No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result
Home
Islam

Kurban dan Integritas Kepemimpinan

by Mujaddid
27 Mei 2026
in Islam, Keislaman, Nasional, Opini
Reading Time: 4 mins read
0
0
0
SHARES
49
VIEWS
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Farid Wajdi

Setiap kali pisau menyentuh leher hewan kurban, sesungguhnya ada pertanyaan yang lebih tajam sedang diarahkan kepada para pemegang kekuasaan: sudahkah ego, kerakusan, dan ambisi pribadi ikut disembelih?

Iduladha sering hadir dalam suasana penuh kegembiraan. Takbir bergema. Masjid dipenuhi jamaah. Asap sate mengepul dari halaman rumah ke rumah. Namun di balik seluruh kemeriahan itu, kurban menyimpan pesan yang jauh lebih mengguncang dibanding sekadar tradisi tahunan.

Kurban adalah ujian moral tentang integritas. Sebuah ujian yang tidak berlangsung di padang pasir ribuan tahun silam saja, melainkan terus hidup di setiap ruang kekuasaan hari ini.

Nabi Ibrahim AS tidak diperintahkan mengorbankan musuh. Tidak diminta menyerahkan harta rampasan. Tidak pula diminta menukar sesuatu yang tidak dicintai. Justru yang diminta adalah Ismail, anak yang lahir setelah penantian panjang, harapan yang tumbuh di usia senja, cinta yang paling dalam.

Al-Qur’an merekam momen itu dalam QS. Ash-Shaffat (37): 102: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Kalimat itu terasa sangat menggetarkan. Seorang nabi, pemimpin besar, tetap mengajak berdialog sebelum mengambil keputusan. Tidak ada pemaksaan. Tidak ada kesombongan kekuasaan. Yang hadir justru penghormatan terhadap martabat manusia. Di situlah kepemimpinan menemukan bentuknya yang paling luhur.

Hari ini, dunia justru dipenuhi model kepemimpinan yang bergerak ke arah sebaliknya. Kekuasaan dipertontonkan sebagai simbol superioritas. Jabatan dipakai untuk memperbesar privilese. Politik berubah menjadi arena transaksi. Integritas digantikan pencitraan. Kesederhanaan dipakai sekadar dekorasi elektoral.

Robert Greenleaf (1977) melalui konsep servant leadership menegaskan pemimpin sejati pertama-tama adalah pelayan. Kepemimpinan bukan hak untuk dimuliakan, melainkan kesiapan memikul beban orang lain. Namun realitas modern memperlihatkan ironi pahit: semakin tinggi jabatan, sering semakin tebal jarak dengan penderitaan rakyat.

Banyak pemimpin berbicara tentang pengabdian sambil menikmati fasilitas berlebihan.

Banyak elite mengutip ayat suci sambil menutup pintu keadilan.

Banyak pejabat tampil religius di depan kamera, tetapi gagal menjaga kejujuran dalam ruang kekuasaan.

Kurban lalu berubah menjadi kritik paling telanjang terhadap kemunafikan sosial semacam itu.

 

Takut Kehilangan Jabatan

James MacGregor Burns (1978) membedakan pemimpin transaksional dan transformasional. Pemimpin transaksional selalu bertanya: apa keuntungan yang dapat diperoleh dari kekuasaan?

Sebaliknya, pemimpin transformasional bertanya: apa pengorbanan yang sanggup diberikan demi perubahan yang lebih baik?

Pertanyaan itu terasa sangat relevan dalam kehidupan publik Indonesia hari ini. Politik terlalu sering dipenuhi hitung-hitungan elektoral. Jabatan diperlakukan sebagai investasi. Kekuasaan diwariskan melalui jejaring keluarga dan kelompok. Loyalitas kepada kepentingan publik kalah oleh loyalitas terhadap oligarki.

Padahal kurban justru mengajarkan kebalikan total dari mentalitas tersebut. Kurban adalah keberanian kehilangan demi sesuatu yang lebih besar. Nabi Ibrahim memperlihatkan integritas bukan sebagai slogan, melainkan tindakan yang mengandung risiko. Integritas selalu mahal. Integritas menuntut keberanian melawan kenyamanan pribadi.

Stephen Carter (1996) dalam Integrity menjelaskan tiga unsur utama integritas: memahami apa yang benar, bertindak sesuai kebenaran, dan berani menyatakan kebenaran meski mengandung konsekuensi berat. Persoalannya, banyak pemimpin berhenti pada tahap pertama. Banyak orang mengetahui mana yang benar, tetapi takut kehilangan jabatan, popularitas, atau dukungan politik.

Di sinilah kurban menjadi sangat relevan. Seekor hewan yang disembelih sesungguhnya hanyalah simbol. Yang lebih penting adalah kesediaan menyembelih egoisme, kerakusan, dan hasrat mempertahankan kekuasaan dengan segala cara. QS. Al-Hajj (22): 37 menegaskan: “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang sampai kepada-Nya.” Ayat tersebut seperti tamparan keras bagi siapa saja yang sibuk menjaga simbol religius tetapi mengabaikan moralitas publik.

 

Integritas Membusuk

Sebab sejarah memperlihatkan satu kenyataan pahit: bangsa tidak runtuh hanya karena kemiskinan ekonomi. Bangsa runtuh ketika integritas para pemimpinnya membusuk.
Frans Magnis-Suseno (1987) menegaskan kekuasaan tanpa moralitas hanya melahirkan dominasi dan penindasan. Ketika integritas hilang, hukum mudah diperjualbelikan. Kebijakan disusun demi kelompok tertentu. Rakyat kecil dipaksa menanggung beban krisis, sementara elite tetap hidup dalam kemewahan.

Iduladha sesungguhnya sedang mengajarkan logika kepemimpinan yang sangat berbeda. Seorang pemimpin seharusnya menjadi pihak pertama yang bersedia berkorban, bukan pihak pertama yang menikmati keuntungan. Masalahnya, budaya politik modern justru sering memberi panggung bagi karakter sebaliknya. Pemimpin yang jujur dianggap terlalu polos. Pemimpin yang sederhana dianggap tidak strategis. Pemimpin yang menolak korupsi sering disingkirkan oleh sistem yang sudah terbiasa dengan kompromi.

Warren Bennis (1989) menulis kepemimpinan dibentuk melalui pilihan-pilihan sulit yang diambil secara konsisten. Setiap pilihan itu mengandung pengorbanan kecil: mengorbankan popularitas demi kejujuran, mengorbankan kenyamanan demi keadilan, mengorbankan loyalitas kelompok demi kepentingan bangsa.

Krisis terbesar hari ini bukan kekurangan orang pintar. Dunia penuh orang cerdas. Kampus melahirkan ribuan sarjana setiap tahun. Teknologi berkembang luar biasa cepat. Namun integritas justru menjadi barang langka.

Media sosial memperparah keadaan. Kepemimpinan lebih sibuk mengelola persepsi dibanding membangun substansi. Banyak tokoh berlomba terlihat sederhana, terlihat religius, terlihat dekat dengan rakyat.
Padahal kedekatan sejati tidak lahir dari kamera, melainkan keberanian membela kepentingan publik ketika situasi terasa sulit.

M. Quraish Shihab (2012) menjelaskan amanah dalam Islam bukan sekadar tanggung jawab administratif, melainkan komitmen moral menjaga kepercayaan masyarakat. Amanah menuntut kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Ketika keduanya terpisah, kehancuran moral tinggal menunggu waktu.

Kurban mengingatkan satu hal penting: kepemimpinan sejati tidak diukur dari seberapa lama seseorang bertahan dalam kekuasaan, melainkan seberapa besar pengorbanan yang diberikan bagi kemanusiaan. Nabi Ibrahim mewariskan lebih dari sekadar ritual penyembelihan. Ibrahim mewariskan keberanian moral. Keberanian menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi. Keberanian mengalahkan ego. Keberanian memimpin tanpa kerakusan.

Mungkin karena itulah Iduladha selalu terasa relevan sepanjang zaman. Sebab setiap generasi selalu membutuhkan satu hal yang sama: pemimpin yang rela kehilangan sesuatu demi rakyatnya. Bukan pemimpin yang meminta rakyat terus berkorban demi mempertahankan kekuasaannya.

Sebab setiap kali darah kurban menetes ke tanah, sesungguhnya sejarah sedang kembali bertanya kepada manusia modern: Apa yang benar-benar rela disembelih demi keadilan: ego, atau hanya hewan kurban? (✳️)
.

Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU

 

Tags: Farid WajdiIntegritaskurbanpemimpin

Related Posts

Yang Penting Pidato
Kebangsaan

Yang Penting Pidato

3 Agustus 2026
8
Angka Kasus Keracunan Program MBG Terus Meningkat, Ethics of Care: Bukan Sekadar Statistik, tapi Potret Kegagalan Sistemik
Nasional

Mengkritik Putusan Mahkamah Konstitusi

31 Juli 2026
22
Hukum Wakaf dan Zakat: Pilar Keadilan Distributif Islam
Keislaman

Hukum Wakaf dan Zakat: Pilar Keadilan Distributif Islam

29 Juli 2026
13
Jika Korupsi Sudah Seperti Fardu Ain
Nasional

Jika Korupsi Sudah Seperti Fardu Ain

24 Juli 2026
20
Ethics of Care: Kelangkaan BBM Berulang di Sumut adalah Kegagalan Sistemik, Bukan Insiden
Daerah

Ethics of Care: Kelangkaan BBM Berulang di Sumut adalah Kegagalan Sistemik, Bukan Insiden

15 Juli 2026
12
Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
16

Recent Posts

  • Perkuat Ekosistem Digital Kampus, Rektor UMSU Temui Menteri Komdigi Meutya Hafid
  • Jadi Kontingen Terbesar di ASEAN, UMSU Utus 47 Mahasiswa Kuliah dan Studi Pengalaman di Malaysia
  • Menuntaskan Perjalanan, Menjaga Keteladanan
  • Analisis Faksionalisme, Akomodasi Politik, dan Paradoks Pelembagaan: Studi Kasus Partai Golkar Sumatera Utara
  • Memperkuat Karakter dan Pengabdian, FH UMSU Lepas 441 Mahasiswa Peserta KKN 2026

Recent Comments

  1. Waras mengenai Unik dan Edukatif, MuTu Fest Membatik SD Muhammadiyah 1 Bancar Kenalkan Batik Tulis pada Anak TK dan RA
  2. Waras mengenai Unik dan Edukatif, MuTu Fest Membatik SD Muhammadiyah 1 Bancar Kenalkan Batik Tulis pada Anak TK dan RA
  3. Ashsaism mengenai IMM Sumsel Dukung Zaki Nugraha jadi Caketum pada Muktamar IMM XX Palembang
  4. Ay mengenai Temanku
  5. Akuntansi mengenai Dukung Swasembada Pangan Nasional, Penyuluh Pertanian OKUT Normalisasi Saluran Irigasi

Follow Global Journal on:

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

© 2026 JNews – Premium WordPress News & Magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?
Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required.
Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.