• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Minggu, Mei 17, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Ashabiyah dan Tantangan Ideologi Muhammadiyah

Jufri by Jufri
2026/05/16
in Esai, Jufri Daily, Kemuhammadiyahan, Muhammadiyah, Nasional, Opini
0
Ashabiyah dan Tantangan Ideologi Muhammadiyah
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Salah satu tantangan besar dalam kehidupan umat Islam sampai hari ini adalah munculnya semangat ashabiyah atau kebanggaan kesukuan yang berlebihan. Kebanggaan terhadap suku, marga, daerah, atau kelompok sebenarnya sesuatu yang wajar sebagai identitas budaya. Namun ketika identitas itu berubah menjadi fanatisme, merasa kelompoknya paling benar, paling mulia, lalu merendahkan yang lain, di situlah ashabiyah menjadi racun sosial dan musuh persaudaraan.

Dalam banyak kesempatan, Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan bahwa ashabiyah adalah warisan jahiliyah. Sebab semangat ini membuat orang tidak lagi menilai manusia berdasarkan akhlak, ilmu, dan ketakwaannya, tetapi berdasarkan darah, keturunan, dan kelompoknya. Akibatnya lahirlah diskriminasi, sekat sosial, bahkan konflik berkepanjangan.

Karena itu, ashabiyah yang berlebihan sesungguhnya bertentangan dengan ideologi Muhammadiyah. Muhammadiyah sejak awal didirikan oleh Ahmad Dahlan bukan untuk membangun organisasi suku, organisasi marga, atau organisasi daerah tertentu. Muhammadiyah dibangun di atas semangat Islam berkemajuan yang melintasi batas etnis dan identitas primordial.

Di dalam Muhammadiyah, orang tidak ditanya marganya apa, sukunya apa, atau berasal dari daerah mana. Yang dilihat adalah komitmen keislaman, keilmuan, amal usaha, dan pengabdiannya kepada umat. Itulah sebabnya Muhammadiyah bisa tumbuh dari Yogyakarta hingga Papua, dari kota besar sampai desa terpencil, karena ia berdiri di atas gagasan, bukan fanatisme kelompok.

Tema Muktamar Muhammadiyah “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya” sesungguhnya juga mengandung pesan besar tentang pentingnya memperkecil potensi ashabiyah di tengah masyarakat. Bangsa yang cerdas bukanlah bangsa yang sibuk membanggakan identitas kesukuan secara sempit, melainkan bangsa yang mampu menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun peradaban. Semesta yang bercahaya tidak akan lahir dari fanatisme kelompok, tetapi dari ilmu, persatuan, dan sikap saling menghormati.

Ashabiyah menyebabkan orang dipilih bukan berdasarkan kapasitas, integritas, atau komitmen kebangsaan dan kemuhammadiyahan, tetapi karena faktor kesukuan dan kedekatan kelompok. Akibatnya organisasi kehilangan objektivitas dan meritokrasi. Orang yang memiliki kemampuan dan dedikasi kadang tersingkir hanya karena tidak berasal dari kelompok yang dominan. Jika keadaan seperti ini dibiarkan, maka Muhammadiyah akan kehilangan tradisi intelektual dan moral yang selama ini menjadi kekuatannya.

Ashabiyah sering kali muncul secara halus dalam kehidupan organisasi. Kadang terlihat dari kecenderungan memilih pemimpin karena kedekatan suku atau kelompok, bukan kapasitas. Kadang muncul dalam bentuk pengkotakan sosial di lingkungan amal usaha, bahkan dalam percakapan sehari-hari yang penuh stereotip terhadap kelompok lain. Jika ini dibiarkan, maka organisasi akan kehilangan ruh tajdidnya dan berubah menjadi arena perebutan identitas.

Tulisan ini sesungguhnya merupakan semacam peringatan dini agar Muhammadiyah tidak terjebak pada sifat-sifat kejahiliyahan dalam kehidupan organisasi maupun dalam memberikan amanah. Sebab organisasi yang besar tidak hanya diuji oleh tantangan dari luar, tetapi juga oleh penyakit internal berupa fanatisme kelompok, kepentingan sempit, dan hilangnya objektivitas dalam menilai kader. Ketika amanah diberikan bukan karena kualitas, melainkan karena kesamaan suku atau kelompok, maka saat itu nilai keadilan mulai melemah.

Muhammadiyah adalah gerakan ilmu, bukan gerakan kesukuan. Muhammadiyah adalah gerakan dakwah, bukan alat memperbesar dominasi kelompok tertentu. Karena itu kader Muhammadiyah harus mampu menjadi teladan dalam membangun ukhuwah yang lebih luas, inklusif, dan berkeadaban.

Kita boleh bangga dengan budaya dan asal-usul kita. Orang Batak boleh bangga dengan kebatakannya, orang Jawa dengan kejawaannya, orang Minang dengan keminangannya. Tetapi kebanggaan itu harus menjadi energi kebudayaan, bukan tembok pemisah. Sebab di hadapan Islam, semua manusia setara. Yang membedakan hanyalah ketakwaan dan kontribusinya bagi kemanusiaan.

Di tengah situasi bangsa yang kadang masih mudah diprovokasi oleh politik identitas, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk terus merawat persatuan. Jangan sampai organisasi besar ini terseret ke dalam semangat ashabiyah yang sempit. Sebab ketika fanatisme suku mulai mengalahkan akal sehat dan nilai Islam, maka saat itulah ideologi berkemajuan mulai kehilangan arah.

Muhammadiyah sejak awal hadir untuk mencerdaskan umat dan mempersatukan bangsa. Maka siapa pun yang menjadikan suku sebagai ukuran utama dalam berorganisasi sesungguhnya sedang menjauh dari semangat besar Muhammadiyah itu sendiri. (*)

 

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Tags: AshabiyahIdeologi Muhammadiyah
Previous Post

Baitul Arqam PCM Sunggal Resmi Ditutup, Perkuat Ideologi dan Agilitas Pendidikan Muhammadiyah

Next Post

Maestro Sihaloho: Dari Mesin Tik Sebelas Jari hingga Dunia Jurnalistik

Related Posts

Ketua PWM Jabar Ajak Warga Muhammadiyah Dukung dan Sukseskan OlympicAD VII di Bandung

Ahmad Dahlan: Pengelola dan Pegawai AUM  Harus Berideologi Muhammadiyah 

10 Oktober 2025
153
Ketua PCM Panawuan: Pengajian Pembinaan Sebagai Sarana Penguatan Ideologi Muhammadiyah

Ketua PCM Panawuan: Pengajian Pembinaan Sebagai Sarana Penguatan Ideologi Muhammadiyah

26 November 2024
149
SD Muhammadiyah 1 Ketelan Gelar Baitul Arqam

SD Muhammadiyah 1 Ketelan Gelar Baitul Arqam

20 September 2024
165

Prof Hasyimsyah Nasution: Gerakan Muhammadiyah Tetap Azham Karena Kukuh Tegakkan Pilar Ideologi

13 September 2023
268
Dalam Rangka Pengejewantahan Ideologi IMM dan Muhammadiyah, PK IMM FIP UMJ Gelar ‘Maroon Expedition’

Dalam Rangka Pengejewantahan Ideologi IMM dan Muhammadiyah, PK IMM FIP UMJ Gelar ‘Maroon Expedition’

25 Juli 2023
139

Kuatkan Ideologi dan Leadership Kepemimpinan, PWM Jawa Tengah Gelar Dialog Ideopolitor

24 Juni 2023
171
Next Post
Maestro Sihaloho: Dari Mesin Tik Sebelas Jari hingga Dunia Jurnalistik

Maestro Sihaloho: Dari Mesin Tik Sebelas Jari hingga Dunia Jurnalistik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In