TAJDID.ID~Bojonegiro 🔳 Penguatan difabel—terutama perempuan—dalam aksi iklim menjadi kunci untuk memastikan transisi menuju energi bersih yang berkelanjutan berjalan inklusif dan adil.
Difabel, terutama perempuan sering berada pada posisi paling rentan terhadap dampak perubahan iklim: akses terhadap informasi terbatas, mobilitas yang terhambat, serta minimnya keterlibatan dalam pengambilan keputusan.
Oleh karena itu, pendekatan seperti dalam gerakan Green Al Ma’un tidak hanya menempatkan mereka sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai subjek utama perubahan.
Penguatan dilakukan melalui peningkatan literasi lingkungan, pelatihan keterampilan praktis, seperti pengelolaan energi rumah tangga dan pengurangan limbah, serta penciptaan ruang aman bagi perempuan difabel untuk bersuara dan memimpin aksi di komunitasnya.
Dalam konteks ini, Green Al Ma’un menghadirkan perspektif bahwa keberlanjutan harus berjalan seiring dengan keadilan sosial, sehingga perempuan difabel tidak hanya diajak beradaptasi, tetapi juga didorong menjadi agen transformasi yang membawa nilai-nilai kepedulian lingkungan ke tingkat keluarga dan masyarakat.
Pendekatan berbasis komunitas dan nilai keagamaan diperkuat melalui kerja sama dengan teman-teman difabel di Bojonegoro, yang menjadi mitra strategis dalam memastikan program lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan difabel. Kolaborasi ini membuka akses yang lebih luas bagi kelompok yang selama ini terpinggirkan, sekaligus memastikan bahwa suara perempuan difabel terwakili dalam setiap proses perencanaan dan implementasi.
Pada saat yang sama, penguatan entrepreneurship bagi difabel menjadi langkah strategis untuk menghubungkan kemandirian ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan. Difabel tidak hanya didorong untuk memiliki usaha, tetapi juga diarahkan pada model bisnis hijau—seperti pengolahan limbah, produk ramah lingkungan, hingga usaha berbasis efisiensi energi di rumah tangga.
Dengan dukungan pelatihan, pendampingan, dan akses pasar, mereka dapat membangun usaha yang tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga berkontribusi pada aksi iklim di tingkat komunitas.
Dalam perspektif Green Al Ma’un, entrepreneurship bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari gerakan sosial yang berkeadilan. Usaha yang dibangun difabel menjadi medium untuk memperkuat posisi mereka dalam keluarga dan masyarakat, sekaligus membuktikan bahwa inklusivitas dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan. Ketika difabel memiliki kontrol atas sumber ekonomi dan kapasitas pengetahuan, mereka juga memiliki daya tawar lebih besar dalam pengambilan keputusan—termasuk dalam praktik ramah lingkungan. Dengan demikian, penguatan green entrepreneurship yang didukung kolaborasi bersama teman-teman difabel menjadi pintu masuk penting untuk menciptakan perubahan yang berdampak tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga sosial dan ekologis, sekaligus memastikan aksi iklim menjadi ruang kolektif yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan semangat Green Al Ma’un dan Green Entrepreneurship inilah program ToPP (Together for People and Planet) GreenAbility Eco Bhinneka Muhammadiyah diluncurkan di Bojonegoro pada Jumat, 10 April 2026. Sebagai penanda bahwa tiga tahun ke depan akan ada kolaborasi progresif antara Eco Bhinneka Muhammadiyah dengan teman-teman difabel khususnya yang berada di Desa Bulu dan Desa Mlideg, serta teman-teman difabel pada umumnya di Bojonegoro.
Selain itu ToPP GreenAbility ini juga merangkul teman-teman komunitas lokal dan lintas iman. Koalisi Perempuan Indonesia, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Orang Muda Katolik, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Guru Inklusi, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Bojonegoro menjadi teman seperjalanan program ini.
Penampilan dari sekolah Inklusi, PAUD ABA Inklusi 1 dan PAUD ABA Inklusi 3 turut menyemarakkan Kick Off. Anak-anak istimewa berkebutuhan khusus dengan gembira tampil di panggung Kick Off ToPP GreenAbility. Bunyi angklung yang serempak menandai Kick Off program ini. Setelah prosesi Kick Off dilanjutkan dengan Talk Show “Penguatan Kapasitas Difabel dan Sinergi Lintas Iman dalam Aksi Konservasi Lingkungan” bersama narasumber mumpuni dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Sosial, dan Ketua MPKS (Majelis Pemberdayaan Kesejahteraan Sosial) PDM Bojonegoro.
Pada Sabtu, 11 April 2026 kegiatan berlanjut dengan Pelatihan Konservasi Lingkungan. ToPP GreenAbility menghadirkan fasilitator dari komunitas Nol Sampah. Peserta dilatih mengolah limbah yang ada di lingkungan sekitar mereka, membuat eco enzyme, eco brick, sabun organik, dan maggot. Tak lupa peserta juga dibekali pengetahuan tentang perubahan iklim, pemanasan global, hingga bahaya limbah plastik bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
Hadir membersamai pelatihan Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Bojonegoro, Zuliyatin Lailiyah.
Setelah pelatihan ini diharapkan warga difebel dari Desa Bulu dan Desa Mlideg dapat mengembangkan salah itu aktivitas konservasi yang telah diberikan. Hingga mencari peluang ekonomi dari aktiivitas konservasi tersebut.
Perwakilan dari PPDI (Penyandang Disabilitias Indonesia) Bojonegoro, Martono, menyampaikan rasa terima kasih atas ilmu yang bermanfaat tentang pengolahan sampah yang selama ini belum pernah didapat. “Sebelumnya kami hanya tahu limbah organik dan anorganik itu berbahaya, tetapi tidak tahu cara mengolahnya dan semoga dengan pelatihan ini kami menjadi tahu cara pengolahan limbah di sekitar kita,” ujar Brian dari Orang Muda Katolik. (*)
✍️ Winda & Erika








