Oleh : Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Tebing Tinggi
Hidup kadang bergerak dari lorong-lorong kecil yang sunyi menuju ruang besar penuh cahaya. Tidak semua orang lahir dari kemudahan, tetapi banyak orang besar justru ditempa oleh kesulitan. Kisah Dr. Faisal, S.H., M.Hum., adalah salah satu cerita tentang ketekunan, kerja keras, dan keyakinan bahwa pendidikan mampu mengubah nasib seseorang.
Lahir di Medan pada 22 Agustus 1975, perjalanan hidupnya bukanlah kisah yang langsung mulus menuju gelar doktor. Di balik toga akademik dan aktivitasnya sebagai dosen Fakultas Hukum UMSU serta advokat, ada jejak perjuangan panjang yang mungkin tidak banyak diketahui orang. Salah satunya adalah pengalaman menjadi tukang pangkas rambut.
Dunia pangkas rambut mungkin terlihat sederhana. Berdiri berjam-jam melayani pelanggan, memegang gunting dan alat cukur, merapikan setiap potongan agar terlihat rapi dan presisi. Namun dari pekerjaan sederhana itu sesungguhnya lahir pelajaran hidup yang luar biasa: kesabaran, ketelitian, disiplin, serta kemampuan berinteraksi dengan berbagai karakter manusia. Nilai-nilai itulah yang kelak membentuk karakter seorang akademisi.
Sering kali, untuk sekadar sarapan atau makan siang ketika kuliah, beliau harus menunggu pelanggan datang untuk dipangkas rambutnya. Dari hasil itulah kebutuhan kuliah dan kehidupan sehari-hari dipenuhi sedikit demi sedikit. Ada perjuangan yang mungkin tidak terlihat orang lain: menunggu rezeki datang sambil menyimpan harapan agar hari itu cukup untuk makan dan biaya kuliah. Tetapi justru dari keadaan seperti itulah mental ketangguhan terbentuk.
Zaman kami dulu tidak ada istilah KIP atau berbagai kemudahan bantuan seperti sekarang. Karena itu kreativitas dan ketahanan menjadi cara bertahan hidup. Ada yang menjadi penarik becak, jualan roti keliling, menjual kacamata, menjadi tukang gas, hingga menjadi tukang pangkas rambut di sela-sela kuliah. Tidak ada istilah bermanja-manja, apalagi mengeluh tanpa bergerak. Kehidupan mengajarkan bahwa tangan yang mau bekerja biasanya akan menemukan jalan untuk bertahan.
Kini sosok yang mudah dijumpai, baik di kantor maupun di kantin kampus ini merupakan salah satu kader Muhammadiyah yang serius memberikan advokasi dan edukasi hukum kepada masyarakat. Kesederhanaannya membuat beliau dekat dengan mahasiswa dan masyarakat kecil. Pengalaman hidup yang keras tampaknya menjadikan beliau memahami bahwa hukum seharusnya hadir untuk memberi keadilan dan pembelaan bagi banyak orang, bukan sekadar menjadi teori di ruang kuliah.
Perjalanan pendidikan beliau juga menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hadir secara instan. Dari SD Negeri 060862 Medan, kemudian SMP Negeri 22 Medan, lalu SMEA jurusan Akuntansi di Helvetia Medan. Setelah itu beliau memilih jalan hukum dengan menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Gelar magister diraih di Universitas Sumatera Utara, dan puncaknya menyelesaikan program doktor di Universitas Islam Sultan Agung Semarang pada tahun 2021.
Perjalanan ini menjadi bukti bahwa masa lalu bukanlah batas masa depan. Seseorang yang pernah berdiri berjam-jam di kursi pangkas rambut ternyata mampu menembus dunia akademik hingga meraih gelar doktor. Di tengah masyarakat yang kadang masih memandang pekerjaan berdasarkan gengsi, kisah ini memberi pelajaran bahwa semua pekerjaan mulia selama dilakukan dengan halal dan penuh tanggung jawab.
Banyak anak muda hari ini ingin cepat berhasil, cepat terkenal, dan cepat kaya. Padahal jalan kehidupan sering kali meminta proses panjang. Ada yang harus bekerja sambil kuliah, ada yang harus membantu keluarga terlebih dahulu sebelum mengejar cita-cita. Tetapi selama semangat belajar tidak padam, harapan itu tetap ada.
Kisah Faisal Piliang juga menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang ketahanan menghadapi hidup. Orang yang pernah merasakan sulitnya kehidupan biasanya lebih memahami arti perjuangan dan lebih menghargai kesempatan.
Dari suara gunting dan mesin pangkas menuju ruang kuliah. Dari kursi pelanggan menuju lembar buku hukum. Dari pekerjaan tangan menuju dunia pemikiran. Semua itu menjadi pengingat bahwa jalan sukses tidak selalu lurus, tetapi selalu terbuka bagi mereka yang mau berusaha dan tidak menyerah. (*)
Silaturahmi~Kolaborasi~Sinergi~Harmoni








