Oleh : Jufri
Kami dan keluarga sudah menjalankan ibadah puasa hari ini, tanggal 18 Februari 2026. Sebagian saudara seiman akan memulainya esok hari, Kamis, 19 Februari 2026. Tetapi mungkin saja yang tidak memulainya juga cukup banyak, entah tanggal 18 atau 19. Itulah fenomena yang tak mungkin dihindarkan.
Puasa itu khas. Ia adalah panggilan keimanan, bukan sekadar administrasi keislaman. Karena itu, meskipun secara administratif seseorang mencantumkan Islam sebagai identitas keagamaannya di KTP, tidak otomatis ia akan menjalankan ibadah puasa, meski tidak ada hambatan apa pun. Sebab puasa bukan urusan data kependudukan, melainkan urusan kesadaran batin.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman pada QS. Al-Baqarah (2): 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini tidak dimulai dengan seruan, “Wahai orang-orang Islam.” Tetapi, “Wahai orang-orang yang beriman.” Di sinilah letak perbedaannya. Islam bisa menjadi identitas formal, tetapi iman adalah getaran kesadaran. Islam bisa tertulis di kartu identitas, tetapi iman tertanam di dalam dada.
Puasa karena iman melahirkan keikhlasan. Puasa karena tekanan sosial hanya melahirkan kepura-puraan.
Panggilan, Bukan Paksaan
Seruan yā ayyuhalladzīna āmanū adalah panggilan kehormatan. Ia bukan ancaman, bukan tekanan, bukan pula intimidasi. Ia adalah undangan kepada mereka yang merasa memiliki hubungan batin dengan Tuhannya.
Secara fikih, puasa memang wajib. Tetapi secara ruhani, ia adalah undangan istimewa. Tidak semua yang mengaku Muslim otomatis siap memenuhi undangan itu. Karena undangan ini tidak dipaksa oleh aparat, tidak diawasi oleh kamera, dan tidak dicatat oleh sistem.
Ia dicatat oleh Allah
Puasa dengan gembira bukan berarti tanpa lapar. Ia bukan pula tanpa perjuangan. Tetapi ia dijalani dengan kesadaran bahwa kita sedang menjawab panggilan langsung dari Tuhan.
Tiga Cara Menyambut Ramadhan
Menurut Abdul Mu’ti, dalam bukunya Puasa sebagai Gerakan Sosial, ada tiga cara manusia menyambut Ramadhan.
Pertama, menyambut dengan rasa terpaksa. Ramadhan dianggap beban. Yang terlihat adalah perubahan ritme hidup dan rasa lapar. Puasa sekadar menggugurkan kewajiban.
Kedua, menyambut secara normatif. Puasa dijalankan dengan disiplin sebagai kewajiban agama, tetapi belum sepenuhnya dimaknai sebagai momentum perubahan diri dan sosial.
Ketiga, menyambut sebagai gerakan sosial dan spiritual. Puasa melahirkan empati, solidaritas, kepedulian pada yang lemah, serta pembaruan moral dalam kehidupan bersama.
Kita berada di posisi yang mana?
Puasa dan Kemerdekaan Jiwa
Kita hidup di zaman yang serba cepat dan serba instan. Keinginan ingin segera dipenuhi. Nafsu ingin segera dilayani. Puasa hadir untuk mengajarkan bahwa manusia tidak boleh menjadi budak dari dorongan dirinya sendiri.
Puasa Melatih Kemerdekaan
Ia mengajarkan bahwa kita mampu menahan diri dari yang halal sekalipun, demi ketaatan kepada Allah. Jika pada yang halal saja kita bisa menahan diri, apalagi pada yang haram.
Inilah makna takwa. Bukan sekadar takut, tetapi kesadaran yang hidup. Kesadaran bahwa iman tidak cukup diucapkan, tetapi harus dibuktikan dalam pengendalian diri.
Menyambut dengan Syukur
Perbedaan tanggal boleh terjadi. Perbedaan pilihan juga ada. Tetapi yang paling penting bukanlah tanggalnya, melainkan kesadarannya.
Puasa dengan gembira adalah sikap orang yang sadar bahwa ia sedang dipanggil. Dipercaya. Diberi kesempatan.
Karena pada akhirnya, puasa bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah pertemuan antara iman dan tindakan.
Dan pertemuan itu hanya bisa terjadi pada mereka yang menjadikan iman sebagai kesadaran, bukan sekadar identitas.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








