Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Salah satu tantangan besar dalam kehidupan umat Islam sampai hari ini adalah munculnya semangat ashabiyah atau kebanggaan kesukuan yang berlebihan. Kebanggaan terhadap suku, marga, daerah, atau kelompok sebenarnya sesuatu yang wajar sebagai identitas budaya. Namun ketika identitas itu berubah menjadi fanatisme, merasa kelompoknya paling benar, paling mulia, lalu merendahkan yang lain, di situlah ashabiyah menjadi racun sosial dan musuh persaudaraan.
Dalam banyak kesempatan, Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan bahwa ashabiyah adalah warisan jahiliyah. Sebab semangat ini membuat orang tidak lagi menilai manusia berdasarkan akhlak, ilmu, dan ketakwaannya, tetapi berdasarkan darah, keturunan, dan kelompoknya. Akibatnya lahirlah diskriminasi, sekat sosial, bahkan konflik berkepanjangan.
Karena itu, ashabiyah yang berlebihan sesungguhnya bertentangan dengan ideologi Muhammadiyah. Muhammadiyah sejak awal didirikan oleh Ahmad Dahlan bukan untuk membangun organisasi suku, organisasi marga, atau organisasi daerah tertentu. Muhammadiyah dibangun di atas semangat Islam berkemajuan yang melintasi batas etnis dan identitas primordial.
Di dalam Muhammadiyah, orang tidak ditanya marganya apa, sukunya apa, atau berasal dari daerah mana. Yang dilihat adalah komitmen keislaman, keilmuan, amal usaha, dan pengabdiannya kepada umat. Itulah sebabnya Muhammadiyah bisa tumbuh dari Yogyakarta hingga Papua, dari kota besar sampai desa terpencil, karena ia berdiri di atas gagasan, bukan fanatisme kelompok.
Tema Muktamar Muhammadiyah “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya” sesungguhnya juga mengandung pesan besar tentang pentingnya memperkecil potensi ashabiyah di tengah masyarakat. Bangsa yang cerdas bukanlah bangsa yang sibuk membanggakan identitas kesukuan secara sempit, melainkan bangsa yang mampu menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun peradaban. Semesta yang bercahaya tidak akan lahir dari fanatisme kelompok, tetapi dari ilmu, persatuan, dan sikap saling menghormati.
Ashabiyah menyebabkan orang dipilih bukan berdasarkan kapasitas, integritas, atau komitmen kebangsaan dan kemuhammadiyahan, tetapi karena faktor kesukuan dan kedekatan kelompok. Akibatnya organisasi kehilangan objektivitas dan meritokrasi. Orang yang memiliki kemampuan dan dedikasi kadang tersingkir hanya karena tidak berasal dari kelompok yang dominan. Jika keadaan seperti ini dibiarkan, maka Muhammadiyah akan kehilangan tradisi intelektual dan moral yang selama ini menjadi kekuatannya.
Ashabiyah sering kali muncul secara halus dalam kehidupan organisasi. Kadang terlihat dari kecenderungan memilih pemimpin karena kedekatan suku atau kelompok, bukan kapasitas. Kadang muncul dalam bentuk pengkotakan sosial di lingkungan amal usaha, bahkan dalam percakapan sehari-hari yang penuh stereotip terhadap kelompok lain. Jika ini dibiarkan, maka organisasi akan kehilangan ruh tajdidnya dan berubah menjadi arena perebutan identitas.
Tulisan ini sesungguhnya merupakan semacam peringatan dini agar Muhammadiyah tidak terjebak pada sifat-sifat kejahiliyahan dalam kehidupan organisasi maupun dalam memberikan amanah. Sebab organisasi yang besar tidak hanya diuji oleh tantangan dari luar, tetapi juga oleh penyakit internal berupa fanatisme kelompok, kepentingan sempit, dan hilangnya objektivitas dalam menilai kader. Ketika amanah diberikan bukan karena kualitas, melainkan karena kesamaan suku atau kelompok, maka saat itu nilai keadilan mulai melemah.
Muhammadiyah adalah gerakan ilmu, bukan gerakan kesukuan. Muhammadiyah adalah gerakan dakwah, bukan alat memperbesar dominasi kelompok tertentu. Karena itu kader Muhammadiyah harus mampu menjadi teladan dalam membangun ukhuwah yang lebih luas, inklusif, dan berkeadaban.
Kita boleh bangga dengan budaya dan asal-usul kita. Orang Batak boleh bangga dengan kebatakannya, orang Jawa dengan kejawaannya, orang Minang dengan keminangannya. Tetapi kebanggaan itu harus menjadi energi kebudayaan, bukan tembok pemisah. Sebab di hadapan Islam, semua manusia setara. Yang membedakan hanyalah ketakwaan dan kontribusinya bagi kemanusiaan.
Di tengah situasi bangsa yang kadang masih mudah diprovokasi oleh politik identitas, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk terus merawat persatuan. Jangan sampai organisasi besar ini terseret ke dalam semangat ashabiyah yang sempit. Sebab ketika fanatisme suku mulai mengalahkan akal sehat dan nilai Islam, maka saat itulah ideologi berkemajuan mulai kehilangan arah.
Muhammadiyah sejak awal hadir untuk mencerdaskan umat dan mempersatukan bangsa. Maka siapa pun yang menjadikan suku sebagai ukuran utama dalam berorganisasi sesungguhnya sedang menjauh dari semangat besar Muhammadiyah itu sendiri. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni






