Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini bukan hanya sekadar ejekan diplomatik. Ini adalah batu nisan bagi arogansi Amerika yang selama ini dibangun di atas panggung ilusi.
Dengan tenang namun menusuk, Araghchi berkata kepada Donald Trump: “Kalian bukanlah kekuatan super di tempat berada Iran. Silakan terus menonton film Hollywood.”
Sembari memegang popcorn, tampaknya para pemimpin di Gedung Putih perlu duduk manis di kursi bioskop. Karena jika selama ini mereka mengira dunia adalah panggung The Avengers dan mereka adalah Captain America, maka tahun 2026 adalah musim ketika skenario itu terbukti hanya fiksi belaka.
Doktrin Koboi Vs Fakta di Lapangan
Arogansi AS selalu dibalut dengan jargon muluk. Mereka mengaku sebagai “Polisi Dunia”, penegak demokrasi, dan pembela HAM. Namun di balik seragam koboi itu, yang terlihat hanyalah gaya “tembak dari pinggul” yang kacau dan penuh muslihat.
Coba kita buka lembar sejarah kelam AS pasca-Perang Dingin. Jika benar mereka super power, kenapa rekor perang mereka begitu memalukan?
Data dan analisis dari berbagai sumber menunjukkan bahwa meskipun memiliki anggaran militer lebih dari 800 miliar dolar AS per tahun (terbesar di dunia), AS justru kalah atau gagal dalam hampir setiap konflik besar yang mereka mulai sejak Perang Dunia II .
Vietnam (1955-1975): Lebih dari 58,000 tentara AS tewas. Mereka angkat kaki dalam aib, meninggalkan Saigon jatuh. Tapi di film Rambo, mereka “memenangkannya kembali” di layar perak.
Afghanistan (2001-2021): Dua puluh tahun berperang, menghabiskan lebih dari $2 triliun (biaya yang cukup untuk membangun kembali infrastruktur Amerika beberapa kali lipat), hasilnya: Taliban kembali berkuasa. AS pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan perlengkapan militer senilai miliaran dolar.
Irak (2003-2011): Dalih “Senjata Pemusnah Massal” ternyata hanya kebohongan publik. Hasilnya: kekacauan, kelahiran ISIS, dan penderitaan rakyat Irak yang tak berkesudahan.
Seperti yang diungkapkan oleh pensiunan Letnan Jenderal Daniel Bolger dalam bukunya “Why We Lost”, militer AS memang hebat dalam operasi cepat, tetapi “kami tidak cocok untuk perang gerilya yang panjang. Kami tidak mengenal musuh, dan kami menyalahgunakan pasukan kami sendiri untuk menyisir desa-desa” . Ini bukanlah ciri “kekuatan super”. Ini adalah ciri bullies (pengganggu) yang tersesat di gang buta.
Selat Hormuz: Di Mana Kekuatan Super Memohon
Sindiran paling pedas Araghchi adalah tentang Selat Hormuz. “Jika kalian benar-benar super power, kenapa sudah 40 hari berlalu, kalian masih belum bisa membuka Selat Hormuz?”
Pernyataan ini merujuk pada realitas memalukan yang coba ditutup-tutupi media mainstream. Meskipun mengerahkan armada, AS dan sekutunya tidak bisa begitu saja “membuka” jalur air vital tersebut tanpa izin Iran. Faktanya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menyatakan bahwa mereka memiliki “kendali penuh” atas Selat Hormuz dan akan mencegah setiap upaya kapal perang melintas .
Bahkan yang lebih lucu (atau menyedihkan) adalah ketika AS harus “meminta bantuan ke Spanyol, Jepang, dan Korea” untuk mengamankan jalur tersebut. Sebuah “kekuatan super” yang tidak bisa mengamankan selat di depan halaman rumahnya sendiri? Itu bukanlah hegemoni; itu adalah babysitting internasional. Seperti yang ditulis oleh Modern Diplomacy, kebijakan luar negeri Trump saat ini hanyalah “doktrin pertunjukan” —penuh ancaman media dan aksi simbolis, tetapi minim strategi .
Hollywood: Mesin Propaganda di Balik Reruntuhan
Mengapa AS begitu percaya diri meskipun faktanya kalah? Jawabannya ada di Hollywood.
Sinema Barat telah menjadi pabrik mimpi terbesar bagi arogansi AS. Dari Top Gun yang merekrut tentara melalui sensasi adrenalin, hingga Captain America yang menjadi misionaris demokrasi, Hollywood menjual ilusi bahwa Amerika adalah “pahlawan” yang menyelamatkan dunia .
Mereka memenangkan perang di Vietnam melalui Rambo, membunuh Osama bin Laden dengan keren dalam Zero Dark Thirty, dan “menstabilkan” Timur Tengah lewat aksi fiksi. Padahal, realitas di lapangan adalah kebalikannya.
Sebuah analisis dari The Hollywood Reporter mengakui bahwa era di mana dunia menerima pahlawan Amerika begitu saja mungkin sudah berakhir. Kebencian global terhadap kebijakan luar negeri AS yang agresif (terkait Gaza, tarif dagang, dan ancaman invasi ke Greenland) telah menyebabkan “diskon” besar-besaran terhadap budaya pop Amerika. Di Eropa, sentimen positif terhadap AS ambruk drastis; di Jerman turun dari 52% menjadi hanya 32% .
Dunia kini sadar: Senjata nuklir dan kapal induk tidak menjadikan Anda kekuatan moral. Amerika saat ini lebih mirip “pemilik sarang” yang ketakutan, yang meskipun memiliki banyak senjata, tetapi negaranya sendiri sedang membusuk karena utang, shutdown pemerintah, dan kesenjangan sosial yang menganga .
Menu atau Memohon?
Kesombongan AS pernah diungkapkan oleh mantan Menteri Luar Negeri Antony Blinken dengan jargon keji: “Jika Anda tidak duduk di meja makan, Anda akan ada di menu”. Artinya: jika tidak bersama kami, Anda akan kami santap.
Namun, di hadapan Iran dan poros Perlawanan, rahang “hantu” Amerika itu retak. Mereka tidak bisa “menelan” Iran. Sebaliknya, merekalah yang memohon. Mereka memohon pada Spanyol, Korea, dan Pakistan untuk menjadi perantara.
Apa yang terjadi? AS telah jatuh ke dalam jebakan yang mereka buat sendiri. Seperti yang ditulis oleh pengamat MUI, gaya koboi AS hanya menghasilkan “bencana yang sangat mahal” di Irak, Libya, dan Suriah . Kini, mereka mencoba resep yang sama di Iran, tetapi gagal total.
Kesimpulan
Pesan Araghchi adalah alarm bagi seluruh dunia: Jangan takut pada koboi itu. Dia tidak memiliki peluru sungguhan.
Selama 40 tahun terakhir, Revolusi Iran telah membuktikan bahwa satu-satunya “Kekuatan Super” adalah logika, kemandirian, dan iman. Amerika mungkin masih memiliki efek khusus kelas atas seperti di film Transformers, tetapi di dunia nyata—di medan perang Selat Hormuz dan jalanan Gaza—kartu “Super Power” mereka telah kadaluwarsa.
Jadi, silakan, Tuan Trump dan para jenderal Pentagon. Pergilah ke bioskop, belilah popcorn, dan tontonlah film-film lama kalian. Karena itulah satu-satunya tempat di mana Amerika masih bisa menang. Di dunia nyata, kalian hanya penonton yang mulai kehabisan kursi. (*)
Artikel ini disusun oleh Tim Riset & Investigasi TAJDID.ID







