• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Jumat, Januari 9, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Oase Musyawarah: Menjemput Kembali Marwah Sila Keempat Pancasila dalam Arsitektur Kekuasaan

Shohibul Anshor Siregar by Shohibul Anshor Siregar
2026/01/07
in Nasional, Opini, Ulasan
0
Shohibul: Protes Kampus terhadap Rezim Jokowi Penting, Tapi Sudah Sangat Terlambat

Shohibul Anshor Siregar.

Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Shohibul Anshor Siregar

Ketua LHKP PW Muhammadiyah Sumut

 

​Di tengah riuh rendah panggung demokrasi kita yang kian gaduh oleh parade angka dan hiruk-pikuk citra, sebuah tanya besar menyeruak: benarkah kedaulatan itu masih berada di tangan rakyat, ataukah ia telah tersesat dalam labirin kompetisi elektoral yang kering dari hikmat?

Kita hari ini terjebak dalam sebuah ironi ketatanegaraan; sebuah sistem yang memuja suara individu namun sering kali melupakan esensi kebersamaan.

Perjalanan pasca-Amandemen UUD 1945 telah membawa kita jauh melayari samudera demokrasi liberal yang atomistik, meninggalkan pelabuhan filosofis Sila Keempat Pancasila yang seharusnya menjadi kompas bagi arah bangsa.

​Menengok ke belakang, ada sebuah kejujuran formal yang pernah dipraktikkan oleh para pendahulu bangsa.

Baik pada era Soekarno maupun Soeharto, meski dengan warna politik yang kontras, keduanya berpijak pada satu konsensus konstitusional yang tunggal: kedaulatan tidak disebar dalam kepingan suara yang pecah, melainkan dipusatkan dalam satu tungku musyawarah.

Rakyat memberikan mandatnya melalui pintu tunggal pemilihan legislatif, memercayakan nasib peradaban kepada para wakil yang duduk di menara perwakilan.

Di sanalah, Presiden bukan hadir sebagai petarung yang memenangkan hati massa lewat janji-janji manis, melainkan sebagai “Mandataris” yang memikul beban amanah dari lembaga tertinggi negara.

Inilah simpul dari representative mandatory; sebuah mandat perwakilan yang menempatkan pemimpin sebagai eksekutor dari garis-garis besar haluan yang telah ditenun bersama.

​Namun, rekayasa demokrasi saat ini telah menciptakan diskoneksi yang mengkhawatirkan.

Pemilihan langsung, yang awalnya dipuja sebagai puncak kedaulatan, perlahan menyingkap wajah aslinya: sebuah pesta mahal yang rentan dibajak oleh kekuatan modal.

Kritik tajam dari rahim organisasi besar sekelas Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah bukan sekadar gertakan politik.

Mereka menangkap aroma kemudaratan sosiologis yang nyata—pecahnya kohesi sosial di akar rumput, merebaknya politik transaksional, hingga korupsi sistemik yang lahir dari rahim biaya kampanye yang tak masuk akal.

Ketika popularitas mengangkangi integritas, maka “hikmat kebijaksanaan” yang diamanatkan Pancasila hanya menjadi bait-bait hafalan di upacara bendera, kehilangan ruhnya dalam praktik bernegara.

​Maka, sudah saatnya kita melakukan rekayasa ketatanegaraan yang lebih lincah dan berani.

Mengembalikan pemilihan ke tangan dewan bukanlah langkah mundur, melainkan upaya menjemput kembali marwah kedaulatan yang tertukar.

Namun, agar tak terperosok pada lubang otoritarianisme masa lalu, parlemen kita harus direkonstruksi secara total.

Harus ada ruang bagi Utusan Golongan dan Utusan Daerah sebagai jangkar moral yang bebas dari kepentingan partisan.

Mereka adalah para penjaga nurani yang memastikan bahwa suara dari pesantren, gereja, kampus, hingga masyarakat adat tidak sekadar menjadi ornamen, melainkan menjadi penentu dalam menentukan sosok mandataris bangsa.

​Dalam sistem mandat perwakilan yang dicita-citakan ini, kita ingin melihat pemimpin yang tak lagi sibuk merias diri di depan kamera demi elektabilitas, melainkan pemimpin yang tegak lurus menjalankan haluan negara yang telah disepakati.

Sebuah sistem di mana pertanggungjawaban tidak menunggu lima tahun sekali, namun berlangsung setiap detak nafas kebijakan.

Ada yang mengeritik bahwa negara akan jatuh ke iklim pelanggengan kekuasaan oleh seorang Presiden tanpa batas waktu kedaluwarsaan. Itu harus disiasati, sama dengan urgensi pemantangan apa pun dalam fitur pengaruh penentuan kepala daerah selain kapasitas dalam ukuran modern merit.

Tetap saja ada peluang devisasi selain money politik. Inventarislah semua potensi masalah itu untuk kebangunan demokrasi orisional Indonesia ini.

Inilah oase musyawarah yang kita dambakan: sebuah sistem kekuasaan yang tidak hanya bicara tentang siapa yang paling banyak mendapatkan suara, tetapi tentang siapa yang paling mampu menerjemahkan hikmat kebijaksanaan demi kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia. (*)

Tags: MusyawarahPilkada Lewat DPRDshohibul anshor siregar
Previous Post

PDPM Banyumas Menyatukan Lingkungan, Kaderisasi, dan Keadilan Sosial Lewat "Ijabah"

Next Post

Paling Bahagia, Apa Iya?

Related Posts

Kudeta Senyap Demokrasi

Kudeta Senyap Demokrasi

2 Januari 2026
131
Cegah Kriminalitas, Shohibul: Muhammadiyah Perlu Tentukan Prioritas Orientasi Dakwahnya

Negara Dinilai Sengaja Abai, Hak Masyarakat Adat Terus Dikorbankan

15 Desember 2025
151
Akademisi Kritik Komdigi: Negara Garang pada Platform Pendidikan, Tapi Gagap Melawan Judi Online

Di Balik Banjir Sumatera dan Kepanikan Politik Nasional

2 Desember 2025
146
Bawaslu Gelar Forum Belajar di Medan, Pakar: Demokrasi Indonesia Mundur, Pemilu Hanya Legitimasi bagi Rezim Oligarkis

Bawaslu Gelar Forum Belajar di Medan, Pakar: Demokrasi Indonesia Mundur, Pemilu Hanya Legitimasi bagi Rezim Oligarkis

28 November 2025
116
Muhammadiyah Kritik Keras: Hukum Positif Gagal Lindungi Tanah Ulayat, Negara Subordinasikan Hak Adat Demi Korporasi

Muhammadiyah Kritik Keras: Hukum Positif Gagal Lindungi Tanah Ulayat, Negara Subordinasikan Hak Adat Demi Korporasi

13 November 2025
214
Akademisi: Gerakan Sosial Tuntut “Tutup TPL” Menanti Sensitivitas Politik Bobby Nasution, Berpotensi Eskalasi Jika Diabaikan

Akademisi: Gerakan Sosial Tuntut “Tutup TPL” Menanti Sensitivitas Politik Bobby Nasution, Berpotensi Eskalasi Jika Diabaikan

12 November 2025
148
Next Post
Paling Bahagia, Apa Iya?

Paling Bahagia, Apa Iya?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In