Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Beberapa waktu terakhir, saya semakin sering menerima pesan pribadi setelah menulis tentang Muhammadiyah. Ada yang menyampaikan dukungan, ada yang memberi kritik, ada pula yang bercerita tentang dinamika organisasi di daerahnya masing-masing.
Menariknya, sebagian besar tidak disampaikan di ruang terbuka. Mereka memilih berbicara secara personal, dengan satu alasan sederhana: karena masih ingin menjaga adab dalam ber-Muhammadiyah.
Bagi saya, itu pertanda baik. Artinya, rasa memiliki terhadap Persyarikatan masih hidup. Orang masih mau menasihati dengan cinta, mengoreksi dengan keikhlasan, dan menjaga marwah organisasi tanpa harus saling mempermalukan.
Dan memang, Muhammadiyah tidak pernah dibangun oleh manusia-manusia sempurna. Ia dibangun oleh orang biasa yang mau belajar, mau berkorban, dan mau memperbaiki diri secara terus-menerus.
Karena itu, kritik dalam Muhammadiyah seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai bagian dari ikhtiar menjaga organisasi tetap sehat.
Organisasi Besar dengan Tantangan yang Besar
Sampai hari ini, Muhammadiyah masih menjadi salah satu organisasi Islam paling rapi dan teratur di Indonesia.
Bayangkan saja, ribuan amal usaha berdiri dan bergerak di bawah Persyarikatan: sekolah, kampus, rumah sakit, panti asuhan, lembaga zakat, hingga berbagai gerakan sosial dan kemanusiaan.
Tidak banyak organisasi yang mampu bertahan lintas generasi dengan sistem yang tetap hidup seperti Muhammadiyah.
Tetapi justru karena besar itulah, tantangan yang dihadapi juga semakin kompleks.
Persoalan kaderisasi. Pengelolaan amal usaha. Persaingan kepentingan. Dinamika kepemimpinan. Sampai soal bagaimana menjaga keikhlasan di tengah besarnya organisasi.
Di sinilah Muhammadiyah membutuhkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar kecerdasan administratif: yakni kebijaksanaan moral.
Tema Muktamar “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” sesungguhnya bukan sekadar slogan indah. Ia adalah pengingat bahwa kecerdasan dalam Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada aspek akademik atau kelembagaan semata.
Kecerdasan juga berarti kemampuan menjaga amanah. Kemampuan bersikap adil. Kemampuan menerima kritik. Dan kemampuan menempatkan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Sebab semesta tidak akan bercahaya jika organisasi justru dipenuhi ego dan perebutan pengaruh.
Ketika Muhammadiyah Mulai Terasa Milik Kelompok Tertentu
Kegelisahan yang sering muncul hari ini sebenarnya sederhana: ada perasaan bahwa di beberapa tempat Muhammadiyah mulai terasa “milik segelintir orang”.
Kalimat seperti ini mulai sering terdengar:
“Kami lahir dari keluarga Muhammadiyah.”
“Sekolah ini dibangun orang tua kami.”
“Kami sudah lama mengurus amal usaha ini.”
Kalimat-kalimat itu tentu tidak salah. Bahkan bisa menjadi bagian dari sejarah pengabdian yang patut dihormati.
Tetapi persoalan muncul ketika sejarah pengabdian berubah menjadi legitimasi kekuasaan.
Ketika amal usaha mulai dianggap milik kelompok tertentu. Ketika jabatan terasa hanya berputar di lingkaran yang sama. Ketika kader lain sulit mendapat ruang untuk tumbuh.
Padahal Muhammadiyah sejak awal bukan organisasi genealogis. Ia bukan gerakan darah dan keturunan. Ia adalah gerakan ide, dakwah, dan amal sosial.
Yang membuat seseorang layak memimpin bukan karena garis keluarganya, tetapi karena integritas, kapasitas, dan keteladanan hidupnya.
Dari Gotong Royong ke Dominasi
Fenomena lain yang juga sering terjadi justru lebih ironis.
Saat amal usaha masih kecil, semua bergerak bersama.
Ada yang mencari murid. Ada yang mengajar tanpa memikirkan honor. Ada yang menyumbang tenaga, pikiran, bahkan harta pribadi.
Pimpinan dan anggota Muhammadiyah sama-sama berjuang menjaga sekolah tetap hidup.
Namun ketika amal usaha mulai besar, murid mulai banyak, dan pengaruh mulai terasa, perlahan muncul dominasi kelompok tertentu.
Kadang juga terjadi sebaliknya: ketika kecil pimpinan dan anggota Muhammadiyah berjuang bersama, namun ketika besar justru muncul sekelompok orang yang mendominasi.
Mereka merasa paling memiliki. Merasa paling berhak menentukan arah. Dan tanpa sadar mulai menutup ruang bagi kader lain untuk berkembang.
Padahal Muhammadiyah dibesarkan oleh gotong royong panjang banyak orang. Bukan satu kelompok. Bukan satu keluarga. Dan bukan satu generasi saja.
Ironisnya, mereka yang paling banyak berkeringat saat membangun di awal justru kadang tersingkir ketika amal usaha mulai maju.
Politik Jabatan dan Pudarnya Ruh Dakwah
Musyawarah dalam Muhammadiyah sejatinya adalah ruang mencari amanah.
Tetapi dalam beberapa dinamika organisasi, suasananya mulai terasa seperti arena kontestasi pengaruh.
Ada lobi. Ada kubu. Ada tarik-menarik kepentingan.
Padahal jabatan dalam Muhammadiyah bukan simbol kemenangan, melainkan tambahan tanggung jawab.
Ketika jabatan mulai diperebutkan, maka ruh dakwah perlahan memudar.
Amal usaha berubah dari pusat pengabdian menjadi pusat kekuasaan.
Kaderisasi akhirnya tidak lagi berbasis kualitas, tetapi kedekatan kelompok.
Jika ini terus berlangsung, maka organisasi bisa tetap besar secara fisik, tetapi kehilangan cahaya moralnya.
Menjaga Cahaya Persyarikatan
Muhammadiyah terlalu besar untuk dimiliki segelintir orang.
Ia adalah rumah bersama. Rumah dakwah. Rumah ilmu. Rumah pengabdian.
Karena itu, yang harus dijaga bukan hanya bangunan fisiknya, tetapi juga ruh keikhlasan yang menjadi fondasinya.
Tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” seharusnya mengingatkan kita bahwa cahaya organisasi tidak lahir dari banyaknya jabatan, megahnya gedung, atau besarnya kekuasaan.
Cahaya itu lahir dari keteladanan. Dari kejujuran. Dari keberanian menerima kritik. Dan dari keikhlasan orang-orang yang bekerja tanpa merasa paling memiliki.
Muhammadiyah akan tetap besar jika tetap terbuka terhadap pembenahan.
Sebab organisasi yang sehat bukan organisasi tanpa masalah, melainkan organisasi yang tidak pernah berhenti memperbaiki diri.
Dan mungkin, di tengah dinamika zaman yang semakin rumit ini, tugas terbesar warga Persyarikatan adalah menjaga agar Muhammadiyah tetap menjadi gerakan pencerahan— bukan berubah menjadi feodalisme organisasi yang dibungkus bahasa pengabdian. (*)
Silaturrahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni







