• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Senin, Juni 8, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Dari Lupus hingga Enny Arrow: Bacaan-bacaan yang Membesarkan Generasi 1990-an

Heri Isnaini by Heri Isnaini
2026/06/08
in Nasional, Opini
0
Dari Lupus hingga Enny Arrow: Bacaan-bacaan yang Membesarkan Generasi 1990-an
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Heri Isnaini

Setiap generasi memiliki perpustakaannya sendiri. Bukan perpustakaan yang berdiri megah dengan rak-rak kayu yang tersusun rapi, melainkan perpustakaan yang hidup dalam ingatan.

Perpustakaan yang dibangun oleh buku-buku yang pernah dibaca diam-diam, dipinjam dari teman, disewa di kios kecil dekat sekolah, atau ditemukan secara tidak sengaja di tumpukan buku bekas pasar loak.

Begitulah generasi 1990-an tumbuh. Mereka hidup pada masa ketika internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Telepon genggam masih barang mewah. Media sosial belum lahir. Dunia terasa lebih lambat, dan Sebab itulah membaca menjadi salah satu cara paling menyenangkan untuk bepergian tanpa harus meninggalkan rumah.

Pada masa itu, anak-anak mengenal petualangan melalui Lima Sekawan. Mereka berlari mengikuti misteri bersama Julian, Dick, Anne, George, dan Timmy si anjing. Dunia terasa luas dan penuh rahasia. Setiap halaman adalah pintu menuju tempat-tempat yang belum pernah mereka lihat.

Remaja-remaja mengenal kehidupan sekolah melalui Lupus. Tokoh berponi nyentrik itu menjadi ikon sebuah generasi. Ia tidak gagah seperti pahlawan dalam cerita silat. Ia juga tidak kaya raya seperti tokoh sinetron masa kini. Lupus hanyalah remaja biasa dengan segala kekonyolan dan kecanggungannya. Justru karena biasa itulah ia dicintai.

Pembaca melihat dirinya sendiri pada Lupus. Mereka menemukan kegugupan saat jatuh cinta, kecemasan menghadapi sekolah, dan kegembiraan sederhana yang tumbuh dari persahabatan.

Di sudut lain, anak-anak pemberani membaca Goosebumps. Mereka menikmati rasa takut yang aman. Hantu, monster, dan rumah tua menjadi pengalaman yang menyenangkan karena semuanya berhenti ketika buku ditutup.

Lalu ada Olga, TKKG, komik-komik silat, cerita detektif, novel roman remaja, hingga majalah Hai dan Gadis yang berpindah tangan dari satu pembaca ke pembaca lain. Semuanya membentuk lanskap membaca yang khas.

Namun, sejarah membaca tidak pernah sesederhana daftar buku yang direkomendasikan sekolah. Di balik rak-rak resmi perpustakaan, selalu ada rak-rak tak resmi yang hidup dalam bisikan. Di sanalah nama Enny Arrow beredar.

Buku-bukunya jarang dipajang terang-terangan. Ia berpindah tangan seperti sebuah rahasia. Sampulnya sederhana. Kertasnya tipis. Namun daya tariknya begitu besar. Banyak orang mengingatnya bukan karena kualitas estetikanya, melainkan karena keberaniannya menyentuh wilayah yang dianggap tabu.

Menariknya, baik Lupus maupun Enny Arrow sama-sama memiliki pembaca yang besar. Yang satu diterima dan dirayakan. Yang lain disembunyikan dan sering dicela. Namun, keduanya menunjukkan satu hal yang sama: manusia membaca karena rasa ingin tahu.

Barangkali di sinilah kita perlu mengingat kembali gagasan tua dari Horatius tentang “dulce et utile.” Menurut penyair Romawi itu, sastra yang baik seharusnya mampu memberikan kesenangan sekaligus manfaat. Menghibur sekaligus mencerahkan.

Selama ini kita sering terjebak dalam pemisahan yang terlalu tegas antara sastra adiluhung dan sastra picisan. Sastra adiluhung dianggap bermutu karena menghadirkan kedalaman pemikiran dan keindahan bahasa. Sastra picisan dianggap rendah karena terlalu mengejar hiburan dan pasar.

Namun, pengalaman membaca generasi 1990-an menunjukkan kenyataan yang lebih rumit. Anak-anak yang membaca Lupus tidak sedang mempelajari teori pendidikan karakter. Mereka hanya ingin menikmati cerita yang lucu. Akan tetapi, tanpa disadari mereka belajar tentang persahabatan, kesetiaan, dan cara menghadapi kegagalan.

Mereka yang membaca Lima Sekawan tidak sedang mencari pelajaran moral. Mereka ingin mengikuti petualangan yang seru. Namun dari sana mereka belajar tentang kerja sama, keberanian, dan rasa tanggung jawab.

Bahkan bacaan-bacaan yang sering dicap picisan pun sesungguhnya mengandung pelajaran tertentu, meskipun tidak selalu sesuai dengan nilai yang ingin diajarkan sekolah.

Sastra, pada akhirnya, selalu menjadi cermin masyarakat yang melahirkannya. Sebab itu, membaca sejarah bacaan generasi 1990-an sama artinya dengan membaca sejarah masyarakat Indonesia pada masa itu.

Kita melihat impian, ketakutan, rasa penasaran, dan nilai-nilai yang hidup dalam keseharian mereka.

Dari Lupus kita melihat dunia remaja perkotaan yang sedang tumbuh.

Dari Goosebumps kita melihat ketertarikan pada misteri dan fantasi.

Dari komik-komik silat kita melihat kerinduan pada kepahlawanan.

Dari Enny Arrow kita melihat wilayah hasrat yang berusaha disembunyikan, tetapi tetap mencari jalan untuk hadir. Semuanya adalah bagian dari kebudayaan membaca.

Hari ini, ketika anak-anak lebih banyak menggulir layar daripada membalik halaman buku, kita mungkin merasa nostalgia pada masa itu. Namun, sesungguhnya yang kita rindukan bukan hanya buku-bukunya. Kita merindukan pengalaman membaca itu sendiri.

Pengalaman menunggu giliran meminjam buku. Pengalaman menyelesaikan satu novel dalam semalam. Pengalaman menemukan dunia baru hanya dari rangkaian kata-kata.

Generasi 1990-an dibesarkan oleh berbagai jenis bacaan. Ada yang dianggap bermutu tinggi. Ada yang dicap picisan. Ada yang diajarkan guru. Ada pula yang dibaca diam-diam.

Namun, semuanya meninggalkan jejak. Sebab manusia tidak dibentuk hanya oleh buku-buku yang dianggap penting. Manusia juga dibentuk oleh buku-buku yang pernah membuatnya tertawa, takut, penasaran, jatuh cinta, bahkan malu mengakuinya.

Dan mungkin, ketika sejarah sastra suatu hari ditulis kembali dari sudut pandang para pembaca, nama Lupus dan Enny Arrow akan berdiri berdampingan sebagai penanda bahwa sebuah generasi pernah tumbuh bersama cerita-cerita yang sangat berbeda, tetapi sama-sama sulit dilupakan. (*)

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

 

Tags: bukuEnny ArrowGenerasi 1990-anHeri IsnainiLupussastra
Previous Post

Hadirkan Din Syamsuddin di Masjid Remaja, PCM Kenjeran Dorong Penguatan Ideologi dan Dakwah Pemuda

Next Post

Politik itu Terlalu Penting untuk Hanya Diserahkan kepada Politisi

Related Posts

Iduladha dan Bahasa Pengorbanan

Iduladha dan Bahasa Pengorbanan

28 Mei 2026
139
Sastra Lisan dan Pembentukan Nasionalisme Indonesia

Sastra Lisan dan Pembentukan Nasionalisme Indonesia

20 Mei 2026
121
Membaca Humor: dari Sastra hingga Filsafat

Membaca Humor: dari Sastra hingga Filsafat

15 Mei 2026
145
Pembelajaran Sastra dan Penumbuhan Nilai Karakter

Pembelajaran Sastra dan Penumbuhan Nilai Karakter

2 April 2026
143
Sastra Diuji, Agama Dihafal: Krisis Pendidikan di Kampus yang Kehilangan Makna

Sastra Diuji, Agama Dihafal: Krisis Pendidikan di Kampus yang Kehilangan Makna

25 Maret 2026
153
Puisi-puisi Heri Isnaini

Puisi-puisi Heri Isnaini

16 April 2025
461
Next Post
Akar Panjang, Langkah Tenang: Catatan Seorang Kader

Politik itu Terlalu Penting untuk Hanya Diserahkan kepada Politisi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In