• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Selasa, Januari 13, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Merawat Nyali dalam Demokrasi

M. Risfan Sihaloho by M. Risfan Sihaloho
2026/01/13
in Nasional, Opini, Tilikan
0
Merawat Nyali dalam Demokrasi
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: M. Risfan Sihaloho

 

Belakangan ini, sosok Pandji Pragiwaksono ramai jadi sorotan publik lewat program *Mens Rea* di Netflix. Kritik pedas dan cadasnya terhadap sejumlah pihak di republik ini telah menimbulkan kegaduhan. Banyak yang memuji keberaniannya itu, tapi tak sedikit pula yang merasa sakit hati.

Seperti biasa, pro dan kontra tentu tak terhindarkan. Namun di luar soal selera humor atau keberpihakan politik, ada satu hal yang sulit dibantah: bahwa Pandji sedang mempertontonkan sesuatu yang kian langka di ruang publik kita, yakni tentang “nyali”.

Ya. Nyali untuk bicara kritis. Nyali untuk tidak ikut berbaris rapi dalam paduan suara kekuasaan. Nyali untuk berdiri sedikit ke pinggir ketika mayoritas lebih memilih aman di tengah.

Galibnya, dalam iklim politik yang sensitif terhadap kritik, rakyat cenderung memilih diam. Diam sering kali terasa lebih rasional daripada jujur. Diam dianggap bijak. Netral dipuja sebagai kebajikan. Padahal, sering kali itu bukan kebijaksanaan, melainkan sebentuk kepengecutan karena  ketiadaan nyali.

Mayoritas rakyat akhirnya memilih apatis. Apatisme bukan muncul dari ketidaktahuan, melainkan dari pengalaman kolektif melihat bagaimana kritik sering berujung pada stigmatisasi, intimidasi, kriminalisasi, bahkan persekusi.

Di hadapan kekuasaan yang kian tebal telinga dan tipis argumen, nyali menjadi oase di gurun demokrasi yang tandus. Ia tidak menjanjikan kemenangan, apalagi keuntungan. Justru yang ditawarkan risiko: berdiri “di pinggir jurang”, siap diterpa intimidasi atau represi.

Tetapi justru di titik inilah keberanian diuji—apakah demokrasi masih cukup ampuh melindungi warganya yang berisik bersuara, atau justru sudah berubah menjadi sistem yang alergi kritik.

Sejatinya, taman demokrasi yang indah itu ditandai oleh masih suburnya tumbuh aneka bunga nyali. Semakin banyak suara kritis, semakin kuat imunitas demokrasi. Sebab dalam demokrasi sejati, tak boleh ada ketakutan untuk berbicara. Ketakutan adalah alarm, bukan tanda stabilitas.

Merawat nyali berarti merawat demokrasi itu sendiri. Tanpa keberanian, demokrasi kehilangan ruhnya dan berubah menjadi sekadar prosedur hampa makna.

Sebaliknya, ketika nyali menghilang dari ruang publik—ketika kritik cuma bisa berbisik, bukan lantang diteriakkan; maka wajar jika kita mulai curiga: apakah demokrasi ini masih hidup, atau sudah mati suri?

Pemikir budaya Yasraf Amir Piliang pernah mengingatkan bahwa musuh terbesar demokrasi bukanlah perbedaan pendapat, melainkan ketakberdayaan.

Menurutnya, demokrasi bukan hanya soal kebebasan formal, melainkan soal pemberdayaan. Tentang demos yang merasa suaranya bermakna, bukan sekadar angka dalam pemilu lima tahunan. Artinya, rakyat bukan sekadar diberi hak memilih, tapi juga hak bersuara tanpa rasa takut.

Keberanian, dalam konteks ini, bukan sikap nekat tanpa akal, melainkan kekuatan mengatasi ketakutan, kecemasan, dan skeptisisme. Demokrasi seharusnya menjadi ruang pembentukan keberanian rakyat—keberanian berbicara secara bermartabat.

Berbarengan dengan itu, demokrasi juga menuntut keberanian penguasa: keberanian mendengar kritik tanpa tersinggung, keberanian menjawab dengan argumen, bukan dengan kekuasaan. Penguasa yang membungkam kritik sesungguhnya bukan kuat, melainkan pengecut—karena tak mampu beradu gagasan secara rasional, strategis, dan elegan.

Demokrasi para pengecut adalah demokrasi yang sibuk menertibkan suara, tapi malas memperbaiki kebijakan. Demokrasi semacam ini hanya ramah pada pujian dan alergi terhadap kebenaran.

Maka ketika hari ini nyali diperlakukan sebagai ancaman, satire dianggap subversif, dan kritik disamakan dengan kebencian, sesungguhnya yang sedang dipertontonkan bukan kekuatan negara, melainkan ketakutan kolektif elite terhadap suara rakyatnya sendiri.

Dan di titik itulah, keberanian—sekecil apa pun—menjadi tindakan politik. Bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menyadarkan. Bukan untuk gaduh, tapi untuk menjaga agar demokrasi tidak berubah menjadi monolog kekuasaan dengan penonton yang dipaksa tepuk tangan.

Jika nyali benar-benar punah, jangan salahkan rakyat. Sebab nyali tidak mati dengan sendirinya. Ia dibunuh—perlahan, sistematis, dan sering kali sambil mengatasnamakan demokrasi itu sendiri. (*)

Tags: demokrasiNyaliTulisan M. Risfan Sihaloho
Previous Post

Paradoks Kepercayaan Publik: Saat Polri Dipuji, Namun Reformasi Mendesak

Next Post

Kota Bima Peduli Aceh: Bersama dalam Doa dan Donasi

Related Posts

Demokrasi yang Terpenjara di Menara Gading

Demokrasi yang Terpenjara di Menara Gading

12 Januari 2026
117
Paling Bahagia, Apa Iya?

Paling Bahagia, Apa Iya?

8 Januari 2026
139
Kudeta Senyap Demokrasi

Kudeta Senyap Demokrasi

2 Januari 2026
139
Sungai

Sungai

27 Desember 2025
133
Beda

Beda

23 Desember 2025
115
Kesalehan Ekologis

Kesalehan Ekologis

13 Desember 2025
132
Next Post
Kota Bima Peduli Aceh: Bersama dalam Doa dan Donasi

Kota Bima Peduli Aceh: Bersama dalam Doa dan Donasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In