Belakangan ini, lini masa kita mendadak riuh oleh sekumpulan orang kreatif yang biasa kita sebut influencer pro-pemerintah. Dengan senyum sumringah dan grafik yang dipaksakan terlihat estetik, mereka kompak menyuarakan narasi baru: bahwa Rupiah yang sedang loyo terhadap Dollar AS bukanlah sebuah kelemahan, melainkan sebuah “strategi”.
Sebuah plot twist yang luar biasa, bukan? Publik pun garuk-garuk kepala.
Sementara itu, di sudut lain, para ekonom senior justru sibuk mengerutkan dahi, memelototi data, dan meniup peluit tanda bahaya bahwa kita sedang berjalan mendekati jurang krisis.
Jadi, mana yang benar? Apakah pelemahan Rupiah ini adalah sebuah masterclass strategi catur geopolitik dari pemerintah, ataukah justru sebuah tragedi ekonomi yang coba “dikemas” agar terlihat seperti prestasi?
Mari kita bedah secara kritis, objektif, dan sedikit menggunakan akal sehat.
Narasi “Strategi”: Romantisme Merkantilisme yang Salah Kamar
Mari kita pelajari dulu dari mana basis teori yang dipakai para influencer ini—jika kita berasumsi mereka benar-benar membaca buku teori ekonomi, bukan sekadar membaca briefing teks WhatsApp.
Secara teoritis, pelemahan mata uang domestik (depresiasi) memang bisa menguntungkan dalam kondisi tertentu. Ini didasarkan pada Teori Merkantilisme dan konsep daya saing ekspor:
Ekspor Jadi Lebih Murah: Ketika Rupiah melemah, barang-barang buatan Indonesia menjadi lebih murah bagi pembeli di luar negeri yang menggunakan Dollar. Eksportir kita (seperti pengusaha sawit, batu bara, atau tekstil) di atas kertas akan kebanjiran order.
Impor Jadi Lebih Mahal: Karena Dollar mahal, masyarakat akan mengerem belanja barang impor dan beralih ke produk lokal.
Namun logika satirnya, kalau menggunakan kacamata kuda ini, maka negara dengan mata uang paling hancur di dunia seperti Venezuela atau Zimbabwe seharusnya menjadi raksasa ekspor dunia yang paling disegani saat ini. Tapi, faktanya tidak begitu, bukan?
Realita di Lapangan: Tragedi “Structural Squeeze”
Mengapa narasi strategi tadi terdengar seperti dongeng sebelum tidur bagi para pelaku usaha riil? Jawabannya, karena struktur ekonomi Indonesia tidak sesederhana formula di buku teks ekonomi makro tingkat dasar.
Ada beberapa alasan mengapa pelemahan Rupiah lebih dekat kepada tragedi ketimbang strategi:
Pertama, Jebakan “Imported Inflation” (Inflasi yang Diimpor)
Indonesia adalah negara yang industri manufakturnya memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku dan barang modal impor (mencapai lebih dari 70%).
Ketika Rupiah melemah, biaya membeli bahan baku penolong dari luar negeri melonjak drastis.
Akibatnya, biaya produksi dalam negeri membengkak. Pengusaha dihadapkan pada dua pilihan pahit: menaikkan harga jual (yang membuat masyarakat berhenti membeli) atau memotong margin keuntungan hingga titik darah penghabisan.
Kedua, Beban Utang Luar Negeri yang Membengkak
Baik pemerintah maupun korporasi swasta kita memiliki utang dalam denominasi Dollar AS. Ketika Rupiah keok, secara otomatis jumlah Rupiah yang harus dikeluarkan untuk membayar cicilan pokok dan bunga utang tersebut meroket, tanpa perlu menambah utang baru. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang seharusnya bisa dipakai untuk subsidi rakyat atau membangun infrastruktur produktif, terpaksa tersedot untuk menyubsidi selisih kurs.
Teori yang Terbentur Realita: J-Curve Effect
Dalam ekonomi, ada namanya fenomena Kurva-J (J-Curve Effect). Ketika mata uang melemah, neraca perdagangan tidak langsung membaik. Justru dalam jangka pendek, neraca perdagangan akan memburuk dulu karena nilai impor langsung melonjak, sementara volume ekspor butuh waktu berbulan-bulan (bahkan bertahun-tahun) untuk bisa naik—itu pun jika pasar global sedang bergairah dan produk kita punya daya saing tinggi.

Perbandingan Sudut Pandang: Strategi vs Tragedi
Jika kita menyeberang ke jagat maya tempat para influencer pro-pemerintah berkumpul, pelemahan mata uang ini digambarkan bak sebuah berkah tersembunyi yang jenius.
Dalam narasi mereka, anjloknya nilai tukar adalah stimulus instan bagi sektor ekspor. Logikanya sederhana: harga produk lokal menjadi jauh lebih kompetitif di pasar global, sehingga keran dolar dari luar negeri akan mengalir deras ke kantong eksportir kita.
Di ranah domestik, mereka juga mengklaim bahwa merosotnya Rupiah adalah momentum emas untuk mendongkrak daya beli masyarakat terhadap produk lokal. Karena barang-barang impor mendadak menjadi barang mewah yang tak terjangkau, masyarakat “dipaksa” secara halus untuk mencintai, mencari, dan membeli produk dalam negeri.
Dari sudut pandang ini, sentimen pasar digoreng sedemikian rupa untuk membangun persepsi bahwa pemerintah dan bank sentral memegang kendali penuh atas arah kebijakan moneter kita, seolah-olah semua ini berjalan sesuai dengan grand design yang rapi.
Namun, begitu kita melangkah keluar dari layar gawai dan mengetuk pintu ruang kerja para pakar ekonomi, dongeng indah itu langsung runtuh berantakan. Realita akademis justru menyodorkan potret yang jauh lebih kelam dan berdarah-darah.
Di sektor ekspor, alih-alih melejit, para pengusaha justru terhambat dan menjerit. Bagaimana bisa mengekspor barang dengan murah jika biaya bahan baku penolongnya masih harus diimpor dengan harga Dollar yang mencekik leher?
Narasi tentang meroketnya produk lokal pun langsung terbantahkan ketika melihat daya beli masyarakat di pasar riil yang justru terpukul hebat. Rakyat kecil tidak sedang menyortir barang mewah impor, melainkan sedang kelimpungan menghadapi harga barang pokok dan pangan harian—seperti kedelai, gandum, hingga tahu dan tempe—yang ikut merangkak naik karena faktor imported inflation.
Pada akhirnya, sentimen pasar yang terjadi di lantai bursa bukanlah kekaguman atas sebuah strategi, melainkan kepanikan yang ditandai dengan aksi capital outflow. Para investor asing yang realistis memilih menarik modalnya dan angkat kaki dari pasar domestik karena kehilangan kepercayaan pada stabilitas mata uang kita. Di titik inilah kita sadar, apa yang di media sosial dirayakan sebagai strategi, di dunia nyata justru sedang diratapi sebagai sebuah tragedi.
Epilog: Jangan Membedaki Wajah yang Sedang Pucat
Menyebut pelemahan Rupiah sebagai “strategi sengaja” adalah sebuah lompatan logika yang terlalu berani—atau jika boleh jujur, sebuah penyesatan publik yang dibungkus komunikasi publik yang buruk.
Bank Indonesia (BI) bahkan harus jatuh bangun menguras cadangan devisa dan menaikkan suku bunga acuan demi menahan agar Rupiah tidak merosot lebih dalam.
Jika pelemahan ini adalah sebuah strategi yang diinginkan, mengapa bank sentral kita harus repot-repot “membakar” Dollar untuk mengintervensi pasar? Tentu tindakan BI ini menegaskan bahwa pelemahan ini adalah masalah serius, bukan bagian dari rencana makro yang indah.
Pelemahan Rupiah saat ini adalah alarm. Ia mencerminkan rapuhnya struktur industri kita yang belum mandiri secara bahan baku, serta besarnya tekanan eksternal (seperti kebijakan suku bunga tinggi Bank Sentral AS/The Fed dan tensi geopolitik global).
Mengakui bahwa ekonomi sedang menghadapi tantangan berat jauh lebih terhormat dan mengedukasi masyarakat, ketimbang meminta para influencer menghibur publik dengan narasi fiksi.
Karena pada akhirnya, stabilitas ekonomi tidak ditentukan oleh berapa banyak views dan likes di media sosial, melainkan oleh harga barang-barang di pasar tradisional yang harus dibayar oleh rakyat kecil. (*)
Artikel ini disusun Tim Riset & Investigasi TAJDID.ID



