• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Senin, Januari 26, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Ironi “Penertiban”

M. Risfan Sihaloho by M. Risfan Sihaloho
2026/01/26
in Daerah, Nasional, Opini, Tilikan
0
Ironi “Penertiban”
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: M. Risfan Sihaloho

 

Di banyak daerah, “penertiban” telah berubah menjadi mantra sakti bagi para pemimpin yang kehabisan gagasan. Ketika visi kosong, strategi mandul, dan keberanian berpikir inovatif tak dimiliki, maka “tertibkan” menjadi kata kerja paling mudah. Murah ongkos politiknya, tinggi sensasi visualnya. Spanduk diturunkan, lapak dibongkar, gerobak diangkut. Selesai. Seolah-olah masalah selesai.

Ya. Penertiban telah menjelma jadi tradisi dan seni mengusir tanpa merasa bersalah. Seni merapikan kemiskinan agar tak mengganggu pandangan mata kekuasaan.

Padahal yang dirapikan hanya pemandangan, bukan kehidupan. Trotoar tiba-tiba disterilkan, bukan karena menghalangi pejalan kaki—yang sering juga tak pernah disediakan jalurnya—melainkan karena mengganggu ilusi keteraturan yang ingin dipamerkan ke atasan dan investor. Atau sekedar persiapan untuk mendapatkan Adipura.

Pemimpin seperti ini umumnya lihai bermain di wilayah remeh-temeh yang sarat gimmick: mengecat trotoar, memoles taman, menggusur yang dianggap “mengganggu estetika”. Tapi ketika ditanya bagaimana menciptakan lapangan kerja, memperluas akses ekonomi rakyat kecil, atau merancang kota yang adil bagi semua, mereka mendadak bisu. Atau lebih tepatnya: jangan-jangan mereka tak pernah memikirkan itu sejak awal.

Maka jangan heran, pemimpin seperti ini rajin mengurusi yang kasatmata, tapi alergi membedah yang struktural. Mengurus spanduk lebih rajin daripada mengurus pengangguran. Mengangkut gerobak lebih bersemangat daripada mengangkut nasib rakyatnya sendiri.

Ironisnya, ketika penertiban dilakukan, yang digeruduk hampir selalu rakyat kecil. Jarang sekali kita melihat “penertiban” terhadap kebocoran anggaran, proyek siluman, atau elite yang merusak tata kota dengan kepentingan bisnisnya. Ketertiban seolah hanya berlaku ke bawah. Ke atas, ia berubah menjadi toleransi.

Dan jika ada resistensi dari rakyat, mereka siap dihadapkan dengan pasukan tramtib yang selalu siaga berperan sebagai algojo ketertiban yang sering bertindak arogan, beringas dan represif.

Begitulah. Penertiban lalu menjadi jalan pintas bagi ketidakmampuan.

Satu hal yang kerap luput disadari—atau sengaja diabaikan—adalah bahwa “ketidaktertiban” warga bukanlah watak bawaan. Ia bukan tabiat genetik orang miskin. Sesungguhnya ketidaktertiban adalah bahasa sunyi dari keterbatasan. Ia adalah ekspresi dari sistem yang gagal menyediakan ruang hidup yang layak.

Pedagang kaki lima, misalnya. Mereka tidak bangun pagi dengan niat melanggar Perda. Mereka bangun pagi dengan kecemasan yang sama setiap hari: bagaimana dapur bisa tetap mengepul.

Ya. Pemerintah lupa satu hal mendasar: ketidaktertiban bukan sebab, melainkan gejala. Ia muncul karena negara tak pernah sungguh-sungguh hadir di hulu persoalan. Ketika ruang hidup dipersempit, pilihan ekonomi dimiskinkan, dan akses keadilan dipersulit, maka trotoar berubah menjadi ruang survival.

Relokasi sering disebut sebagai solusi. Padahal lebih sering ia adalah pemindahan masalah. Dipindahkan ke tempat sepi, jauh dari arus pembeli, tanpa kajian ekonomi, tanpa dialog, tanpa jaminan keberlanjutan. Pedagang dipaksa “tertib”, tapi pelan-pelan dimatikan penghidupannya. Negara merasa sudah bekerja. Rakyat diminta bersabar.

Pemerintah yang hanya rajin menertibkan tanpa memberdayakan sesungguhnya sedang mengakui kegagalannya sendiri. Ia gagal membaca realitas sosial, gagal memahami akar persoalan, dan gagal menghadirkan kebijakan yang membebaskan.

Kerja pemerintah seharusnya bukan sekadar memastikan kota tampak rapi dari balik kaca mobil dinas pejabat. Kerja pemerintah adalah memastikan warga bisa hidup tanpa harus melanggar aturan demi bertahan hidup. Ketertiban sejati bukan hasil razia, tapi buah dari kebijakan yang adil dan membebaskan.

Jika negara terus sibuk menertibkan yang lemah, sementara membiarkan yang kuat semaunya, maka jelas: yang sedang ditata bukan kota, melainkan kemiskinan yang ingin disembunyikan dari pandangan mata, dan demi menaikkan citra kekuasaan. (*)

Tags: KetertibanPenertiban
Previous Post

PCM Peninjauan Letakkan Batu Pertama Pembangunan TK ABA dan SMP Muhammadiyah Penilikan

Next Post

Masjid sebagai Pusat Ilmu, Pesan Tarjih dari Kajian Ahad Pagi Masjid Istiqlal Dukuhturi

Related Posts

No Content Available
Next Post
Masjid sebagai Pusat Ilmu, Pesan Tarjih dari Kajian Ahad Pagi Masjid Istiqlal Dukuhturi

Masjid sebagai Pusat Ilmu, Pesan Tarjih dari Kajian Ahad Pagi Masjid Istiqlal Dukuhturi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In