Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi / Mahasiswa Program Doktor Manajemen Sekolah Pascasarjana UMSU
Muhammadiyah sejak awal berdiri meyakini bahwa dakwah tidak cukup berhenti pada mimbar, tetapi harus menjelma menjadi kerja nyata yang menyentuh kehidupan umat dan bangsa. Dalam semangat itulah, hari ini saya mendapat kehormatan bersilaturrahim dengan para akademisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), usai mereka berkunjung dalam rangka penjajakan peningkatan kerja sama dengan Pemerintah Kota Tebing Tinggi.
Pertemuan ini bukan bukan agenda formal. Ia adalah ruang temu antara ilmu dan pengabdian, antara nalar akademik dan kebutuhan riil masyarakat. Kampus, dalam tradisi Muhammadiyah, bukan menara gading yang berjarak dari realitas, melainkan pusat pencerahan yang aktif menjawab persoalan zaman. Sementara pemerintah daerah memikul amanah untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kemaslahatan publik. Ketika keduanya bertemu, yang diharapkan lahir bukan hanya nota kesepahaman, tetapi kerja-kerja kolaboratif yang berdampak.
Selepas itu, sebagaimana rutinitas setiap Rabu sore, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Tebing Tinggi melaksanakan rapat rutin. Rapat ini membahas berbagai dinamika yang dihadapi persyarikatan: tantangan dakwah, peluang amal usaha, serta kebutuhan konsolidasi gerakan. Bagi Muhammadiyah, rapat bukan sekadar forum administratif, melainkan wadah ijtihad kolektif—tempat ide dirumuskan, langkah diselaraskan, dan tanggung jawab dibagi.
Namun Muhammadiyah juga menyadari keterbatasannya. Rapat hanyalah awal. Kerja sesungguhnya berlangsung di lapangan, dijalankan dengan kesungguhan, keikhlasan, dan kemampuan yang dimiliki. Di sinilah nilai penting persyarikatan diuji: bekerja tanpa gaduh, berkhidmat tanpa menuntut pujian, dan terus bergerak meski dalam keterbatasan.
Di tingkat lokal seperti Tebing Tinggi, Muhammadiyah dituntut untuk adaptif sekaligus teguh pada jati dirinya. Adaptif dalam membaca perubahan zaman, terbuka pada kolaborasi, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Teguh dalam prinsip: Islam berkemajuan, dakwah yang mencerahkan, dan pengabdian yang memuliakan manusia.
Merajut kerja sama dan meneguhkan gerak Muhammadiyah bukanlah kerja sesaat. Ia adalah proses panjang yang menuntut konsistensi dan kesabaran. Dari ruang kampus hingga ruang rapat persyarikatan, dari diskusi hingga aksi, Muhammadiyah terus berikhtiar hadir sebagai kekuatan moral dan sosial—bekerja untuk umat, berkhidmat untuk bangsa. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








