TAJDID.ID~Banda Aceh || Di tengah derasnya arus informasi digital, sosok Rizki Maulizar muncul sebagai salah satu kader muda Muhammadiyah Aceh yang memilih jalan literasi untuk berdakwah. Rizki Maulizar sosok paling Aktif sebagai penulis, yang dikenal tajam dalam menyoroti berbagai dinamika, mulai dari persoalan lokal di Aceh hingga isu-isu strategis di tingkat nasional.
Sebagai kader yang tumbuh dalam rahim organisasi Muhammadiyah, Rizki membawa semangat “Amar Ma’ruf Nahi Munkar” ke dalam setiap goresan penanya.
Bagi dia, menulis bukan sekadar hobi, melainkan instrumen penting untuk memberikan edukasi serta mengawal kebijakan publik agar tetap berpihak pada kemaslahatan umat.
Menjembatani Isu Daerah dan Nasional
Tulisan-tulisan Rizki Maulizar seringkali menghiasi berbagai platform media, baik lokal maupun nasional.
Dalam konteks daerah, ia kerap memberikan perspektif kritis mengenai pembangunan Aceh, penerapan syariat Islam yang inklusif, hingga isu-isu kesejahteraan masyarakat di pelosok Bumi Serambi Mekkah.
Tidak berhenti di situ, Rizki juga aktif merespons isu-isu nasional yang berdampak pada daerah. Ia mengemas topik-topik berat menjadi narasi yang mudah dipahami oleh generasi muda.
Keterlibatannya dalam berbagai forum literasi dan diskusi publik menjadikannya salah satu representasi intelektual muda Muhammadiyah yang patut diperhitungkan.
Dedikasi untuk Literasi dan Organisasi
Selain aktif menulis, dedikasi Rizki dalam organisasi Muhammadiyah juga terlihat dari partisipasi aktifnya dalam berbagai agenda dakwah dan sosial.Salah satunya, ia terlibat dalam penguatan kapasitas kader melalui Pelatihan Dai Muda yang pernah di laksanakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Aceh pada tahun 2017 bertujuan meningkatkan kualitas Dakwah untuk generasi muda di Aceh.
Tidak hanya itu banyak rekan sejawat menilai Rizki sebagai figur yang mampu menyinergikan antara pemikiran akademis versi anak muda dan pergerakan di lapangan. Melalui kolom-kolom opininya, ia terus mengajak kaum muda untuk tidak apatis terhadap politik dan kebijakan publik.
Dunia kepenulisan adalah ruang tanpa batas untuk menyuarakan kebenaran. “Sebagai kader Muhammadiyah, kita memiliki tanggung jawab moral untuk mengisi ruang publik dengan gagasan yang mencerahkan dan berkemajuan,” ujar salah satu kolega yang sering berdiskusi dengannya.
Dengan konsistensi yang ditunjukkannya, Rizki Maulizar menjadi bukti bahwa kader muda Muhammadiyah Aceh terus bergerak secara adaptif, menggunakan literasi sebagai senjata untuk menebar manfaat bagi masyarakat luas.(*)


