• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Kamis, Januari 22, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Kaderisasi Sontoloyo

Ketika Regenerasi Hanya Menunggu Orang Tumbang

Jufri by Jufri
2026/01/22
in Jufri Daily, Nasional, Opini
0
Kaderisasi Sontoloyo
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Jufri

Pegiat sosial politik dan dakwah kebangsaan

Kaderisasi sejatinya bukan sekadar program, apalagi rutinitas administratif. Ia adalah kerja kesadaran—yang menuntut kejernihan pikiran dan kelapangan hati. Tanpa dua hal ini, kaderisasi mudah berubah menjadi slogan indah yang rajin diucapkan, tetapi absen dalam praktik.

Banyak orang gemar berbicara tentang kaderisasi. Namun yang sering kita saksikan justru sebaliknya: kaderisasi tidak berjalan karena orang-orang di dalamnya tidak jernih melihat perannya sendiri, dan tidak cukup lapang untuk memberi ruang kepada generasi berikutnya. Kaderisasi mungkin berlangsung secara formal—ada pelatihan, ada forum, ada sertifikat—tetapi tidak hidup dalam perilaku sehari-hari.

Ironisnya, kegagalan itu kerap terjadi justru di lingkaran yang paling lantang mengampanyekan kaderisasi. Para pemateri dan instruktur itu-itu saja orangnya. Alasannya klasik dan terdengar rasional: yang di bawah belum cukup jam terbang. Padahal jam terbang itu tidak pernah benar-benar diberikan. Kesempatan tidak dibuka, ruang tidak disediakan, kesalahan tidak ditoleransi. Bagaimana mungkin pengalaman lahir tanpa proses panjang yang penuh kepercayaan?

Dalam dunia kepakaran, pola yang sama berulang. Kaderisasi ilmu dan keahlian macet bukan karena kekurangan calon, melainkan karena ada orang yang terlalu menikmati kehebatan dirinya—seolah tak tergantikan. Ilmu yang seharusnya diwariskan justru dipagari. Kepakaran berubah menjadi alat legitimasi, bukan sarana pencerahan.

Di ranah politik, situasinya bahkan lebih gamblang. Kita menyebut diri sebagai partai kader, organisasi kader, atau gerakan kader. Namun orang bisa bertahan di posisi yang sama selama puluhan tahun. Alasannya terdengar mulia: masih dibutuhkan, suara konstituen masih kuat, jasanya besar. Kadang alasannya lebih “lucu” sekaligus menyedihkan: hanya bisa bekerja sama dengan dia. Seolah organisasi sedemikian miskinnya sumber daya manusia, sampai kerja kolektif harus bergantung pada satu nama.

Itulah sebabnya, pasca runtuhnya Orde Baru, lahir kesadaran kolektif untuk membatasi masa jabatan kepemimpinan—maksimal dua periode, baik dalam politik maupun banyak organisasi. Bukan semata soal teknis kekuasaan, melainkan ikhtiar etik untuk mencegah lahirnya orang-orang yang merasa tak tergantikan. Pembatasan periode adalah pengakuan jujur bahwa kekuasaan yang terlalu lama cenderung mematikan regenerasi.

Namun sayangnya, semangat itu sering disiasati. Aturan dibatasi, tetapi peran tetap dikuasai. Jabatan boleh berganti, pengaruh tetap sama. Kaderisasi pun kembali macet—hanya berpindah wajah, bukan berpindah cara berpikir.

Yang lebih menyedihkan, ruang sering kali baru diberikan karena keterpaksaan situasi: karena sudah tak sanggup lagi, tak mampu lagi, atau karena telah meninggalkan dunia ini. Regenerasi pun hadir bukan sebagai buah perencanaan, melainkan akibat keadaan yang tak bisa ditawar. Kaderisasi berjalan bukan karena kesadaran, tetapi karena darurat.

Padahal, ukuran organisasi kader bukan terletak pada lamanya seseorang bertahan di kursi, melainkan pada kemampuannya menyiapkan pengganti. Jika sebuah posisi runtuh ketika satu orang pergi, itu bukan tanda kekuatan, melainkan bukti kegagalan kaderisasi. Organisasi semacam itu bergantung pada figur, bukan pada sistem dan nilai.

Di titik inilah istilah “kaderisasi sontoloyo” menjadi patut dan wajar disematkan. Bukan sebagai umpatan emosional, melainkan sebagai kritik etik. Kaderisasi yang dipamerkan dalam pidato, tetapi disabotase dalam praktik; yang diagungkan dalam dokumen, tetapi dimatikan oleh ketakutan kehilangan peran.

Kaderisasi sontoloyo melahirkan generasi penonton: banyak yang paham teori, tetapi gagap memikul tanggung jawab; banyak yang loyal, tetapi tak pernah benar-benar dipercaya. Organisasi pun menua tanpa pembaruan—tampak besar, tetapi rapuh dari dalam.

Maka pertanyaan mendasarnya sederhana namun menohok: beranikah kita memberi ruang saat masih kuat, bukan saat sudah tak berdaya? Mampukah kita menyiapkan penerus tanpa merasa terancam oleh kehadirannya?

Sebab kaderisasi sejati hanya mungkin lahir dari kejernihan pikiran dan kelapangan hati. Tanpa itu, sekeras apa pun jargon yang diteriakkan, kaderisasi hanya akan menjadi lelucon sejarah, dan pantas disebut sontoloyo. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

 

Tags: Kaderisasi SontoloyoTulisan Jufri
Previous Post

Puisi~Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

Related Posts

Komitmen Ideologis Kader Muhammadiyah di Tengah Dinamika Politik dan Tantangan Zaman

Komitmen Ideologis Kader Muhammadiyah di Tengah Dinamika Politik dan Tantangan Zaman

18 Januari 2026
142
Kayu Gelondongan dan Hutan Kita

Isra’ Mi’raj: Menegakkan Shalat, Membangun Peradaban

16 Januari 2026
136
Kayu Gelondongan dan Hutan Kita

Menjaga Marwah Nama Muhammadiyah: Teladan KH Ahmad Dahlan, Para Tokoh Bangsa, dan Spirit Muktamar ke-49

12 Januari 2026
150
Jangan Patah, Jangan Lumat

Jangan Patah, Jangan Lumat

10 Januari 2026
136
Model Demokrasi Muhammadiyah: Alternatif Demokrasi Indonesia

Model Demokrasi Muhammadiyah: Alternatif Demokrasi Indonesia

9 Januari 2026
135
Bangsa Indonesia yang Mana yang Bahagia?

Bangsa Indonesia yang Mana yang Bahagia?

8 Januari 2026
142

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In