Oleh: Jufri
Pegiat sosial politik dan dakwah kebangsaan
“Kita selalu mengatakan bahwa kita mencontoh Rasulullah Muhammad SAW, tapi mencontoh KH Ahmad Dahlan saja kita masih berat. Kita mengatakan bahwa Muhammadiyah mengantarkan kita ke depan pintu surga Jannatun Na’im, jangan sampai gara-gara bermuhammadiyah kita malah diantarkan ke depan pintu gerbang neraka.”
Nasehat Buya Abu Hasyim Siregar, tokoh senior Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi itu bukan sekadar petuah orang tua. Ia adalah alarm moral bagi persyarikatan yang kian besar, kian berpengaruh, sekaligus kian rentan diuji oleh kekuasaan.
Kita terlalu sering merasa aman secara spiritual karena identitas. Seolah dengan menyebut diri bermuhammadiyah, urusan iman telah selesai. Padahal Buya justru mengajak kita turun dari klaim besar itu: meneladani Rasulullah adalah cita-cita tertinggi, tetapi meneladani KH Ahmad Dahlan—yang hidup di tanah, waktu, dan konteks kita—saja masih terasa berat. Dari sini seharusnya lahir kerendahan hati, bukan kebanggaan kosong.
Muhammadiyah hari ini tumbuh luar biasa. Amal usaha membentang dari pendidikan hingga kesehatan, dari desa hingga kota. Ia menjadi sumber kehidupan bagi jutaan orang. Namun realitas lain tak bisa disangkal: di saat yang sama, amal usaha juga berpotensi menjadi sumber perebutan kuasa.
Ketika jabatan di Muhammadiyah bukan lagi dipandang sebagai amanah, melainkan akses—akses pada kehormatan sosial, pengaruh, bahkan sumber daya—maka godaan pun datang. Mulai muncul orang-orang yang ingin “menjadi sesuatu” melalui Muhammadiyah. Datang bukan karena panggilan dakwah, melainkan karena melihat persyarikatan sebagai tangga sosial dan ruang legitimasi.
Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian dari mereka sangat memahami kultur Muhammadiyah. Tahu cara bicara, tahu simbol, tahu narasi perjuangan. Retorika mereka rapi, istilah mereka fasih, tapi kedalaman akhlak dan keikhlasan tak selalu menyertainya. Muhammadiyah lalu berisiko menjadi rumah besar yang dimasuki oleh kepentingan-kepentingan kecil yang lihai menyamar sebagai pengabdian.
Di titik inilah peringatan Buya menjadi relevan dan menakutkan. Bahwa bermuhammadiyah tidak otomatis membawa seseorang ke Jannatun Na’im. Amal usaha yang besar tanpa penjagaan moral bisa melahirkan feodalisme baru: jabatan diperebutkan, amanah dipolitisasi, kritik dianggap pembangkangan, dan kekuasaan dibungkus dalil.
Baca juga: Muhammadiyah Vibes
Muhammadiyah tidak dibangun untuk melahirkan elite yang sibuk menjaga kursi. Ia lahir dari keberanian KH Ahmad Dahlan untuk memikul risiko, bukan memanen kehormatan. Jabatan dalam persyarikatan bukan hadiah, melainkan ujian keikhlasan. Amal usaha bukan ladang kuasa, melainkan ladang amal.
Jika orientasi ini terbalik, maka yang dipertaruhkan bukan hanya tata kelola organisasi, tetapi ruh Muhammadiyah itu sendiri. Dan di sinilah kalimat Buya Abu Hasyim terasa paling menusuk: jangan sampai atas nama Muhammadiyah, kita justru berjalan menjauh dari nilai-nilai Islam yang kita dakwahkan.
Muhammadiyah akan tetap besar secara institusi. Tapi pertanyaannya: apakah kita masih besar secara akhlak? Sebab surga tidak pernah dijanjikan kepada mereka yang membawa nama besar, melainkan kepada mereka yang jujur, rendah hati, adil, dan bermanfaat bagi sesama—sebagaimana teladan Rasulullah SAW, dan jejak KH Ahmad Dahlan.
Jika tidak, maka peringatan Buya itu bukan lagi kiasan. Ia bisa menjadi kenyataan yang pahit: bahwa jalan yang kita tempuh, tanpa sadar, bukan menuju pintu Jannatun Na’im,
melainkan ke gerbang yang seharusnya kita cegah bersama. (*)







