksistensi. Jika Descartes berkata “Aku berpikir, maka aku ada,” maka dalam aktivisme, jargonnya berubah menjadi “Aku melawan, maka aku belum punah.”
Namun, mari kita jujur secara intelektual. Banyak gerakan sosial baru (new social movement) hari ini terjebak dalam fetisisme perlawanan. Mereka bergerak bukan karena memiliki visi tentang dunia baru, melainkan karena takut dianggap apatis. Mereka menjadi “yang digerakkan” oleh rasa bersalah kolektif (collective guilt) yang dimanipulasi oleh tren. Penggerak sejatinya bukanlah manusia, melainkan “Spirit Zaman” (Hegelian Geist) yang seringkali hanya berupa gema kosong di ruang kedap suara media sosial.
“Gerakan tanpa landasan filosofis yang radikal hanyalah sebuah parade narsisme berbaju kepedulian.”
Anatomi Struktur dan Agensi
Secara teoritis, kita sering merujuk pada Resource Mobilization Theory. Di sini, gerakan dipandang sebagai mesin. Ada bahan bakar (uang, logistik), ada mesin (organisasi), dan ada operator (elit gerakan).
Masalahnya, teori sering kali gagal memotret ironi oligarki dalam gerakan. Seringkali, “yang menggerakkan” adalah elit-elit baru yang menggunakan kekecewaan dan kemarahan massa sebagai daya tawar politik untuk duduk di meja makan yang sama dengan penindas. Massa hanya menjadi angka dalam statistik keberhasilan program, sementara perubahan struktural tetap menjadi mitos yang dipajang di poster-poster demonstrasi.
Teater Jalanan dan Jebakan Reformisme
Pada level praksis, gerakan sosial sering kali mengalami “domestikasi”. Gerakan yang awalnya bermotif liberatif (membebaskan) perlahan berubah menjadi administratif. Para penggiat gerakan sosial hari ini kebanyakan lebih sibuk meriuhkan timeline media sosial aksi daripada merapikan barisan massa di lapangan nyata.
Lucunya lagi, ada jenis gerakan yang bersifat kondisional atau inkonsisten. Ketika posisi berseberangan dengan pihak penguasa, gerakannya begitu agresif. Tapi saat menjadi bagian dari rezim berperan sebagai penyokong dan pembela status quo.
Dari kondisi ini, lantas muncul pertanyaan: Apakah sejauh ini sebuah gerakan sosial benar-benar memperjuangkan perubahan, atau hanya sedang memberikan “oksigen” bagi sistem agar ia bisa bertahan lebih lama melalui kompromi-kompromi kecil yang disebut reformasi?
Sejatinya watak praksis sebuah gerakan bersifat “subversif”, bukan sekadar “dekoratif”. Jika sebuah gerakan sudah mendapat restu dan pujian dari sistem yang dilawannya, maka gerakan tersebut pantas dicurigai telah mati dan sedang dikremasi dalam peti kemas kenyamanan.
Kesimpulan: Menjadi Penggerak yang Sadar
Bergerak adalah kewajiban bagi manusia yang masih memiliki nurani. Namun, bergerak tanpa kesadaran kritis akan posisi kita dalam konstelasi kekuasaan hanya akan menjadikan kita bidak catur yang bisa dikorbankan kapan saja.
Jangan mau hanya menjadi “yang digerakkan” oleh amarah sesaat atau tren global. Jadilah subjek yang mampu menginterogasi dalang, merombak panggung, dan jika perlu, membakar naskah lama untuk menulis sejarah yang benar-benar baru.
Pertanyaannya: Siapa yang memegang kendali atas kakimu hari ini? (*)

