TAJDID.ID~Bandung 🔳 Suasana khidmat dan penuh kebersamaan mewarnai pelaksanaan Salat Idul Adha 1447 Hijriah yang digelar Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bersama PCM Panyileukan. Jemaah memadati halaman kampus UM Bandung di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kota Bandung, Rabu (27/05/2026), untuk menunaikan ibadah sekaligus merefleksikan makna pengorbanan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Pada pelaksanaan salat Idul Adha tersebut, Wakil Ketua Dikdasmen PCM Panyileukan Dr Muhammad Parhan Mubarok MAg bertindak sebagai imam sekaligus khatib. Dalam khotbahnya, dia mengajak umat Islam untuk memaknai kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS bukan sekadar peristiwa kurban, melainkan pelajaran besar tentang pentingnya keluarga sebagai fondasi membangun peradaban.
Mubarok menegaskan bahwa Allah SWT melalui kisah Nabi Ibrahim dan Ismail menunjukkan betapa keluarga memiliki peran sentral dalam melahirkan masyarakat yang kuat, bahagia, dan sejahtera. Menurutnya, masyarakat yang baik tidak akan lahir tanpa keluarga yang harmonis dan dibangun dengan nilai-nilai keislaman yang kokoh.
“Ketika berbicara tentang keluarga, maka kita juga berbicara mengenai salah satu unsur terpenting di dalamnya, yakni anak-anak. Teladan anak terbaik sepanjang sejarah diperankan oleh Ismail yang kemudian diangkat menjadi nabi oleh Allah SWT. Bahkan dari keturunannya lahir Nabi Muhammad SAW, nabi akhir zaman,” ujarnya di hadapan jemaah.
Dalam khotbahnya, Mubarok juga menyoroti berbagai persoalan sosial yang saat ini menimpa generasi muda. Fenomena eksploitasi anak, seks dan pergaulan bebas, minuman keras, hingga keterlibatan dalam geng motor, menurutnya, tidak muncul begitu saja, tetapi kerap berakar dari pola pengasuhan keluarga yang kurang tepat.
Dia menjelaskan, terdapat dua sikap orang tua yang sama-sama berpotensi menimbulkan masalah. Di satu sisi, ada orang tua yang terlalu memanjakan anak hingga seluruh keinginannya dipenuhi tanpa batas. Namun, di sisi lain, tidak sedikit pula orang tua yang justru mengabaikan, menelantarkan, bahkan melakukan kekerasan terhadap anak-anak mereka.
Menurutnya, sebagian orang tua kerap keliru memaknai kasih sayang. Kasih sayang sering kali hanya diukur dari kemampuan memenuhi berbagai fasilitas dan keinginan anak, bahkan terkadang dilakukan demi menjaga gengsi sosial semata. Padahal, kebutuhan anak bukan hanya soal materi, melainkan perhatian, keteladanan, dan pendampingan yang utuh.
Oleh karena itu, Mubarok mengajak umat Islam menjadikan momentum Idul Adha sebagai ruang untuk kembali belajar dari keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Kisah keduanya, kata dia, menyimpan pelajaran berharga tentang pentingnya membangun keluarga yang tidak hanya kuat secara lahiriah, tetapi kokoh secara spiritual.
Pelajaran pertama yang dapat dipetik, lanjutnya, orang tua yang menginginkan anak saleh dan salehah harus memulai perubahan dari dirinya sendiri. Orang tua perlu mempersiapkan diri menjadi teladan terbaik. Sebab, mendidik anak tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan hidup, tetapi menghadirkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Dia pun mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 4 yang menegaskan bahwa Nabi Ibrahim merupakan teladan terbaik bagi umat manusia. Menurutnya, perjalanan hidup Nabi Ibrahim dipenuhi berbagai ujian justru ketika dia terus berusaha menjadi hamba yang saleh, mencintai Allah SWT, dan dicintai-Nya.
Selain itu, pelajaran lain yang tidak kalah penting dari kisah Nabi Ibrahim adalah kesungguhan dalam berdoa memohon keturunan yang saleh. Mubarok mengingatkan bahwa doa Nabi Ibrahim diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam Surah Ash-Shaffat ayat 100 dan Surah Ibrahim ayat 40.
Menutup khotbahnya, Mubarok mengajak seluruh umat Islam untuk bersungguh-sungguh membangun keluarga yang saleh dan taat kepada Allah SWT. Menurutnya, ikhtiar menghadirkan keluarga yang baik harus dilakukan secara maksimal, baik melalui usaha lahir maupun batin, dan tidak boleh kalah dari semangat manusia dalam mengejar urusan duniawi.
Melalui momentum Idul Adha, pesan tentang pengorbanan tidak berhenti pada penyembelihan hewan kurban semata. Lebih dari itu, Idul Adha menjadi pengingat bahwa keluarga yang kuat, penuh keteladanan, dan dibangun atas dasar iman merupakan investasi terbesar dalam melahirkan generasi unggul dan peradaban yang lebih baik. (FA)








