✍️ Farid Wajdi
Idulfitri hadir membawa cahaya yang lembut: menyentuh ruang batin, meredakan kegelisahan, sekaligus menumbuhkan harapan baru. Frasa kembali suci bergaung sebagai janji spiritual yang menenangkan: keyakinan tentang manusia yang telah melalui proses penyucian diri dan kini berdiri dalam kejernihan. Tradisi saling memaafkan memperkuat makna tersebut, menghadirkan suasana hangat yang menyatukan relasi yang sempat renggang.
Keindahan ini sekaligus menghadirkan ruang perenungan yang lebih dalam: sejauh mana kesucian dimaknai sebagai capaian sesaat, dan sejauh mana kesucian dipahami sebagai perjalanan yang menuntut ketekunan.
Dalam warisan intelektual Islam, kesucian tidak pernah diposisikan sebagai hasil instan. Abu Hamid Al-Ghazali (1111) menegaskan penyucian jiwa sebagai proses berkelanjutan yang memerlukan latihan batin, pengendalian diri, serta kejujuran dalam melihat kekurangan diri. Kesucian lahir melalui pergulatan sunyi seperti melawan ego, meluruskan niat, serta menjaga konsistensi amal.
Gagasan tersebut berkelindan dengan pemikiran Fazlur Rahman (1982) yang menempatkan ajaran Islam sebagai sistem etika yang hidup. Ritual tidak berhenti sebagai simbol, melainkan mengarah pada pembentukan karakter.
Ramadan berfungsi sebagai ruang pendidikan moral yang intens, membentuk kepekaan sosial dan kedisiplinan spiritual. Nilai yang terbangun selama bulan tersebut menuntut keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kesinambungan, kesucian mudah berubah menjadi pengalaman sesaat yang memudar.
Realitas sosial memperlihatkan ironi yang halus namun nyata. Kesalehan ritual mencapai puncaknya selama Ramadan, tetapi tidak selalu diikuti oleh transformasi perilaku yang bertahan lama.
Ketidakjujuran, ketidakadilan, serta sikap abai terhadap kepentingan bersama kembali muncul dalam ritme yang tidak banyak berubah.
Kesenjangan antara simbol dan praktik menjadi cermin yang memanggil kesadaran.
Dalam perspektif sosiologi, Émile Durkheim (1912) menjelaskan ritual keagamaan sebagai pengalaman kolektif yang menghasilkan energi emosional yang kuat. Ramadan dan Idulfitri memperkuat solidaritas sosial melalui pengalaman bersama yang intens. Energi tersebut memerlukan penguatan melalui internalisasi nilai dalam kebiasaan sehari-hari. Tanpa penguatan tersebut, kesucian kolektif mudah menguap ketika rutinitas kembali mendominasi.
Dari sisi etika, reinterpretasi kembali suci mengarah pada pemahaman yang lebih substantif. Immanuel Kant (1785) melalui gagasan imperatif kategoris menegaskan pentingnya konsistensi moral dalam setiap tindakan. Nilai tidak cukup diyakini, tetapi perlu diwujudkan secara nyata.
Kesucian, dalam kerangka ini, berkaitan dengan integritas, misalnya berkaitan dengan keselarasan antara keyakinan dan tindakan. Kehidupan yang bersih tercermin dalam kejujuran, keadilan, serta tanggung jawab yang dijalankan secara konsisten.
Dimensi sosial dari kesucian semakin relevan dalam kehidupan kontemporer. Amartya Sen (2009) menekankan keadilan sebagai bagian esensial dari kehidupan bermartabat. Kesucian yang berhenti pada ranah individual berisiko menjadi eksklusif dan terpisah dari realitas sosial. Puasa yang melatih empati terhadap kelompok rentan semestinya berlanjut dalam bentuk kepedulian nyata, melalui tindakan sederhana yang berkelanjutan maupun kontribusi dalam ruang sosial yang lebih luas.
Tantangan semakin kompleks dalam lanskap modern yang terus berubah. Zygmunt Bauman (2000) menggambarkan kehidupan kontemporer sebagai liquid modernity, ketika nilai dan identitas menjadi cair dan mudah bergeser. Dalam situasi seperti ini, kesucian berisiko tereduksi menjadi simbol yang ditampilkan, bukan nilai yang dihidupi. Ucapan maaf dapat tersebar luas melalui media digital, disertai ekspresi yang menyentuh, namun refleksi mendalam tidak selalu menyertai.
Reinterpretasi kembali suci menjadi kebutuhan yang mendesak. Kesucian perlu dipahami sebagai komitmen yang terus diperbarui, bukan sekadar kondisi yang dirayakan.
Idulfitri dapat dimaknai sebagai titik refleksi sebuah jeda untuk menilai arah kehidupan, memperbaiki relasi, serta memperkuat integritas.
Kesucian menemukan makna dalam tindakan yang sederhana namun konsisten: kejujuran dalam pekerjaan, ketulusan dalam relasi, keadilan dalam keputusan, serta kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut tidak memerlukan panggung besar; cukup hadir dalam keseharian yang sering terabaikan.
Ajakan ini tidak bermaksud mengurangi makna tradisi, melainkan memperdalamnya. Ungkapan mohon maaf lahir dan batin dapat menjadi pintu menuju perubahan yang lebih nyata. Setiap permintaan maaf dapat diiringi dengan tekad untuk memperbaiki, setiap pengampunan dapat menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Kesucian tidak berhenti pada ingatan tentang perjalanan Ramadan, tetapi bergerak menuju komitmen untuk menjaga nilai yang telah ditanamkan. Setiap langkah setelah Idulfitri menghadirkan kesempatan untuk menghadirkan makna tersebut dalam tindakan nyata. Pilihan-pilihan kecil yang diambil setiap hari perlahan membentuk karakter yang lebih jujur, lebih adil, dan lebih bertanggung jawab.
Reinterpretasi kembali suci mengundang kesadaran untuk menjadikan kesucian sebagai proses yang terus berlangsung: pelan, tekun, dan penuh kesadaran. Idulfitri tidak hanya menjadi penanda berakhirnya ibadah Ramadan, tetapi juga awal dari perjalanan etis yang lebih matang.
Kesucian, dalam makna yang lebih dalam, tidak sekadar dirayakan. Kesucian perlu dihidupi, dalam diam, dalam tindakan, serta dalam komitmen yang terus diperbarui sepanjang waktu. (*)
Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU








