Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Amar Ma’ruf Vs Nahi Munkar

Mujaddid by Mujaddid
2026/04/13
in Keislaman, Nasional, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
Amar Ma’ruf Vs Nahi Munkar
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Farid Wajdi

Amar ma’ruf nahi munkar berdiri sebagai inti etika sosial Islam, sekaligus instrumen kontrol moral yang menentukan kualitas kehidupan publik.

Amar ma’ruf menggerakkan energi afirmasi, memperluas ruang kebaikan dalam kehidupan bersama.

Nahi munkar bekerja pada sisi korektif, menahan laju penyimpangan yang merusak tatanan nilai.

Keduanya tidak sekadar pasangan normatif, melainkan satu sistem keseimbangan: satu membangun arah, satu menjaga agar arah tidak melenceng.

Dalam praktik sosial kontemporer, keseimbangan tersebut mengalami distorsi. Amar ma’ruf tampil lebih dominan, lebih terdengar, lebih terorganisasi. Nahi munkar bergerak dalam ruang lebih sempit, lebih hati-hati, sering kali tidak mencapai ranah publik secara terbuka.

Ketimpangan ini memperlihatkan pergeseran orientasi moral: dari keberanian koreksi menuju kenyamanan afirmasi.

NU Online (2025) menegaskan amar ma’ruf nahi munkar sebagai kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan. Pemisahan keduanya menghasilkan reduksi fungsi: dakwah berubah menjadi seruan kebaikan tanpa mekanisme koreksi sosial.

Dalam logika ini, keberadaan amar ma’ruf tanpa nahi munkar melahirkan ketidakseimbangan struktural dalam etika publik.

Perbedaan karakter keduanya menjelaskan mengapa ketimpangan ini muncul. Amar ma’ruf bekerja dalam ruang sosial yang relatif aman. Seruan kebaikan jarang memicu resistensi langsung, bahkan sering memperkuat legitimasi moral pelaku. Nahi munkar memasuki ruang yang lebih sensitif: kebiasaan sosial, kepentingan ekonomi, serta struktur kekuasaan yang telah mapan.

Setiap tindakan korektif membawa konsekuensi sosial yang tidak kecil.
Muhammadiyah (2020) menekankan perlunya keseimbangan dalam pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar melalui pendekatan yang bijaksana, terukur, dan tetap berada dalam koridor hukum serta etika sosial. Penekanan tersebut menggeser pemahaman dari sekadar seruan moral menuju kerja sosial yang membutuhkan strategi, ketepatan, serta keberanian.

Suara Muhammadiyah menambahkan dimensi etis yang penting: koreksi sosial tidak boleh berubah menjadi kekerasan simbolik atau tindakan yang merusak nilai kemanusiaan. Nahi munkar menuntut ketegasan, tetapi ketegasan tersebut harus tetap menjaga kemaslahatan (Suara Muhammadiyah, 2021).

Dalam titik ini, ketegasan tanpa etika kehilangan arah, sedangkan etika tanpa ketegasan kehilangan daya.
Struktur sosial modern memperdalam ketimpangan tersebut. Amar ma’ruf menawarkan keuntungan simbolik: penerimaan sosial, legitimasi moral, dan minim risiko konflik. Nahi munkar menghadirkan konsekuensi sebaliknya: potensi penolakan, tekanan balik, hingga delegitimasi sosial.

Dalam ruang publik yang semakin sensitif terhadap konflik, rasionalitas sosial cenderung memilih jalur yang paling aman. Situasi ini melahirkan paradoks yang semakin nyata. Semakin banyak seruan kebaikan terdengar, semakin sedikit koreksi terhadap penyimpangan.

Amar ma’ruf berkembang menjadi narasi dominan, sedangkan nahi munkar menyusut menjadi praktik yang sporadis dan berhati-hati. Ruang publik tampak kaya ekspresi moral, tetapi lemah dalam fungsi korektif.

Mahfud MD menyoroti relasi sebagian organisasi masyarakat dengan kekuasaan politik yang berpotensi menggeser fungsi moral menuju fungsi pragmatis. Ketika kedekatan dengan kekuasaan menguat, fungsi kontrol sosial cenderung melemah dan bergeser menjadi legitimasi simbolik (Kompas, 2025). Dalam situasi seperti ini, ruang bagi nahi munkar semakin menyempit.

 

Perluasan makna

Sebagian respons atas kritik tersebut mengemukakan perluasan makna amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf tidak selalu dipahami sebagai seruan verbal, sedangkan nahi munkar tidak selalu dimaknai sebagai konfrontasi langsung.

Fauzan Zenrif menekankan pendekatan sistemik: amar ma’ruf dapat hadir melalui pendidikan dan kebijakan sosial, sedangkan nahi munkar dapat berjalan melalui mekanisme institusional (Fauzan Zenrif, 2026). Perluasan ini membuka perspektif baru, tetapi sekaligus membawa risiko pengaburan keberanian moral ketika tidak diikuti tindakan nyata.

Kajian Universitas Medan Area (2018) menempatkan amar ma’ruf nahi munkar sebagai mekanisme sosial yang menuntut implementasi konkret dalam kehidupan bermasyarakat, bukan sekadar wacana normatif.

Tanpa implementasi tersebut, konsep ini kehilangan daya transformasi dan berubah menjadi simbol tanpa kekuatan korektif.

NU Online (2025) kembali menegaskan perlunya pemahaman proporsional agar konsep ini tidak bergeser menjadi alat kepentingan atau berubah menjadi ekstremisme yang merusak tujuan kemaslahatan sosial. Namun persoalan utama tidak berhenti pada pemahaman, melainkan pada keberanian untuk menjalankan fungsi korektif secara konsisten.

Pertanyaan paling mendasar muncul pada titik ini: mengapa amar ma’ruf jauh lebih mudah dijalankan dibanding nahi munkar?

Jawaban terletak pada struktur risiko sosial. Amar ma’ruf memperkuat posisi sosial, sedangkan nahi munkar mempertaruhkan posisi tersebut. Amar ma’ruf bekerja dalam logika penerimaan, sedangkan nahi munkar bekerja dalam logika konfrontasi.

Dalam masyarakat yang semakin terikat pada stabilitas citra dan penerimaan publik, pilihan rasional cenderung jatuh pada tindakan yang paling minim risiko.

Ketimpangan ini menghasilkan dampak serius terhadap kualitas etika publik. Amar ma’ruf tanpa nahi munkar membentuk ruang sosial yang penuh seruan kebaikan, tetapi miskin koreksi terhadap ketimpangan struktural. Nahi munkar tanpa amar ma’ruf berpotensi melahirkan ketegangan tanpa arah konstruktif. Keseimbangan keduanya menjadi syarat utama bagi kesehatan moral masyarakat.

Masalah yang lebih dalam bukan sekadar perbedaan tingkat kesulitan, melainkan menyusutnya keberanian korektif dalam ruang publik. Seruan kebaikan semakin dominan, sementara kritik terhadap penyimpangan semakin jarang terdengar secara terbuka. Ruang sosial berubah menjadi panggung moral yang ramai, tetapi kehilangan mekanisme pengawasan.

Kajian UMA (2018) menegaskan kembali konsep ini sebagai sistem etika sosial yang menuntut konsistensi implementasi dalam kehidupan nyata. Tanpa konsistensi tersebut, amar ma’ruf nahi munkar berhenti sebagai slogan normatif tanpa daya perubahan.

Ketika amar ma’ruf mendominasi dan nahi munkar menyusut, masyarakat bergerak menuju kondisi yang tampak harmonis di permukaan, tetapi rapuh dalam struktur moral. Kebaikan terdengar nyaring, sementara ketidakadilan berjalan tanpa koreksi.

Keseimbangan keduanya membutuhkan keberanian yang tidak hanya bersifat verbal, tetapi juga struktural. Amar ma’ruf membangun arah nilai, nahi munkar menjaga agar arah tersebut tetap bersih dari penyimpangan. Tanpa keberanian menjaga keduanya, etika sosial kehilangan daya hidupnya. (*)

 

Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU

Tags: Amar Makruf Nahi Munkar
Previous Post

7 Dosen FISIP UMSU Lolos Penerima Dana Hibah Penelitian Kemendiktisaintek 2026

Next Post

Mahasiswa Medan Dorong Penguatan Pembangunan Lingkungan Hidup

Related Posts

Jateng Sabet Juara Umum Putra LPB V Nasional Hizbul Wathan: Bukti Semangat Fastabiqul Khairat

Jateng Sabet Juara Umum Putra LPB V Nasional Hizbul Wathan: Bukti Semangat Fastabiqul Khairat

1 Juli 2026
101
FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
144
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
108
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

29 Juni 2026
104
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
Next Post
Mahasiswa Medan Dorong Penguatan Pembangunan Lingkungan Hidup

Mahasiswa Medan Dorong Penguatan Pembangunan Lingkungan Hidup

PFI Medan FC Ramaikan Turnamen Mini Soccer Porwasu 2026 di Medan, Didukung MPL, BRI dan Rahayu

PFI Medan FC Ramaikan Turnamen Mini Soccer Porwasu 2026 di Medan, Didukung MPL, BRI dan Rahayu

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
108
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
116
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
117

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan