• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Rabu, Maret 18, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Mudik di Negeri yang Rindu Pulang: Antara Jalan Macet dan Hati yang Penat

Jufri by Jufri
2026/03/17
in Jufri Daily, Nasional, Opini
0
Mudik di Negeri yang Rindu Pulang: Antara Jalan Macet dan Hati yang Penat
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

✍️ Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

Setiap Ramadhan menuju akhir, negeri ini seperti bergerak serentak. Jalanan macet berkilometer, terminal sesak, pelabuhan dipenuhi wajah-wajah lelah namun penuh harap. Orang menyebutnya mudik. Sebuah tradisi yang bukan sekadar perjalanan geografis, tetapi juga perjalanan emosional. Namun di balik gegap gempita itu, tersimpan pertanyaan sunyi: apakah kita benar-benar pulang, atau sekadar berpindah tempat?

Mudik sering dipahami sebagai kemenangan setelah sebulan berpuasa. Padahal puasa bukan hanya latihan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan menahan ambisi yang berlebihan, menahan kemarahan yang mudah meledak, dan menahan keinginan untuk selalu merasa benar. Puasa adalah proses kembali kepada fitrah. Maka mudik spiritual sesungguhnya adalah perjalanan pulang ke dalam diri — mencari kembali kejujuran yang mungkin telah hilang dalam hiruk pikuk kehidupan modern.

Sayangnya, kehidupan hari ini sering membuat manusia jauh dari dirinya sendiri. Tekanan ekonomi, kompetisi kerja, dan ketidakpastian masa depan menjadikan banyak orang hidup dalam kecemasan. Mereka bekerja keras sepanjang tahun, tetapi tetap merasa tidak aman. Mereka berlari mengejar kesejahteraan, tetapi sering lupa mengejar ketenangan. Dalam kondisi seperti itu, mudik menjadi semacam pelarian sementara. Kampung halaman dipandang sebagai ruang nostalgia, tempat di mana hidup terasa lebih sederhana dan manusia masih saling menyapa tanpa curiga.

Namun mudik tidak hanya soal kerinduan pribadi. Ia juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Di tengah masyarakat yang semakin terbelah oleh perbedaan pilihan politik, perbedaan status ekonomi, bahkan perbedaan gaya hidup, Ramadhan menghadirkan momentum rekonsiliasi. Orang-orang yang sebelumnya saling menghindar kembali duduk bersama. Kata maaf yang dulu terasa berat menjadi ringan. Silaturahmi yang sempat putus kembali disambung.

Mudik sosial mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk relasional. Tidak ada keberhasilan yang benar-benar bermakna jika diraih sendirian. Tidak ada kebahagiaan yang utuh tanpa kebersamaan. Tetapi realitas hari ini menunjukkan paradoks. Di satu sisi, teknologi membuat komunikasi semakin mudah. Di sisi lain, kedekatan emosional justru semakin mahal. Banyak orang lebih aktif di dunia maya daripada di ruang keluarga. Banyak yang lantang berbicara tentang kepedulian sosial, tetapi lupa menyapa tetangga sendiri.

Di sinilah pentingnya mudik kultural. Tradisi Ramadhan di negeri ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah warisan nilai yang menjaga masyarakat tetap memiliki rasa kebersamaan. Buka puasa bersama, tadarus di masjid, takbiran, hingga halal bi halal adalah bentuk pendidikan sosial yang berlangsung secara alami. Anak-anak belajar bahwa hidup tidak hanya tentang prestasi pribadi, tetapi juga tentang berbagi. Orang dewasa belajar bahwa kesederhanaan seringkali lebih menenangkan daripada kemewahan.

Namun tantangan zaman tidak bisa diabaikan. Harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, lapangan kerja yang semakin kompetitif, serta ketimpangan ekonomi membuat makna mudik menjadi semakin kompleks. Bagi sebagian orang, mudik adalah kebahagiaan. Tetapi bagi sebagian lainnya, mudik justru menjadi beban finansial. Mereka tetap pulang, bukan karena mampu, tetapi karena tradisi dan tekanan sosial. Mereka memaksakan diri agar tidak dianggap gagal oleh keluarga dan lingkungan.

Di tengah realitas seperti itu, mudik seharusnya menjadi momentum refleksi nasional. Bahwa pembangunan tidak cukup diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari rasa keadilan yang dirasakan masyarakat. Bahwa kemajuan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang kesejahteraan yang merata. Sebab apa arti jalan tol yang panjang jika banyak rakyat masih merasa hidupnya buntu?

Akhirnya, mudik yang sesungguhnya bukan hanya perjalanan menuju kampung halaman, tetapi perjalanan menuju kesadaran. Pulang kepada Tuhan agar hidup memiliki arah. Pulang kepada sesama agar kehidupan memiliki makna. Dan pulang kepada tradisi agar bangsa ini tidak kehilangan jati dirinya.

Ramadhan akan segera pergi. Jalanan mungkin akan kembali lengang. Kota-kota akan kembali sibuk. Tetapi pertanyaan paling penting akan tetap tinggal di dalam hati kita: setelah semua perjalanan ini, sudahkah kita benar-benar pulang? (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

.

Tags: mudik
Previous Post

Pesantren Didorong Jadi Pelopor Transisi Energi Berkeadilan Berbasis Nilai Keagamaan

Next Post

Takdir, Kewenangan, dan Dakwah di Balik Seragam Polisi

Related Posts

RCCE Medan dan Deli Serdang Edukasi Pemudik Agar Aman Menuju Kampung Halaman

28 April 2022
202

Kenapa Muktamar Muhammadiyah Diundur Hingga 2 Tahun? Ini Penjelasan Prof Dadang Kahmad

23 April 2022
514

Pemerintah Putuskan Larang Mudik Lebaran 2021

26 Maret 2021
368

Haedar Nashir: Masyarakat Tidak Perlu Mudik di Tengah Wabah Corona

6 April 2020
263
Next Post
Takdir, Kewenangan, dan Dakwah di Balik Seragam Polisi

Takdir, Kewenangan, dan Dakwah di Balik Seragam Polisi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In