Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Siang ini, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara Prof. Dr. Ali Imran Sinaga menutup kegiatan Training of Trainers (TOT) Majelis Tabligh Wilayah Sumatera Utara yang berlangsung di Kompleks SMP Swasta Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi. Kegiatan bertajuk Pelatihan Instruktur Mubaligh/Mubalighat Muhammadiyah Tingkat Wilayah Sumatera Utara Batch 3 (TOT/PIMMWILSU#3) ini dilaksanakan pada Kamis–Ahad, 14–17 Mei 2026 atau bertepatan dengan 27–30 Dzulqa’dah 1447 H.
Acara ini bukan sekadar pelatihan biasa. Ia menjadi ruang perjumpaan para kader dakwah dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Ada yang datang dari Nias, Sibolga, Labuhan Batu, dan berbagai kabupaten kota lainnya. Sebanyak 19 kabupaten/kota hadir dengan latar pendidikan yang beragam, mulai dari lulusan SLTA hingga S3. Semua duduk bersama dalam satu semangat: dakwah Muhammadiyah.
Salah satu kesan menarik datang dari peserta asal Nias, Muhammad Syafi’i. Dengan rendah hati ia berkata bahwa dirinya “bukan yang terbijak, tapi yang terjauh.” Kalimat sederhana itu justru menunjukkan kebijaksanaan. Sebab orang bijak sering tidak merasa dirinya paling bijak.
Dalam forum itu terasa bahwa para peserta bukan hanya datang untuk menambah ilmu, tetapi juga memperluas wawasan dan memperdalam kebijaksanaan dalam berdakwah. Dakwah bukan sekadar kemampuan berbicara di mimbar, tetapi juga kemampuan memahami masyarakat, memahami zaman, dan memahami bagaimana Islam disampaikan dengan hikmah.
Ada peserta yang rela menempuh perjalanan panjang naik sepeda motor dari Sibolga demi mengikuti kegiatan ini. Perjalanan seperti itu menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu lahir dari kenyamanan. Kadang ia tumbuh dari pengorbanan dan keikhlasan.
Kalimat yang paling terasa dalam kegiatan ini adalah bahwa pekerjaan dakwah tidak selalu dibalas dengan balasan dunia. Sebab dakwah memang sering berjalan di jalan sunyi. Tidak selalu menghadirkan kemewahan, tetapi menghadirkan ketenangan batin karena merasa ikut menjaga cahaya ilmu dan persyarikatan tetap hidup di tengah masyarakat.
Menarik pula melihat bagaimana sistem pengajaran dalam TOT ini disusun dengan rapi dan sistematis sesuai kebutuhan masyarakat Sumatera Utara. Materi yang mencapai sekitar 20 tema dibagi kepada masing-masing PDM agar lebih terstruktur dan mudah dikembangkan di daerah masing-masing. Ini menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak hanya bertumpu pada semangat, tetapi juga pada manajemen dan pengkaderan yang serius.
Kehadiran peserta perempuan seperti Latifah dari Labuhan Batu juga memperlihatkan bahwa gerakan dakwah Muhammadiyah terus tumbuh secara inklusif. Perempuan bukan hanya pelengkap dalam dakwah, tetapi juga bagian penting dari penggerak perubahan sosial dan pendidikan umat.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari semangat menyambut Gebyar Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara dengan tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.” Tema ini terasa relevan dengan suasana pelatihan, sebab dakwah Muhammadiyah memang tidak hanya berbicara tentang ceramah keagamaan, tetapi juga tentang mencerdaskan kehidupan umat, membangun peradaban, dan menghadirkan cahaya Islam yang mencerahkan bagi masyarakat luas.
Menariknya, di akhir kegiatan suasana menjadi lebih hangat ketika Ketua PDM Tebing Tinggi, Jufri, menyampaikan pantun-pantun yang mengundang senyum sekaligus semangat kebersamaan:
Kiyai Fakih pergi ke Klaten,
Sampai di sana beli kemeja.
Pelatihan ini memanglah paten,
Semoga Muhammadiyah makin berjaya.
Banyak bunga di Tanjung Morawa,
Dibawa sampai ke tanah Jawa.
Banyak cerita dalam sebuah peristiwa ini,
Mudah-mudahan pelatihan ini lebih luar biasa.
Orang kaya rajin berderma,
Makin dibagi makin bertambah.
Muhammadiyah makin berjaya,
Dengan kerja nyata yang berkah.
Prof. Ali Imran bersama Dr. Sapri,
Ada pula Ustadz Junaidi begitu Pak Tanwir Siagian.
Itulah sebagian instruktur kita,
Yang berbagi ilmu dan pengalaman.
Dan sebagai penutup:
Jika ada sumur di ladang,
Bolehlah kita numpang mandi.
Jika kesempatan datang,
Bolehlah kita berjumpa lagi.
Jika ada jarum yang patah,
Jangan simpan di dalam peti.
Jika ada kata yang salah,
Jangan ditulis di story.
Di tengah tantangan zaman digital, perubahan sosial, hingga derasnya arus informasi, kegiatan seperti ini menjadi penting. Dakwah membutuhkan kader yang bukan hanya semangat, tetapi juga terlatih, terorganisir, dan mampu memahami realitas masyarakat.
Karena itu, TOT ini sesungguhnya bukan hanya tentang pelatihan. Ia adalah pertemuan gagasan, perjalanan pengabdian, dan penguatan cinta kepada Muhammadiyah. Sebuah cinta yang membuat orang rela datang dari tempat jauh, menempuh perjalanan panjang, bahkan meninggalkan kenyamanan demi satu keyakinan: bahwa dakwah harus terus berjalan. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








