Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Pemimpin Baperan

Mujaddid by Mujaddid
2026/03/14
in Nasional, Opini
Reading Time: 4 mins read
0
Pemimpin Baperan
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

✍️ Farid Wajdi

Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU

Kekuasaan selalu berada dalam sorotan publik. Setiap kebijakan pemerintah memicu respons masyarakat, mulai dari dukungan hingga kritik tajam.

Dalam negara demokrasi, situasi tersebut merupakan realitas yang tidak terhindarkan. Kritik, perdebatan, serta pengawasan publik menjadi bagian penting dari kehidupan politik modern.

Perkembangan media sosial membuat dinamika tersebut semakin intens. Kritik tidak lagi datang melalui forum akademik atau ruang redaksi media semata, melainkan juga melalui percakapan digital yang berlangsung tanpa jeda. Dalam hitungan menit, sebuah kebijakan dapat dipuji, dipertanyakan, bahkan disindir oleh ribuan pengguna internet.

Dalam suasana semacam ini, sikap seorang pemimpin menghadapi kritik menjadi sangat menentukan. Belakangan, Presiden Prabowo Subianto beberapa kali melontarkan sindiran kepada kelompok yang dinilai gemar “nyinyir” di media sosial. Pernyataan tersebut muncul ketika menanggapi kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk program makan bergizi gratis. Kritik semakin ramai setelah muncul kasus keracunan makanan yang memicu perdebatan luas di ruang publik. Presiden menilai sebagian pengkritik sebagai kelompok elite yang enggan mengakui keberhasilan bangsa serta gemar meragukan potensi nasional, termasuk target swasembada pangan (Antara, 2025; Kompas, 2025).

Pernyataan tersebut menggambarkan satu persoalan klasik dalam politik: hubungan yang tidak selalu harmonis antara kekuasaan dan kritik.

Pemerintah kerap melihat kritik sebagai hambatan bagi stabilitas politik. Sebaliknya, masyarakat memandang kritik sebagai hak sekaligus tanggung jawab warga negara.

Dalam literatur demokrasi, kritik publik memiliki fungsi penting. Kritik berperan sebagai mekanisme pengawasan kekuasaan, sekaligus alat koreksi terhadap kebijakan negara. Robert A. Dahl menempatkan kritik dan partisipasi publik sebagai unsur penting dalam sistem demokrasi yang sehat (Dahl, 1989).

Di tengah perdebatan publik muncul istilah populer: pemimpin “baperan”, singkatan dari bawa perasaan. Istilah ini menggambarkan pemimpin yang terlalu emosional dalam merespons kritik. Kritik dianggap serangan personal, bukan evaluasi terhadap kebijakan. Reaksi emosional lalu muncul dalam bentuk sindiran, pembelaan diri, atau bahkan kemarahan.

Fenomena tersebut bukan sekadar persoalan gaya komunikasi politik. Kepemimpinan yang terlalu dipengaruhi emosi berpotensi menurunkan kualitas pengambilan keputusan. Perasaan mudah tersinggung dapat mengaburkan penilaian rasional. Keputusan publik akhirnya lebih dipengaruhi preferensi pribadi dibanding analisis objektif.

Daniel Goleman menekankan pentingnya kecerdasan emosional dalam kepemimpinan. Pengendalian emosi memungkinkan seorang pemimpin tetap tenang dalam situasi penuh tekanan serta mampu merespons kritik secara rasional (Goleman, 1998).

Tanpa kemampuan tersebut, kritik kecil sekalipun dapat memicu reaksi berlebihan.

Pemimpin publik menghadapi tekanan jauh lebih besar dibanding pemimpin organisasi biasa. Setiap kebijakan mempengaruhi jutaan warga negara. Kritik muncul dari berbagai arah: akademisi, media, aktivis masyarakat sipil, hingga warga biasa di media sosial. Respons emosional terhadap kritik sering kali memperkeruh suasana politik dan memperlebar jarak antara pemerintah dan masyarakat.

Literatur kepemimpinan modern justru menempatkan kemampuan mendengar sebagai salah satu kualitas utama seorang pemimpin. Jim Collins menyebut pemimpin yang efektif memiliki kombinasi antara ketegasan dan kerendahan hati. Pemimpin semacam ini tidak merasa selalu benar, melainkan membuka ruang bagi pandangan alternatif sebelum mengambil keputusan (Collins, 2001).

Kemampuan Mendengar

Kemampuan mendengar sangat penting dalam pengelolaan kebijakan publik. Kritik sering mengandung informasi yang tidak terlihat dari perspektif pemerintah. Akademisi dapat melihat kelemahan desain kebijakan. Media menemukan masalah dalam implementasi program. Masyarakat merasakan langsung dampak kebijakan tersebut.

Deborah Stone menilai proses kebijakan publik selalu dipenuhi perdebatan nilai, kepentingan, dan interpretasi fakta. Kritik membantu membuka ruang diskusi sehingga kebijakan dapat diperbaiki secara bertahap (Stone, 2012). Banyak kebijakan publik di berbagai negara mengalami penyempurnaan setelah mendapat tekanan kritik dari masyarakat.

Media sosial memang menghadirkan tantangan baru. Kritik sering bercampur dengan rumor, sindiran, bahkan disinformasi. Bahasa yang digunakan tidak selalu elegan. Emosi publik sering meluap dalam percakapan digital. Situasi tersebut kerap memancing reaksi spontan dari pejabat publik.

Namun kepemimpinan publik menuntut standar berbeda. Respons emosional terhadap kritik jarang menghasilkan perdebatan yang sehat. Diskusi tentang substansi kebijakan dapat berubah menjadi pertukaran sindiran antara pemerintah dan pengkritik. Energi politik lalu tersedot pada polemik personal.

Pendekatan yang lebih produktif menempatkan kritik sebagai bagian dari proses evaluasi. Tidak semua kritik harus diterima, tetapi setiap kritik layak diuji substansinya. Jika kritik tidak berdasar, pemerintah memiliki ruang menjelaskan melalui data, riset, dan argumentasi kebijakan.

Stephen R. Covey menekankan pentingnya kebiasaan mendengar dalam kepemimpinan efektif. Pemimpin perlu berusaha memahami terlebih dahulu sebelum meminta orang lain memahami posisinya (Covey, 2004). Prinsip tersebut relevan dalam hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

Kepemimpinan publik juga memerlukan keseimbangan antara empati dan rasionalitas. Empati membantu pemimpin memahami kegelisahan masyarakat. Rasionalitas menjaga keputusan negara tetap berada dalam kerangka analisis kebijakan yang matang.

Kepedulian Arah Pembangunan

Kritik tidak selalu menandakan permusuhan terhadap pemerintah. Banyak kritik lahir dari kepedulian terhadap arah pembangunan negara. Warga negara yang peduli justru merasa perlu menyuarakan kegelisahan ketika melihat potensi masalah dalam kebijakan publik.

Dalam sejarah politik modern, kemajuan demokrasi sering lahir dari kritik yang konsisten. Kritik mendorong transparansi, memperkuat akuntabilitas, dan memperbaiki kualitas kebijakan negara. Tanpa kritik, kekuasaan berisiko berjalan tanpa koreksi.

Kualitas seorang pemimpin sering tercermin dari cara merespons kritik. Pemimpin yang matang cenderung tidak mudah tersinggung. Perhatian lebih tertuju pada substansi persoalan dibanding nada kritik yang kadang keras.

Sebaliknya, kepemimpinan yang terlalu sensitif terhadap kritik berpotensi menciptakan jarak psikologis antara pemerintah dan masyarakat. Kritik dipandang sebagai ancaman politik, bukan sebagai masukan bagi perbaikan kebijakan.

Kepemimpinan publik menuntut keberanian menghadapi perbedaan pendapat. Kritik tidak selalu menyenangkan, namun kritik tetap menjadi bagian dari proses demokrasi. Pemimpin yang kuat tidak hanya bekerja untuk rakyat, tetapi juga bersedia mendengar suara rakyat, termasuk suara yang paling kritis sekalipun.

Kepemimpinan yang berperan tidak terjebak dalam emosi sesaat. Fokus utama tetap tertuju pada kualitas kebijakan serta kesejahteraan masyarakat. Kritik tidak dipandang sebagai gangguan, melainkan sebagai cermin bagi perbaikan tata kelola pemerintahan. (*)

Tags: Farid WajdiPemimpin Baperan
Previous Post

Program Ramadhan SD Muhasaba Didukung Penuh Wali Santri, Gerakan Al-Ma’un Capai 29 Juta

Next Post

FISIP UMSU Berbagai Paket Lebaran untuk Dosen dan Tendik

Related Posts

Jateng Sabet Juara Umum Putra LPB V Nasional Hizbul Wathan: Bukti Semangat Fastabiqul Khairat

Jateng Sabet Juara Umum Putra LPB V Nasional Hizbul Wathan: Bukti Semangat Fastabiqul Khairat

1 Juli 2026
101
FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
146
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
108
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

29 Juni 2026
104
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
Next Post
FISIP UMSU Berbagai Paket Lebaran untuk Dosen dan Tendik

FISIP UMSU Berbagai Paket Lebaran untuk Dosen dan Tendik

Resmi Terima SK Rektor, GPM FISIP UMSU Siap Perkuat Sistem Penjaminan Mutu Akademik

Resmi Terima SK Rektor, GPM FISIP UMSU Siap Perkuat Sistem Penjaminan Mutu Akademik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
108
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
116
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
117

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan