• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Selasa, Mei 19, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

“Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” dan Tantangan Menjaga Ruh Muhammadiyah

Jufri by Jufri
2026/05/19
in Esai, Jufri Daily, Kemuhammadiyahan, Muhammadiyah, Muktamar 49, Nasional, Opini
0
“Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” dan Tantangan Menjaga Ruh Muhammadiyah
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Beberapa waktu terakhir, saya semakin sering menerima pesan pribadi setelah menulis tentang Muhammadiyah. Ada yang menyampaikan dukungan, ada yang memberi kritik, ada pula yang bercerita tentang dinamika organisasi di daerahnya masing-masing.

Menariknya, sebagian besar tidak disampaikan di ruang terbuka. Mereka memilih berbicara secara personal, dengan satu alasan sederhana: karena masih ingin menjaga adab dalam ber-Muhammadiyah.

Bagi saya, itu pertanda baik. Artinya, rasa memiliki terhadap Persyarikatan masih hidup. Orang masih mau menasihati dengan cinta, mengoreksi dengan keikhlasan, dan menjaga marwah organisasi tanpa harus saling mempermalukan.

Dan memang, Muhammadiyah tidak pernah dibangun oleh manusia-manusia sempurna. Ia dibangun oleh orang biasa yang mau belajar, mau berkorban, dan mau memperbaiki diri secara terus-menerus.

Karena itu, kritik dalam Muhammadiyah seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai bagian dari ikhtiar menjaga organisasi tetap sehat.

 

Organisasi Besar dengan Tantangan yang Besar

Sampai hari ini, Muhammadiyah masih menjadi salah satu organisasi Islam paling rapi dan teratur di Indonesia.

Bayangkan saja, ribuan amal usaha berdiri dan bergerak di bawah Persyarikatan: sekolah, kampus, rumah sakit, panti asuhan, lembaga zakat, hingga berbagai gerakan sosial dan kemanusiaan.

Tidak banyak organisasi yang mampu bertahan lintas generasi dengan sistem yang tetap hidup seperti Muhammadiyah.

Tetapi justru karena besar itulah, tantangan yang dihadapi juga semakin kompleks.

Persoalan kaderisasi. Pengelolaan amal usaha. Persaingan kepentingan. Dinamika kepemimpinan. Sampai soal bagaimana menjaga keikhlasan di tengah besarnya organisasi.

Di sinilah Muhammadiyah membutuhkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar kecerdasan administratif: yakni kebijaksanaan moral.

Tema Muktamar “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” sesungguhnya bukan sekadar slogan indah. Ia adalah pengingat bahwa kecerdasan dalam Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada aspek akademik atau kelembagaan semata.

Kecerdasan juga berarti kemampuan menjaga amanah. Kemampuan bersikap adil. Kemampuan menerima kritik. Dan kemampuan menempatkan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Sebab semesta tidak akan bercahaya jika organisasi justru dipenuhi ego dan perebutan pengaruh.

 

Ketika Muhammadiyah Mulai Terasa Milik Kelompok Tertentu

Kegelisahan yang sering muncul hari ini sebenarnya sederhana: ada perasaan bahwa di beberapa tempat Muhammadiyah mulai terasa “milik segelintir orang”.

Kalimat seperti ini mulai sering terdengar:

“Kami lahir dari keluarga Muhammadiyah.”

 

“Sekolah ini dibangun orang tua kami.”
“Kami sudah lama mengurus amal usaha ini.”

Kalimat-kalimat itu tentu tidak salah. Bahkan bisa menjadi bagian dari sejarah pengabdian yang patut dihormati.

Tetapi persoalan muncul ketika sejarah pengabdian berubah menjadi legitimasi kekuasaan.

Ketika amal usaha mulai dianggap milik kelompok tertentu. Ketika jabatan terasa hanya berputar di lingkaran yang sama. Ketika kader lain sulit mendapat ruang untuk tumbuh.

Padahal Muhammadiyah sejak awal bukan organisasi genealogis. Ia bukan gerakan darah dan keturunan. Ia adalah gerakan ide, dakwah, dan amal sosial.

Yang membuat seseorang layak memimpin bukan karena garis keluarganya, tetapi karena integritas, kapasitas, dan keteladanan hidupnya.

 

Dari Gotong Royong ke Dominasi

Fenomena lain yang juga sering terjadi justru lebih ironis.

Saat amal usaha masih kecil, semua bergerak bersama.

Ada yang mencari murid. Ada yang mengajar tanpa memikirkan honor. Ada yang menyumbang tenaga, pikiran, bahkan harta pribadi.

Pimpinan dan anggota Muhammadiyah sama-sama berjuang menjaga sekolah tetap hidup.

Namun ketika amal usaha mulai besar, murid mulai banyak, dan pengaruh mulai terasa, perlahan muncul dominasi kelompok tertentu.

Kadang juga terjadi sebaliknya: ketika kecil pimpinan dan anggota Muhammadiyah berjuang bersama, namun ketika besar justru muncul sekelompok orang yang mendominasi.

Mereka merasa paling memiliki. Merasa paling berhak menentukan arah. Dan tanpa sadar mulai menutup ruang bagi kader lain untuk berkembang.

Padahal Muhammadiyah dibesarkan oleh gotong royong panjang banyak orang. Bukan satu kelompok. Bukan satu keluarga. Dan bukan satu generasi saja.

Ironisnya, mereka yang paling banyak berkeringat saat membangun di awal justru kadang tersingkir ketika amal usaha mulai maju.

 

Politik Jabatan dan Pudarnya Ruh Dakwah

Musyawarah dalam Muhammadiyah sejatinya adalah ruang mencari amanah.

Tetapi dalam beberapa dinamika organisasi, suasananya mulai terasa seperti arena kontestasi pengaruh.

Ada lobi. Ada kubu. Ada tarik-menarik kepentingan.

Padahal jabatan dalam Muhammadiyah bukan simbol kemenangan, melainkan tambahan tanggung jawab.

Ketika jabatan mulai diperebutkan, maka ruh dakwah perlahan memudar.

Amal usaha berubah dari pusat pengabdian menjadi pusat kekuasaan.

Kaderisasi akhirnya tidak lagi berbasis kualitas, tetapi kedekatan kelompok.

Jika ini terus berlangsung, maka organisasi bisa tetap besar secara fisik, tetapi kehilangan cahaya moralnya.

 

Menjaga Cahaya Persyarikatan

Muhammadiyah terlalu besar untuk dimiliki segelintir orang.

Ia adalah rumah bersama. Rumah dakwah. Rumah ilmu. Rumah pengabdian.

Karena itu, yang harus dijaga bukan hanya bangunan fisiknya, tetapi juga ruh keikhlasan yang menjadi fondasinya.

Tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” seharusnya mengingatkan kita bahwa cahaya organisasi tidak lahir dari banyaknya jabatan, megahnya gedung, atau besarnya kekuasaan.

Cahaya itu lahir dari keteladanan. Dari kejujuran. Dari keberanian menerima kritik. Dan dari keikhlasan orang-orang yang bekerja tanpa merasa paling memiliki.

Muhammadiyah akan tetap besar jika tetap terbuka terhadap pembenahan.

Sebab organisasi yang sehat bukan organisasi tanpa masalah, melainkan organisasi yang tidak pernah berhenti memperbaiki diri.

Dan mungkin, di tengah dinamika zaman yang semakin rumit ini, tugas terbesar warga Persyarikatan adalah menjaga agar Muhammadiyah tetap menjadi gerakan pencerahan— bukan berubah menjadi feodalisme organisasi yang dibungkus bahasa pengabdian. (*)

Silaturrahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Tags: Cerdas BangsaCerdas Bangsa Semesta BercahayaMuktamar 49Ruh Muhammadiyah
Previous Post

Ketum PingpongMu Pusat Muhammadiyah Hadiri Musyawarah Nasional Olahraga Muhammadiyah

Related Posts

Serdang Bedagai Menyambut Muktamar 49 Muhammadiyah

Serdang Bedagai Menyambut Muktamar 49 Muhammadiyah

13 Mei 2026
135
Menjadi Daerah Penyangga, Menggembirakan Muktamar

Menjadi Daerah Penyangga, Menggembirakan Muktamar

13 Mei 2026
156
Merawat Muhammadiyah: Ketika Kesungguhan Dibalas Pertolongan Allah

Merawat Muhammadiyah: Ketika Kesungguhan Dibalas Pertolongan Allah

8 Mei 2026
144
Menjaga Optimisme dan Keberlanjutan di Tengah Situasi yang Kurang Ideal

Menjaga Optimisme dan Keberlanjutan di Tengah Situasi yang Kurang Ideal

8 Mei 2026
122
Dukung Pembangunan Venue Muktamar 49 di Kampus Terpadu UMSU, PWM Jatim Sumbang Rp1 Miliar

Dukung Pembangunan Venue Muktamar 49 di Kampus Terpadu UMSU, PWM Jatim Sumbang Rp1 Miliar

7 Mei 2026
125
Dukung  Pembangunan Kampus Terpadu UMSU, Bupati Deli Serdang Siapkan Jalan Alternatif Jelang Muktamar 49 Muhammadiyah 2027

Dukung  Pembangunan Kampus Terpadu UMSU, Bupati Deli Serdang Siapkan Jalan Alternatif Jelang Muktamar 49 Muhammadiyah 2027

21 April 2026
131

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In