TAJDID.ID~Simalungun || Tiga mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menuntaskan pengabdian selama 45 hari sebagai Relawan Pendidikan di Pondok Pesantren Modern MBS Darul Arqom, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program Kampus Berdampak yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia.
Perjalanan menuju lokasi pengabdian tidaklah singkat. Dari kampus UMSU di Kota Medan, para relawan harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam. Sebagian akses menuju pesantren masih berupa jalan yang belum beraspal. Namun, hamparan sawah yang mengelilingi kawasan pondok menghadirkan panorama alami yang menyejukkan, sekaligus menjadi latar yang memperkaya pengalaman pengabdian para mahasiswa.
Program Relawan Pendidikan ini menjadi wujud nyata peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat. Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga terlibat aktif dalam mendukung proses pendidikan di lingkungan pesantren.
Dosen pembimbing program, Dr. Robie Fanreza, S.Pd.I., M.Pd.I, menegaskan bahwa konsep Kampus Berdampak mendorong perguruan tinggi untuk lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi lingkungan sekitar.
“Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan, publikasi, atau capaian akademik lainnya, tetapi juga mampu mentransformasi kehidupan masyarakat. Kampus harus menjadi pusat solusi serta motor inovasi sosial dan pendidikan berkelanjutan,” ujarnya.
Kehadiran mahasiswa relawan juga mendapat sambutan positif dari pihak pesantren. Mudir Pondok Pesantren Modern MBS Darul Arqom Simalungun, Ali Mustofa Al Jufri, S.Pd.I, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan belajar mengajar membawa dampak yang baik bagi para santri.
Menurutnya, interaksi antara mahasiswa dan santri mampu menumbuhkan semangat belajar yang lebih tinggi serta menghadirkan variasi dalam metode pembelajaran di pesantren.
“Program relawan pendidikan dari Fakultas Agama Islam UMSU memberikan manfaat besar bagi para santri. Kehadiran mahasiswa menambah motivasi belajar mereka sekaligus memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam,” ungkapnya.
Adapun tiga mahasiswa yang mengikuti program tersebut adalah Sri Levinia Perangin-angin, Nurmaulida Paujiah Tanjung, dan Zil Rahmi Daulay. Bagi mereka, pengalaman mengabdi di Simalungun menjadi kesempatan berharga untuk mengaplikasikan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah sekaligus belajar langsung dari kehidupan pesantren.
Mereka menilai kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi santri, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran baru bagi mahasiswa untuk memahami realitas pendidikan di masyarakat.
“Kami datang untuk mengabdi sekaligus belajar. Pengalaman ini mengajarkan kami bahwa kontribusi kecil yang dilakukan dengan tulus dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan sekitar,” ujar mereka.
Para relawan juga berharap program Relawan Pendidikan Kampus Berdampak dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Dengan demikian, semakin banyak mahasiswa yang memiliki kesempatan untuk terlibat langsung dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di berbagai daerah.
Melalui program ini, peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial semakin nyata. Pengabdian yang dilakukan tidak hanya memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam membangun pendidikan yang lebih inklusif dan berdampak bagi masa depan. (*)








