• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Jumat, April 17, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Menghidupkan Warisan Sang Naualuh Damanik

Shohibul Anshor Siregar by Shohibul Anshor Siregar
2026/04/17
in Daerah, Opini, Sejarah, Sosok, Ulasan
0
Menghidupkan Warisan Sang Naualuh Damanik
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Shohibul Anshor Siregar

 

Di tengah hiruk-pikuk kota dan derasnya arus modernisasi, ingatan kolektif tentang peradaban lokal sering kali hanya tersisa sebagai nama jalan, plakat peringatan, atau sekadar cerita yang diturunkan secara lisan. Begitu pula dengan figur Sang Naualuh Damanik dan kejayaan Kerajaan Siantar. Kita mungkin melihat namanya terpampang di beberapa sudut kota, namun seberapa dalam kita memahami kompleksitas perjuangannya, sistem sosial ekonomi kerajaannya, atau gugusan nilai budaya yang ditinggalkannya?

Padahal, jika kita mau menyelami catatan sejarah, kita akan menemukan sosok yang luar biasa: seorang raja yang masih belia ketika dinobatkan pada usia sekitar 17 tahun, namun memiliki keberanian luar biasa untuk menghadapi kekuatan kolonial yang jauh lebih besar. Ia tidak bersedia berdamai dengan Belanda. Ia dengan tegas menolak menandatangani Korte Verklaring (perjanjian pendek) yang berarti pernyataan takluk kepada penjajah.

Selama kurang lebih 18 tahun, ia melawan kekuasaan penjajahan demi melepaskan rantai penjajahan dari buminya. Itulah Sang Naualuh Damanik, raja terakhir Kerajaan Siantar yang memilih kehilangan takhta daripada kehilangan harga diri bangsanya. Dan karena keteguhan itu pula, ia ditangkap, dipenjarakan tanpa diadili, dimakzulkan, dan dibuang ke tanah asing hingga akhir hayatnya.

Namun, heroisme Sang Naualuh tidak berhenti pada perlawanan fisik. Dalam pengasingannya di Pulau Bengkalis, ketika ia telah kehilangan segala gelar dan kekuasaannya, ia justru menunjukkan dimensi kepahlawanan yang lebih tinggi: ia menjadi guru mengaji bagi masyarakat setempat dan turut membangun sebuah masjid yang kelak dikenal sebagai Masjid Mubarak.

Di tanah pembuangan, ia tetap menebarkan ilmu, menegakkan ajaran Islam, dan menjadi pemimpin spiritual yang tidak pernah gentar. Ia adalah penguasa Simalungun pertama yang memeluk agama Islam, dan hingga akhir hayatnya ia dihormati sebagai sosok yang merintis, menganut, dan mengembangkan agama Islam di daerah Siantar.

Inilah yang membedakannya dari sekadar pahlawan perang biasa: Sang Naualuh adalah pejuang yang tubuhnya mungkin dibelenggu, tetapi jiwanya tetap merdeka, dan tangannya tetap terbuka untuk memberi. Seorang sejarawan mencatat bahwa ia sebenarnya memiliki kesempatan untuk tetap bertahta apabila ia mau bekerja sama dengan Belanda. Namun sikap kepahlawanan dan patriotisme yang ditunjukkannya berupa penolakan terhadap intervensi Belanda, membuat dirinya harus menanggung konsekuensi yang pahit. Pendiriannya yang teguh dan tidak kenal kompromi, walaupun diketahui akan kehilangan posisi sebagai raja, menjadi teladan yang tidak terhingga. Delapan sifat luhurnya (Pengasih, Pelayan, Jujur, Berani, Bertanggung jawab, Teguh Pendirian, Saling Menghormati, dan Membangun) masih relevan untuk diteladani hingga hari ini.

Sudah saatnya kita melampaui simbolisme. Sudah saatnya kita membangun sebuah institusi abadi yang tidak hanya mengenang, tetapi juga menghidupkan, meneliti, dan mewariskan. Jawabannya adalah pendirian Pusat Studi/Pusat Kebudayaan Sang Naualuh Damanik. Apa sebenarnya pusat studi ini? Ia bukan sekadar museum biasa. Lebih dari itu, ia adalah institusi multidisipliner yang dirancang sebagai rumah besar bagi seluruh warisan intelektual dan budaya Simalungun.

Tujuan utamanya mencakup pelestarian dan dokumentasi semua sumber daya sejarah, mulai dari manuskrip kuno, surat-surat arsip kolonial yang selama ini tersimpan di Belanda, rekaman sejarah lisan dari para sesepuh, hingga foto-foto lama dan artefak yang tersebar. Pusat ini juga menjadi wadah penelitian akademis yang mendalam, di mana para sejarawan, antropolog, dan budayawan dapat menggali berbagai aspek Kerajaan Siantar serta peran Sang Naualuh dalam konteks regional maupun nasional.

Tidak berhenti di situ, pengetahuan yang dihasilkan akan disebarluaskan ke publik melalui seminar, lokakarya, pameran, dan publikasi populer. Di sisi lain, pusat ini juga didedikasikan untuk mempromosikan kebudayaan Simalungun yang hidup, seperti musik gordang, tari tortor, tenun ulos, dan adat istiadat, melalui berbagai program pelatihan dan festival.

Untuk mewujudkan mimpi ini, diperlukan fasilitas yang memadai. Bayangkan sebuah ruang arsip modern dengan kontrol suhu dan kelembaban yang ketat, tempat dokumen-dokumen berharga terlindungi dari kerusakan. Sebuah perpustakaan khusus yang mengoleksi seluruh literatur tentang Simalungun dan Sumatera Timur. Sebuah ruang pameran interaktif yang tidak hanya memajang replika artefak, tetapi juga menggunakan layar sentuh dan proyeksi multimedia untuk membawa pengunjung menyelami suasana Kerajaan Siantar tempo dulu. Ada pula auditorium untuk seminar, studio rekaman sejarah lisan, ruang peneliti, dan area workshop seni tradisional. Semua ini dirancang agar pusat kebudayaan ini menjadi tempat yang hidup, bukan kuburan bisu masa lalu.

Mengapa bentuk apresiasi ini jauh lebih mendalam dibandingkan sekadar menamai jalan atau membangun patung?

Pertama, karena ia melampaui simbolisme. Sebuah pusat studi adalah mesin produksi pengetahuan yang terus menerus bekerja. Ia tidak hanya mengagungkan nama, tetapi menggali dan mengontekstualisasikan warisan pemikiran dan tindakan Sang Naualuh secara kritis.

Kedua, ia mendorong pemahaman sejarah yang utuh, bukan mitos hitam-putih. Penelitian yang rigor akan mengungkap seluruh kompleksitas perjuangan Sang Naualuh (tantangan yang dihadapinya, keputusan sulit yang diambilnya, dan dampak tindakannya) sehingga publik belajar tentang nuansa sejarah yang sesungguhnya.
Ketiga, pusat ini akan memperkaya historiografi lokal dengan mengumpulkan sumber-sumber yang selama ini terserak, baik dari arsip kolonial di Belanda maupun ingatan lisan di kampung-kampung, sekaligus memberikan ruang bagi perspektif lokal yang otentik.

Keempat, pusat ini secara aktif menghidupkan kembali budaya yang terancam punah. Melalui lokakarya menenun, berlatih gordang, atau mempelajari aksara Simalungun, generasi muda dapat menyentuh langsung warisan leluhurnya.

Kelima, ia menjadi jembatan antargenerasi dan antarkomunitas. Para sesepuh dapat bercerita di studio rekaman, para akademisi berdiskusi dengan masyarakat adat, dan anak-anak sekolah belajar dari pameran interaktif. Yang tidak kalah penting, ini adalah investasi jangka panjang.

Dampaknya tidak akan terasa hanya dalam waktu dekat, tetapi akan terus mengalir kepada cucu-cucu kita yang kelak masih bisa belajar dari arsip yang terawat dan tradisi yang masih hidup. Sebagaimana disampaikan oleh para pewaris semangat perjuangannya, kerinduan agar gelar Pahlawan Nasional dapat disematkan pada Raja Sangnaualuh Damanik terus bergema. Bukan tidak mungkin, pusat studi inilah yang akan menjadi bukti nyata bahwa kita benar-benar layak memberikan penghargaan tertinggi itu.

Tentu, semua ini membutuhkan biaya dan kerja keras. Dibutuhkan tanah, gedung, peralatan digital, ruang arsip, dan tenaga ahli. Dibutuhkan pula kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat adat, keluarga Damanik, akademisi, serta mitra nasional dan internasional.

Namun bukankah warisan seorang raja yang rela kehilangan takhta demi prinsip, yang tetap mengabdi sebagai guru di tengah pengasingan, dan yang perjuangannya telah menghabiskan hampir dua dekade hidupnya, layak untuk diperjuangkan? Jangan sampai sejarah Kerajaan Siantar dan figur Sang Naualuh Damanik hanya menjadi catatan kaki dalam buku sejarah nasional. Mari kita wujudkan pusat studi ini sebagai monumen hidup yang terus bernapas, mengajar, dan menginspirasi. Karena menghormati masa lalu bukanlah dengan membekukannya dalam patung, melainkan dengan menjadikannya bahan bakar untuk membangun masa depan yang lebih berbudaya dan berpengetahuan.

Sebagaimana Sang Naualuh Damanik tidak pernah berhenti berjuang dan mengabdi hingga akhir hayatnya, demikian pula kita tidak boleh berhenti menghidupkan warisannya. (*)

Tags: Kerajaan SiantarRaja Islam dari SiantarSang Naualuh Damanik
Previous Post

Sang Raja yang Tak Pernah Tunduk: 5 Pelajaran Terlupakan dari Perlawanan Ontologis Sang Naualuh Damanik

Next Post

Medan 1939: Ketika Mimbar Dakwah Bertemu Panggung Kepemimpinan

Related Posts

Sang Raja yang Tak Pernah Tunduk: 5 Pelajaran Terlupakan dari Perlawanan Ontologis Sang Naualuh Damanik

Sang Raja yang Tak Pernah Tunduk: 5 Pelajaran Terlupakan dari Perlawanan Ontologis Sang Naualuh Damanik

17 April 2026
103
Membedah Historiografi Kerajaan Siantar dan Figur Sang Naualuh Damanik

Membedah Historiografi Kerajaan Siantar dan Figur Sang Naualuh Damanik

17 April 2026
103
Next Post
Medan 1939: Ketika Mimbar Dakwah Bertemu Panggung Kepemimpinan

Medan 1939: Ketika Mimbar Dakwah Bertemu Panggung Kepemimpinan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In