Rabu, Juli 15, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Candu Populisme

Mujaddid by Mujaddid
2026/05/30
in Nasional, Opini, Tilikan
Reading Time: 3 mins read
0
Candu Populisme
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: M. Risfan Sihaloho

 

Pameo tua dari James Freeman Clarke pernah mengingatkan kita: “Seorang politisi yang berpikir tentang pemilu yang akan datang, seorang negarawan yang berpikir tentang generasi yang akan datang.”

Tapi mari kita jujur ​​dan realistis sejak awal: mengharapkan hadirnya seorang “negarawan” di panggung politik hari ini sepertinya hanyalah fatamorgana. Kita sedang hidup di era di mana isi kepala para pemimpin didominasi oleh syahwat kalkulasi pemilu, bukan cetak biru masa depan bangsa.

Walhasil, begitu karpet merah digelar dan kursi empuk kekuasaan diduduki, pikiran pertama yang terlintas bukanlah bagaimana menuntaskan janji, melainkan bagaimana mencari cara agar kenyamanan ini tidak hilang lima tahun lagi.

Bagi sebuah rezim yang baru saja dilantik, durasi kekuasaan lima tahun itu rasanya cuma sekejap mata. Terlalu pendek untuk berkhidmat setulus hati.  Begitu karpet merah dihamparkan dan kursi empuk diduduki, aroma wangi kekuasaan langsung memicu dopamin untuk berpikir: “Bagaimana cara agar kenyamanan ini tidak hilang lima tahun lagi?”

Maka, alih-alih sibuk bekerja untuk fondasi bangsa, cetak biru strategi pemilu berikutnya langsung dirancang di balik pintu tertutup. Terlebih jika ini adalah periode pertama mereka. Nafsu rezim untuk berkuasa kembali selalu lebih seksi daripada visi memajukan negeri.

Cara paling instan dan praktis untuk mengamankan kekuasaan itu adalah dengan memelihara “populisme”. Berbekal ribuan triliun rupiah di dalam pundi-pundi APBN—yang notabene dipkutip dari pajak rakyat sendiri—rezim memiliki modal yang amat sangat cukup untuk membiayai popularitas mereka. Di sinilah letak ironi terbesar: anggaran negara yang seharusnya menjadi motor penggerak transformasi masa depan, dialihfungsikan menjadi alat kosmetik elektoral demi mengamankan elektabilitas.

Dalam pusaran populisme ini, rezim tidak sedang sibuk “memenangkan” hati rakyat melalui pencapaian yang substantif, melainkan sekadar sibuk “menyenangkan” rakyat dengan kesenangan semu yang berjangka pendek.

Jangan pernah berharap ada program populis yang visioner. Itu haram hukumnya dalam kitab suci politik elektoral. Mengapa? Karena program visioner—seperti membenahi sistem pendidikan fundamental atau membangun industri teknologi mandiri—butuh waktu belasan tahun untuk terlihat hasilnya. Politisi tidak butuh itu. Mereka butuh sesuatu yang instan, yang bisa difoto, dipamerkan di media sosial, dan langsung dikonversi menjadi suara di TPS pada Pemilu selanjutnya.

Mengapa rezim begitu percaya diri dengan jualan populisme murahan ini? Jawabannya ada pada anekdot kuno dari daratan Tiongkok: “Selagi ayam masih doyan makan jagung, semuanya gampang diatur”.

Rezim paham betul bahwa mayoritas rakyat kita masih berada dalam kondisi yang naif secara politik dan dhaif secara ekonomi. Mengubah isi kepala rakyat agar cerdas dan kritis itu tidak menguntungkan, bahkan justru berbahaya bagi stabilitas kekuasaan. Jauh lebih mudah dan murah untuk membiarkan mereka tetap lapar, lalu datang sebagai pahlawan kesiangan dengan mengguyur bantuan sosial (bansos) menjelang hari pencoblosan. Cukup tebarkan beberapa genggam “jagung”, maka “ayam-ayam” itu akan berkerumun, patuh, dan melupakan fakta bahwa mereka sedang dikurung dalam kemiskinan yang sistemik.

Lalu, ke mana perginya suara-suara yang menolak pembodohan ini? Oh, tentu saja ada resistensi. Tapi biasanya keluhan itu hanya datang dari kubu oposisi yang kerap dituding tak bisa move on dari kekalahan, atau dari segelintir masyarakat terpelajar dan akademisi kritis. Sayangnya, di republik yang lebih menghargai kuantitas ketimbang kualitas ini, kaum kritis adalah minoritas yang inferior. Suara bernas akal sehat mereka dengan mudah diredam oleh bisingnya sorak-sorai kelompok pemuja bansos dan pasukan pendengung bayaran (buzzeRp)

Jika tradisi politik “menyuapi ayam dengan jagung” ini terus dipelihara, dan rezim tetap alergi terhadap kebijakan yang visioner serta transformatif, maka selamat datang di lingkaran setan stagnasi.

Kita boleh saja bermimpi tentang kejayaan atau menjadi bangsa yang maju. Namun selama para pemimpinnya masih berpikir layaknya pedagang eceran yang mengejar setoran lima tahunan, kemajuan bangsa ini sepertinya akan tetap menjadi dongeng pengantar tidur yang indah, sementara realitanya, kita hanya berjalan di tempat sambil berebut remah-remah jagung yang dilemparkan dari atas panggung kekuasaan. (*)

Tags: CanduElektoralPopulisme
Previous Post

Dari Tanah Konservasi Papua Barat, SMAMCO Manokwari Hadirkan Model Pendidikan Masa Depan

Next Post

Uisdah, Hari Sabtu Lagi, Candaan yang Sebenarnya Sangat Serius

Related Posts

Ethics of Care: Kelangkaan BBM Berulang di Sumut adalah Kegagalan Sistemik, Bukan Insiden

Ethics of Care: Kelangkaan BBM Berulang di Sumut adalah Kegagalan Sistemik, Bukan Insiden

15 Juli 2026
105
Belum Sempat Mengenal, Sudah Harus Berpisah

Belum Sempat Mengenal, Sudah Harus Berpisah

15 Juli 2026
108
Pertamina: Agonizing Indonesia

Pertamina: Agonizing Indonesia

15 Juli 2026
142
Ketika Negara Lupa Menjaga Hak untuk Percaya

Ketika Negara Lupa Menjaga Hak untuk Percaya

14 Juli 2026
105
Puisi-puisi Zahra Nur Alfiyah

Puisi~puisi Zahra Nur Alfiyah (2)

14 Juli 2026
108
Ketika Orang Batak Mengajarkan Kelembutan

Ketika Orang Batak Mengajarkan Kelembutan

14 Juli 2026
117
Next Post
Uisdah, Hari Sabtu Lagi, Candaan yang Sebenarnya Sangat Serius

Uisdah, Hari Sabtu Lagi, Candaan yang Sebenarnya Sangat Serius

Ousmane Dembélé: Di Antara Gemuruh Stadion, Dekapan Hangat Keluarga, dan Teduhnya Doa

Ousmane Dembélé: Di Antara Gemuruh Stadion, Dekapan Hangat Keluarga, dan Teduhnya Doa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20082 shares
    Share 8033 Tweet 5021
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11917 shares
    Share 4767 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9189 shares
    Share 3676 Tweet 2297
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6311 shares
    Share 2524 Tweet 1578
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6099 shares
    Share 2440 Tweet 1525

OPINI

Belum Sempat Mengenal, Sudah Harus Berpisah
Daerah

Belum Sempat Mengenal, Sudah Harus Berpisah

15 Juli 2026
108
Pertamina: Agonizing Indonesia
Daerah

Pertamina: Agonizing Indonesia

15 Juli 2026
142
Ketika Negara Lupa Menjaga Hak untuk Percaya
Esai

Ketika Negara Lupa Menjaga Hak untuk Percaya

14 Juli 2026
105
Ketika Orang Batak Mengajarkan Kelembutan
Daerah

Ketika Orang Batak Mengajarkan Kelembutan

14 Juli 2026
117
Mengapa Perkaderan Bukan Pengkaderan
Daerah

Mengapa Perkaderan Bukan Pengkaderan

13 Juli 2026
114
Menjalani Hidup yang ‘Excellent’, Bukan ‘Sok Paten’
Daerah

Menjalani Hidup yang ‘Excellent’, Bukan ‘Sok Paten’

13 Juli 2026
117

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan