Oleh: M. Risfan Sihaloho
Di bawah langit kota Vernon, sebuah wilayah tenang di Normandy, Prancis, langkah kaki kecil seorang bocah sering kali merobek kesunyian jalanan.
Bocah itu adalah Masour Ousmane Dembélé. Lahir pada 15 May 1997 dari ibu berdarah Mauritania-Senegal dan ayah asal Mali, Ousmane tumbuh di lingkungan imigran yang bersahaja. Di sana, hidup tidak pernah menyajikan kemewahan di atas nampan perak, tetapi jalanan Évreux memberinya sesuatu yang jauh lebih berharga: kebebasan untuk berlari dan sebuah bola yang setia menemani kakinya.
Sejak usia 12 tahun, bakat alamiah Ousmane sudah sulit disembunyikan. Tubuhnya kurus, tetapi ia memiliki anugerah langka yang kelak membuat para bek terbaik di dunia pusing tujuh keliling—ia tidak memiliki kaki dominan. Baginya, menendang, menggiring, dan mengoper dengan kaki kiri terasa senatural menggunakan kaki kanan.
Kemampuan “dua kaki” yang magis ini diasah di klub lokal ALM Évreux dan Évreux FC 27, sebelum akhirnya pemandu bakat Stade Rennais memboyongnya ke akademi mereka pada tahun 2010.
Melesat ke Panggung Dunia: Dari Rennes hingga Kejayaan Ballon d’Or
Perjalanan karir profesional Dembélé adalah sebuah cerita tentang akselerasi yang eksponensial. Di Rennes, ia hanya butuh satu musim (2015–2016) di tim utama untuk dinobatkan sebagai Ligue 1 Young Player of the Year. Dunia mulai menoleh, dan Borussia Dortmund bergerak cepat mengamankan tanda tangannya pada tahun 2016. Di Signal Iduna Park, ia menjelma menjadi pelayan assist yang mematikan dan turut mempersembahkan trofi DFB-Pokal 2017.
Kepergian Neymar dari Barcelona ke Paris Saint-Germain memicu efek domino yang tak terhindarkan. Pada Agustus 2017, raksasa Catalan merogoh kocek fantastis sebesar €105 juta demi mendaratkan pemuda berusia 20 tahun ini ke Camp Nou.
Namun, hidup tidak selalu berjalan mulus. Di Barcelona, Ousmane diuji oleh badai cedera otot hamstring yang datang silih berganti. Kritik media mengalir deras, meragukan gaya hidup dan profesionalismenya. Namun di sinilah letak mentalitas baja seorang Dembélé; ia menolak tumbang. Di tengah cedera, ia tetap menjadi bagian dari skuad Timnas Prancis yang mengangkat trofi FIFA World Cup 2018 di Rusia dan finis sebagai *runners-up* di Piala Dunia 2022.
Puncak pendewasaan karirnya terjadi saat ia memutuskan pulang ke tanah kelahirannya untuk membela Paris Saint-Germain (PSG) pada tahun 2023. Mengenakan nomor punggung 10 warisan Neymar, Dembélé bertransformasi menjadi versi terbaik dirinya.
Konsistensinya berlanjut hingga musim berikutnya di mana ia kembali mempertahankan gelar Ligue 1 Player of the Year. Dari bocah kurus di jalanan Normandy, ia telah menyejajarkan namanya di jajaran elit sejarah sepak bola sebagai salah satu dari sedikit pemain yang mengawinkan trofi Piala Dunia, Champions League, dan Ballon d’Or.

Jangkar Spiritual dan Keteduhan Hidup Pribadi
Di balik kilatan lampu blitz stadion dan gemuruh puluhan ribu suporter, Ousmane Dembélé adalah sosok yang sangat menjaga privasinya. Ia menemukan kedamaian yang kontras dengan hiruk-pikuk sepak bola modern melalui keyakinannya sebagai seorang Muslim yang taat.
Bagi Dembélé, agama bukan sekadar identitas di kartu nama, melainkan kompas moral dan pelindung batin. Di tengah tekanan media Spanyol dan Prancis yang begitu intens, ia dikenal tetap menjalankan ibadah puasa Ramadan meski harus bertanding di level tertinggi. Nilai-nilai spiritual ini memberinya ketenangan di masa-masa sulit saat ia harus menepi berbulan-bulan akibat cedera parah.
Keteduhan hidup pribadinya semakin lengkap ketika ia memutuskan mengakhiri masa lajangnya. Pada Desember 2021, Ousmane menikah dengan Rima Edbouche, seorang wanita Prancis keturunan Maroko yang juga dikenal sebagai seorang konten kreator fesyen berhijab yang bersahaja. Pernikahan mereka digelar secara tertutup dalam prosesi tradisional Maroko yang sakral dan intim, jauh dari kemewahan pesta selebritas pada umumnya.
“Saya telah mencapai impian saya bermain untuk klub-klub besar, bermain dengan nama-nama besar seperti Lionel Messi dan Andrés Iniesta, dan saya belajar banyak dari mereka,” ungkap Dembélé dengan rendah hati saat menerima penghargaan Ballon d’Or.
Kehadiran seorang putri kecil yang lahir pada September 2022 semakin menyempurnakan perannya sebagai seorang kepala keluarga. Di rumah, ia bukanlah megabintang pemenang Ballon d’Or, melainkan seorang ayah dan suami yang mencari kebahagiaan dalam kesederhanaan.
Kisah Masour Ousmane Dembélé mengajarkan kita bahwa bakat besar barulah separuh dari perjalanan. Separuh sisanya dibentuk oleh ketahanan menghadapi badai kritik, kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan fisik, serta sebuah jangkar spiritual yang kuat yang membuat kaki tetap memijak bumi, sekencang apa pun angin kesuksesan meniupnya. (*)

