✍️ M. Risfan Sihaloho
Beberapa hari terakhir, lini masa media sosial kita dibanjiri gelombang informasi tentang konflik Amerika Serikat dkk versus Iran. Seolah tak ada mati, berita, tagar, poster, hingga grafik buatan bertema perang dan krisis silih berganti memenuhi timeline.
Sebagai warganet biasa, kita dipaksa menjadi hakim dadakan atas informasi yang faktual dan yang palsu. Namun, situasinya jauh lebih rumit dari sekadar benar atau salah. Kita sedang menyaksikan, bahkan tanpa sadar menjadi sasaran, dari sebuah perang propaganda skala penuh.
Media-media mainstream dunia, yang nota bene sebagian besar dikuasai oleh kepentingan Barat, tidak serta-merta bisa menjadi oase informasi. Klaim “telah terverifikasi” yang mereka sandang kerap menjadi tameng untuk narasi yang jauh dari kata netral.
Tulisan ini akan mengajak Anda menyelami kedalaman perang narasi ini, membedah aktor, strategi, dan bahaya laten yang mengintai di balik hiruk-pikuk informasi yang membanjiri kita.
Lebih dari Sekadar Berita: Memahami “Perang Lunak”
Konflik AS dan Iran bukan lagi semata-mata soal armada kapal induk di Teluk Persia atau negosiasi nuklir di Jenewa. Dimensi terpenting saat ini adalah apa yang disebut sebagai information warfare atau perang informasi, atau dalam istilah yang lebih populer, perang lunak (soft war).
Tujuannya sederhana namun destruktif: delegitimasi naratif. Bukan untuk menghancurkan negara sasaran dengan bom, melainkan menghancurkan legitimasinya di mata publik global dan, yang terpenting, di mata rakyatnya sendiri.
Amerika Serikat dan sekutunya (terutama Israel) berusaha membingkai Iran bukan sebagai sebuah negara dengan peradaban dan sejarah panjang, melainkan sebagai “rezim” represif yang harus digulingkan. Setiap dinamika internal, seperti protes ekonomi akibat sanksi yang memang mereka ciptakan, langsung dibingkai ulang sebagai gerakan revolusi dan penolakan total terhadap sistem politik Iran .
Senjata Media: Antara “Kebohongan Besar” dan Atrocity Propaganda
Dalam perang modern, media adalah medan tempur paling sengit. Pemerintah Iran melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, dengan keras mengecam taktik ini, menyebutnya sebagai pengulangan “kebohongan besar” ala Menteri Propaganda Nazi, Joseph Goebbels: “Repeat a lie often enough and it becomes the truth” (Ulangi sebuah kebohongan cukup sering, maka ia akan menjadi kebenaran) .
Salah satu senjata paling ampuh dalam perang media ini adalah “atrocity propaganda” atau propaganda kekejaman. Tujuannya adalah untuk memicu emosi, terutama kemarahan dan jijik, dengan menyebarkan cerita-cerita horor yang sulit diverifikasi.
Contoh paling gamblang dan mengerikan adalah berita yang diviralkan oleh New York Post dengan judul yang sensasional: “Pasukan Iran merobek rahim pengunjuk rasa wanita untuk menyembunyikan pelecehan seksual yang mengerikan.”.
Coba cermati logika dalam klaim ini. Mengapa sebuah pasukan keamanan negara, dalam skenario terburuk sekalipun, akan melakukan tindakan medis sadis semata untuk “menyembunyikan” bukti pelecehan? Narasi ini rontok oleh logika sederhana. Sumber “berita” ini pun hanya berdasarkan pernyataan satu orang “pengungsi Iran anonim” yang sama sekali tidak bisa diverifikasi . Ini adalah propaganda kelas rendah, namun karena dikemas dengan judul mengerikan dan disebarkan oleh media besar, ia tetap mampu menyusup ke kesadaran publik.
Taktik serupa juga terlihat dalam peliputan protes di Iran. Media seperti New York Times dan Washington Post kerap menggunakan sob-story (kisah menyedihkan) dari sumber anonim untuk membangun narasi kemarahan publik. Mereka mengutip angka-angka korban yang tidak terverifikasi, seringkali dari organisasi seperti HRANA yang berbasis di AS, untuk kemudian menyimpulkan bahwa rakyat Iran menginginkan intervensi asing. Padahal, klaim tokoh AS seperti Steve Witkoff tentang Iran yang “tinggal seminggu lagi” dari bom nuklir pun dengan mudah dibantah oleh fakta di lapangan .
Algoritma Permusuhan: Perang Bot dan Bayang-Bayang “MIGA”
Jika media tradisional adalah meriam berat, maka media sosial adalah pasukan gerilya yang menyusup ke garis belakang musuh. Ruang digital menjadi ajang pertempuran sengit antara bot, buzzer, dan akun-akun palsu.
Sebuah laporan dari National Contagion Research Institute (NCRI) mengungkapkan bahwa Rusia dan Iran telah menggunakan puluhan ribu bot untuk menyuntikkan retorika ekstrem ke dalam diskursus media sosial Amerika. Tujuannya? Memecah belah masyarakat AS sendiri. Bot-bot ini bekerja untuk memperbesar pengaruh akun-akun yang menyebarkan perpecahan, rasisme, dan antisemitisme, menciptakan ilusi bahwa Amerika sedang dilanda perang saudara .
Begitu pula sebaliknya. Tagar seperti #MIGA (Make Iran Great Again) yang sempat viral, menunjukkan bagaimana propaganda lintas batas bekerja. Dicetuskan oleh Presiden Trump, tagar ini langsung diadopsi dan dipropagandakan oleh akun-akun oposisi Iran di luar negeri. Bagi yang mendukung, ini adalah simbol harapan. Namun bagi banyak pihak, ini adalah alat propaganda “pergantian rezim” yang dikemas dalam balutan tren digital . Akun-akun pro-pemerintah Iran pun dengan cepat membalas, menyebutnya sebagai propaganda Barat. Perang tagar ini adalah miniatur dari perang narasi besar yang sesungguhnya.
Dua Sisi Mata Uang: Ironi “Opini Publik” di AS dan Iran
Perang propaganda ini melahirkan ironi yang menarik. Media pro-Barat menggambarkan Iran sebagai negara yang siap meledak, di mana rakyatnya membenci pemerintah dan mendambakan “pembebasan” .
Namun di sisi lain, jajak pendapat yang dilakukan CGTN (China Global Television Network) menunjukkan bahwa 93,9 persen responden global mengecam tindakan militer AS dan Israel terhadap Iran.
Bahkan di Amerika Serikat sendiri, gelombang protes besar justru terjadi di kota-kota seperti Washington DC dan New York. Rakyat Amerika turun ke jalan menentang serangan militer ke Iran yang mereka anggap ilegal dan inkonstitusional, serta berpotensi memicu perang panjang yang tidak mereka inginkan .
Ini menunjukkan adanya jurang pemisah yang lebar antara narasi yang dibangun oleh mesin propaganda dengan realitas opini publik, baik di tingkat global maupun di negara agresor itu sendiri. Sementara media tertentu sibuk menciptakan “pembenaran” untuk perang, rakyat di jalanan menyuarakan pesan perdamaian.
Refleksi: Menjaga Kedaulatan Berpikir di Tengah Badai Informasi
Di tengah hiruk-pikuk propaganda, kita sebagai konsumen informasi memiliki tanggung jawab besar. Dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, Sayyed Abdullah, menulis bahwa kegagalan utama strategi perang media AS terhadap Iran adalah karena meremehkan ketahanan sosial dan identitas nasional Iran . Masyarakat Iran, meski kritis terhadap kebijakan ekonomi, tetap memiliki kesadaran historis untuk membedakan antara kritik domestik dan intervensi asing.
Namun, kita tidak boleh naif. Perang propaganda ini nyata dan dampaknya juga nyata. Tujuan utamanya adalah untuk mengaburkan fakta, memecah belah solidaritas, dan menciptakan ilusi bahwa konflik bersenjata adalah solusi yang tak terelakkan.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
1. Verifikasi, Jangan Pernah Percaya Begitu Saja.
Seperti pesan Duta Besar Iran, Hamid Baeidinejad, jangan pernah mem-forward atau membagikan berita tanpa memverifikasinya. Berita mengerikan dengan judul hiperbola adalah tanda bahaya pertama.
2. Kenali Sumbernya.
Pahami afiliasi dan sejarah kredibilitas sebuah media. Apakah ia sering menjadi corong propaganda perang di masa lalu?
3. Sadari Adanya Kepentingan.
Di balik setiap narasi, selalu ada kepentingan. Perang propaganda AS terhadap Iran tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah instrumen kebijakan luar negeri untuk melemahkan posisi strategis Iran di kawasan, terutama dalam isu-isu seperti Palestina, tanpa harus menanggung biaya politik dan militer yang terlalu besar.
***
Perang propaganda ini adalah pengingat bahwa di era digital, menjaga kedaulatan berpikir adalah bentuk perlawanan yang paling utama.
Jangan biarkan algoritma dan mesin propaganda merampok kemampuan kita untuk melihat realitas dengan jernih. (*)


