Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Muhammadiyah lahir bukan dari kegelisahan teologis semata, tetapi dari keprihatinan sosial yang mendalam. KH Ahmad Dahlan membaca Islam bukan hanya sebagai sistem ibadah ritual, melainkan sebagai kekuatan pembebas—agama yang harus hadir di tengah kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan umat. Karena itu, sejak awal, dakwah Muhammadiyah adalah dakwah sosial. Inilah DNA gerakan yang tak boleh pudar oleh zaman.
Kisah legendaris tentang KH Ahmad Dahlan yang berulang-ulang mengajarkan Surat Al-Ma’un bukanlah romantisme sejarah. Itu adalah metode dakwah. Pesan moralnya jelas: keberagamaan yang abai pada anak yatim dan fakir miskin adalah keberagamaan yang dusta. Dari sinilah Muhammadiyah menemukan bentuk dakwahnya yang khas—amal usaha sebagai wujud iman.
Kepribadian dan keprihatinan KH Ahmad Dahlan yang melahirkan Muhammadiyah sesungguhnya harus terus menjadi titik tuah gerakan ini. Muhammadiyah tidak lahir dari ambisi kekuasaan, bukan pula dari dorongan simbolik keagamaan semata, melainkan dari kegelisahan seorang ulama yang melihat langsung penderitaan masyarakatnya. KH Ahmad Dahlan menyaksikan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan umat, lalu menjawabnya bukan dengan amarah, tetapi dengan kerja nyata.
Dari kepribadian itulah Muhammadiyah dibentuk sebagai gerakan yang hadir untuk membantu masyarakat. Dakwah tidak dimaknai sebatas mimbar dan pengajian, tetapi diwujudkan dalam tindakan sosial yang terorganisir. Karena itu, sejak awal berdiri, Muhammadiyah sudah mengenal dan mempraktikkan pelayanan sosial secara sistematis. Salah satu tonggak pentingnya adalah berdirinya Penolong Kesengsaraan Umum (PKU) Muhammadiyah—sebuah ikhtiar konkret untuk menolong mereka yang sakit, miskin, dan terpinggirkan. PKU bukan sekadar lembaga bantuan, melainkan pernyataan sikap teologis: bahwa iman harus berpihak. Dari sinilah kemudian lahir Rumah Sakit PKU Muhammadiyah yang kini tersebar di berbagai daerah. Rumah sakit itu bukan hanya institusi kesehatan, tetapi jejak sejarah tentang bagaimana kepedulian sosial dijadikan pilar dakwah. Ia tumbuh dari empati, bukan dari logika bisnis; dari keprihatinan, bukan dari kalkulasi keuntungan.
Alwi Shihab dalam tesisnya yang kemudian dibukukan mencatat satu hal penting dalam sejarah awal Muhammadiyah: bagaimana persyarikatan ini membendung arus kristenisasi bukan dengan kemarahan apalagi permusuhan, melainkan dengan kerja sosial yang nyata. Muhammadiyah tidak menjawab tantangan itu lewat polemik teologis yang bising, tetapi melalui kehadiran amal usaha yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat—pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Menariknya, inspirasi model amal usaha itu justru datang dari perjumpaan KH Ahmad Dahlan dengan seorang sahabatnya yang beragama Katolik. Dari relasi lintas iman itulah Dahlan belajar bahwa pelayanan sosial yang terorganisir, disiplin, dan berkelanjutan memiliki daya dakwah yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar retorika keagamaan. Ini menunjukkan keluasan kepribadian KH Ahmad Dahlan: tegas dalam akidah, tetapi terbuka dalam belajar. Kristenisasi tidak dihadapi dengan larangan dan stigmatisasi, tetapi dengan memperkuat umat melalui pelayanan yang bermartabat.
Sejak saat itu, dan hingga hari ini, Muhammadiyah senantiasa hadir dalam setiap dinamika kehidupan sosial umat dan bangsa. Kehadirannya tidak bersifat simbolik, melainkan nyata—termasuk dalam merespons bencana ekologis yang baru-baru ini menimpa berbagai wilayah di Sumatera. Di tengah banjir, longsor, dan krisis kemanusiaan yang menyertainya, Muhammadiyah kembali menunjukkan watak aslinya: bergerak cepat, menolong tanpa banyak slogan, dan bekerja lintas sekat.
Kepedulian seperti inilah yang sesungguhnya harus terus dilanjutkan dan dijaga sebagai ruh gerakan Muhammadiyah. Kepemimpinan boleh berganti, struktur organisasi boleh berubah, dan tantangan zaman boleh semakin kompleks, tetapi kepedulian sosial tidak boleh ikut bergeser. Sebab, di situlah letak jati diri Muhammadiyah. Muhammadiyah lahir dan berkembang bukan semata sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebagai gerakan dakwah, sosial, dan pendidikan yang menyatu. Dakwah memberi arah nilai, kerja sosial memberi makna keberpihakan, dan pendidikan menjamin keberlanjutan peradaban. Ketiganya tidak bisa dipisahkan. Jika salah satunya melemah, maka gerakan ini berisiko kehilangan ruhnya sendiri.
Momentum Muktamar Muhammadiyah 2027 menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang gerakan ini, sekaligus penanda memasuki usia 115 tahun dakwah Muhammadiyah. Sebuah usia yang tidak hanya mencerminkan kematangan organisasi, tetapi juga kedalaman pengalaman dalam menyemai kebaikan bagi umat dan bangsa. Harapannya, Muhammadiyah terus meneguhkan peran historisnya sebagai gerakan yang menebar manfaat untuk semua, tanpa kehilangan orientasi nilai.
Muhammadiyah boleh terus berkembang dan semakin terbuka terhadap dinamika zaman, tetapi karakter dakwahnya yang khas harus tetap terjaga. Dakwah yang berkemajuan—rasional, berkeadaban, dan berpihak pada kemanusiaan. Di situlah kekuatan Muhammadiyah: mampu berdialog dengan perubahan, tanpa tercerabut dari akar. Sebab, selama kepedulian sosial, keberanian moral, dan komitmen mencerdaskan kehidupan umat terus dirawat, Muhammadiyah akan tetap relevan, kokoh, dan memberi arah bagi masa depan.
Maka, kader Muhammadiyah harus paham dan menghayati jati diri gerakan dakwah Muhammadiyah. Bukan sekadar menghafal sejarah atau memegang struktur organisasi, tetapi memahami bahwa gerakan ini lahir dari kepedulian, keprihatinan, dan keberanian moral KH Ahmad Dahlan. Setiap langkah kader, setiap kebijakan organisasi, dan setiap amal usaha yang dijalankan harus berakar pada nilai-nilai tersebut: dakwah yang berpihak, sosial yang nyata, dan pendidikan yang berkelanjutan. Hanya dengan pemahaman ini, Muhammadiyah akan terus teguh menjadi gerakan yang relevan, berkemajuan, dan memberi manfaat nyata bagi umat dan bangsa. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni






