• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Minggu, Maret 1, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

The Power of Resistance: Mengapa Iran Tak Pernah Bisa Ditaklukkan

M. Risfan Sihaloho by M. Risfan Sihaloho
2026/03/01
in Esai, Internasional, Opini, Tilikan
0
The Power of Resistance: Mengapa Iran Tak Pernah Bisa Ditaklukkan

Gambar ilustratif.

Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

✍️ M. Risfan Sihaloho

Pemred TAJDID.ID

Di tengah hiruk-pikuk geopolitik global yang sering kali mereduksi sebuah bangsa menjadi sekadar barisan data ekonomi atau target sanksi, Iran berdiri sebagai sebuah teka-teki. Ia adalah sebuah paradoks berjalan. Di satu sisi, negara itu tercekik oleh sanksi ekonomi terberat dalam sejarah modern, mata uangnya (rial) ambruk hingga kehilangan 20.000 kali nilainya dibandingkan dengan dolar AS sejak revolusi 1979 , dan inflasi diperkirakan tembus 42,4%. Di sisi lain, ia tetap bergerak, tetap menantang, dan tetap menjadi duri dalam daging bagi poros kekuasaan global.

Inilah esensi dari “fase nothing to lose”—sebuah kondisi eksistensial di mana sebuah bangsa tidak lagi merasa memiliki sesuatu yang bisa dirampas, sehingga yang tersisa hanyalah kekuatan untuk melawan. Iran hari ini adalah manifestasi sempurna dari fenomena itu. Bukan hanya karena tekad para pemimpinnya, tetapi karena perlawanan telah mengalir dalam darah mereka selama ribuan tahun. Mereka adalah pewaris Kekaisaran Persia, yang telah berkali-kali “dibakar oleh invasi, dicekik sanksi, dan dikubur isolasi,” namun selalu bangkit kembali—dengan luka yang menganga dan dendam yang menjelma menjadi kekuatan suci .

Akar Sejarah: Ketika Invasi Melahirkan Identitas

Untuk memahami kekuatan resistance Iran, kita harus menyelami kedalaman sejarahnya. Iran kuno atau Persia, bukanlah bangsa yang asing dengan penaklukan. Alexander Agung dari Makedonia membakar Persepolis hingga rata dengan tanah. Kemudian datang bangsa Arab, Mongol, dan Turki. Mereka semua datang, menghancurkan, dan membangun imperium di atas puing-puing kejayaan Persia. Namun, yang terjadi adalah sebuah keajaiban sosiologis: para penakluk itu pada akhirnya terserap dan terasimilasi oleh peradaban yang mereka kalahkan.

Bangsa Persia tidak melawan dengan sekadar pedang, mereka melawan dengan ketahanan budaya. Bahasa dan sastra Persia (Farsi) bertahan, sistem administrasi mereka diadopsi, dan bahkan ketika Islam datang, Persia tidak kehilangan jati dirinya. Sebaliknya, ia memberikan warna baru pada peradaban Islam itu sendiri. Inilah akar dari The Power of Resistance: kemampuan untuk bertahan, menyerap guncangan, dan tetap menjadi diri sendiri.

Sejarah modern mencatat babak baru perlawanan ini. Pada tahun 1953, dunia menyaksikan sebuah pengkhianatan besar ketika badan intelijen AS (CIA) dan Inggris (MI-6) menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh yang terpilih secara demokratis. Apa kesalahan Mosaddegh? Ia berani menasionalisasi industri minyak Iran yang sebelumnya dikuasai asing . Barat kemudian mengembalikan kekuasaan kepada Shah (raja) yang otoriter dan menjadi boneka mereka. Namun, momen ini justru menjadi pupuk bagi bibit-bibit resistensi. Rakyat Iran belajar pelajaran pahit: bahwa di bawah bayang-bayang superioritas Barat, kedaulatan adalah barang mewah yang harus direbut dengan harga mahal.

Puncaknya adalah Revolusi Islam 1979—sebuah peristiwa yang disebut sebagai “keterkejutan politik” di luar skenario Amerika . Sebuah revolusi yang tidak digerakkan oleh ideologi sekuler atau komunis, tetapi oleh para ulama dan rakyat jelata yang memilih jalan kemandirian. “Kebebasan dan martabat tidak lahir dari kepatuhan, tetapi dari keberanian melawan ketidakadilan,” demikian esensi dari kebangkitan itu .

Sanksi: Api yang Membara, Bukan Air yang Mematikan

Jika ada satu kata yang mendefinisikan hubungan Iran dengan dunia pasca-revolusi, kata itu adalah “sanksi”. AS pertama kali membekukan aset Iran saat krisis penyanderaan tahun 1979. Pada 1984, Iran dicap sebagai “negara sponsor terorisme”, sebuah cap yang memicu pembatasan ekonomi dan senjata yang masih berlaku hingga kini . Pada 2012, AS dan Uni Eropa menjatuhkan sanksi paling ketat yang pernah ada, menargetkan pendapatan minyak dan sektor perbankan Iran. Sempat ada secercah harapan dengan kesepakatan nuklir JCPOA tahun 2015, di mana sanksi dilonggarkan sebagai imbalan pembatasan program nuklir. Namun, harapan itu sirna pada 2018 ketika Donald Trump secara sepihak menarik AS dari perjanjian tersebut dan menerapkan kebijakan “tekanan maksimum” .

Pada September 2025, Eropa kembali mengaktifkan mekanisme “snapback”, memulihkan sanksi PBB yang melumpuhkan . Logika di balik sanksi ini sederhana: buat rakyat menderita, putus asa, lalu gulingkan pemerintahannya. Di Libya dan Irak, strategi ini berhasil. Namun di Iran, terjadi hal yang sebaliknya.

Tekanan eksternal justru menjadi katalis kemandirian. Terputus dari pasokan senjata global, Iran membangun industri militer dalam negeri yang kini memproduksi rudal balistik terkuat di Timur Tengah dan drone canggih yang diperhitungkan di medan perang Ukraina. Sanksi perbankan memaksa mereka menciptakan sistem keuangan alternatif dan memperkuat hubungan dengan raksasa timur seperti China dan Rusia—sebuah “Look East Strategy” yang membuat sanksi Barat kehilangan banyak dayanya .

Bahkan dalam bidang sains dan teknologi, Iran terus melesat. Program nuklirnya tidak pernah mati; ia hanya bergerak di bawah tanah, memperkaya uranium hingga 60%, hanya selangkah lagi menuju tingkat senjata, dan mengembangkan sentrifugal generasi canggih IR-9 . Indeks Pembangunan Manusia (HDI) mereka pun tetap di atas rata-rata global, menunjukkan bahwa masyarakat Iran mampu menjaga kualitas hidup meski di bawah tekanan .

Pernyataan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menggambarkan mentalitas ini dengan sempurna: “Siapa kalian sampai bisa menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan suatu bangsa hanya karena memiliki industri nuklir?” . Ini bukan soal bom, ini soal martabat. Ini soal hak menentukan nasib sendiri.

Perang dan Intrik: Dari Saddam hingga “Operation Rising Lion”

Setiap kali diplomasi gagal menaklukkan Iran, senjata dan intrik mengambil alih. Barat meminjam tangan Saddam Hussein pada 1980 untuk melancarkan perang delapan tahun yang brutal. Irak saat itu didukung penuh oleh AS dan sekutunya, bahkan dengan dalih mencegah ekspor revolusi Iran. Perang itu berakhir tanpa pemenang, tetapi menunjukkan bahwa Iran bisa bertahan meski dalam isolasi diplomatik total .

Di medan lain, Selat Hormuz—jalur sempit yang mengalirkan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia—menjadi saksi bisu pertempuran bayangan. Pada 1988, AS melancarkan Operasi Praying Mantis, menenggelamkan beberapa kapal Iran sebagai pembalasan atas ranjau yang merusak kapal perang AS. Di tahun yang sama, pesawat Airbus Iran Air ditembak jatuh oleh kapal perang AS Vincennes, menewaskan 290 warga sipil. Tragedi ini dianggap sebagai “kecelakaan” oleh AS, tetapi di mata Iran, itu adalah bagian dari pola permusuhan sistematis .

Kini, eskalasi terbaru datang dengan nama sandi “Operation Rising Lion”, serangan Israel yang menurut analisis ditujukan untuk memicu perubahan rezim dan mengembalikan Iran ke era monarki. Dengan menggandeng Pangeran Mahkota Reza Pahlavi yang hidup di pengasingan, Barat dan Israel berharap dapat membelah persatuan Iran . Namun, analisis ini juga menggarisbawahi perbedaan fundamental Iran dengan Irak atau Afghanistan: “Mengubah sistem pemerintahan, bukan cuma ganti pemimpin, tentu lebih rumit” .

Nalar dan Hati yang Membara

The Power of Resistance Iran bukanlah mitos, ia adalah realitas sosiologis dan historis. Ia bersemayam dalam diri Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang didirikan untuk melindungi sistem revolusi, yang kini memiliki kekuatan rudal balistik terhebat di kawasan . Ia hidup dalam semangat para ilmuwan nuklirnya yang, meski menjadi target pembunuhan, digantikan oleh ribuan ilmuwan baru yang memahami teknologi itu dengan baik . Ia bahkan bersemayam di pasar-pasar tradisional Teheran, di mana para pedagang yang protes karena ekonomi runtuh, pada akhirnya mungkin lebih takut pada ketidakadilan asing daripada kesulitan ekonomi itu sendiri.

Tentu, Iran bukannya tanpa masalah. Protes besar meletus di awal 2026, dipicu oleh inflasi dan nilai tukar yang hancur . Rakyat Iran lelah dengan kesulitan ekonomi. Namun, poin kritisnya adalah: ketika bom asing mulai berjatuhan, ketika “Operation Rising Lion” benar-benar menerkam, apakah kemarahan pada pemerintah akan lebih besar daripada rasa kebanggaan nasional dan ancaman eksistensial dari luar?

Sejarah menunjukkan sebaliknya. Naluri bertahan hidup pada tingkat kolektif mampu menyatukan masyarakat yang terpecah. Dalam menghadapi agresi eksternal, Iran yang terpecah belah dapat bersatu menjadi “satu tubuh yang menggelegar, satu jiwa yang membara” . Karena bagi bangsa yang telah bertahan selama ribuan tahun, yang telah melihat imperium besar datang dan pergi, agresi hari ini hanyalah “hari Senin biasa” .

Iran berdiri hari ini sebagai tamparan bagi logika kekuasaan liberal yang menganggap bahwa tekanan ekonomi dan militer adalah jawaban. Mereka membuktikan bahwa kedaulatan tidak diwariskan, tetapi diperjuangkan; kemerdekaan tidak dijaga melalui kepatuhan, tetapi melalui kemandirian.

Di dunia yang penuh dengan negara-negara yang patuh pada arus, Iran memilih untuk menjadi batu karang yang memecah ombak. Inilah The Power of Resistance. Inilah kekuatan terakhir yang dimiliki oleh mereka yang sudah tidak lagi memiliki apa-apa untuk hilang. Dan kekuatan seperti itu, adalah kekuatan paling berbahaya yang pernah ada. (*)

Tags: IranPersia
Previous Post

Serangan AS-Israel ke Iran, Prabowo Didesak Buktikan Mandat ISF untuk Hentikan Eskalasi

Next Post

China Sebut Amerika Serikat "Pecandu Perang" dan Biang Kekacauan Dunia

Related Posts

Serangan AS-Israel ke Iran, Prabowo Didesak Buktikan Mandat ISF untuk Hentikan Eskalasi

Serangan AS-Israel ke Iran, Prabowo Didesak Buktikan Mandat ISF untuk Hentikan Eskalasi

1 Maret 2026
125
Next Post
China Sebut Amerika Serikat “Pecandu Perang” dan Biang Kekacauan Dunia

China Sebut Amerika Serikat "Pecandu Perang" dan Biang Kekacauan Dunia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In