Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Membaca Pola Aksi Demonstrasi

Mujaddid by Mujaddid
2025/09/04
in Nasional, Opini, Tilikan
Reading Time: 3 mins read
0
Membaca Pola Aksi Demonstrasi

Foto ilustratif.

Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: M. Risfan Sihaloho

Pengerajin Anyaman Kata di Gerakan Rakyat Menulis (GERAM)/ Demonstran ’98

 

Demonstrasi selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari demokrasi. Ia adalah “panggung jalanan” tempat rakyat bersuara lantang ketika suara di gedung-gedung megah tak lagi didengar. Tapi ada satu hal yang selalu muncul setiap kali demo berujung ricuh: pertanyaan klasik, “Apakah ini murni suara rakyat atau ada yang menunggangi?”

Pertanyaan ini sebenarnya sederhana, tapi jawabannya rumit, karena politik di negeri ini lebih sering berisi drama ketimbang logika.

Namun yang jelas, demo besar di Indonesia hampir selalu punya dua wajah: satu wajah rakyat yang benar-benar marah, satu wajah bayangan yang ikut nimbrung entah untuk memperlemah gerakan, mengubah narasi, atau memanfaatkan momentum.

Baca juga: Ketika yang Lemah Melawan

Pola Aksi

Dalam literasi gerakan sosial, seperti dipaparkan Sidney Tarrow dalam “Power in Movement”, aksi massa biasanya lahir dari tiga hal: ketidakadilan yang menumpuk, solidaritas kolektif, dan kesempatan politik. Artinya, ketika rakyat sudah muak, sementara kanal resmi penyalur aspirasi tersumbat, maka mereka akan turun ke jalan.

Namun, kita sering melihat pola yang mirip: Aksi damai di awal. Spanduk dipampang, orasi disampaikan, yel-yel diteriakkan dan nyanyian perlawanan dikumandangkan. Sampai disini semua masih dalam batas normal.

Kemudian tiba-tiba muncul provokasi yang membuat eskalasi makin panas. Entah ada yang lempar batu, bakar ban, atau seruduk pagar kawat berduri.

Tatkala suasana kian memanas, massa pun mulai liar dan tak terkendali. Kericuhan pun pecah. Massa jadi agresif dan beringas. Polisi balas dengan gas air mata dan water canon. Massa terpancing emosi, dan terjadi chaos. Ujungnya media menulis headline: “Aksi Damai Berakhir Ricuh.”

 

Murni atau Ditunggangi?

Apakah ini spontan? Tidak selalu. Dalam studi komunikasi politik, dikenal istilah framing conflict. Kericuhan seringkali muncul bukan dari massa inti, tapi dari “pemain bayangan” yang sengaja hadir untuk mengubah narasi aksi.

Aksi murni biasanya ditandai dengan konsistensi tuntutan. Orasi fokus pada isu, massa relatif kompak, dan jika ada gesekan, masih bisa dikendalikan oleh koordinator lapangan.

Sedangkan aksi ditunggangi punya tanda lain: tuntutan melebar ke mana-mana, ada kelompok tak dikenal ikut nimbrung, muncul kekerasan yang tidak sesuai dengan spirit gerakan awal.

Namun yang pasti, bukan sesuatu yang gampang untuk memastikan sebuah aksi demonstrasi dijalanan murni atau ditunggangi.

Tentang hal ini, pengamat politik, Arbi Sanit, pernah bilang, “Di Indonesia, hampir mustahil membedakan antara gerakan murni dan rekayasa. Karena begitu massa berkumpul, peluang untuk ditunggangi selalu terbuka.”

Kemudian diperkuat sosiolog politik, Ariel Heryanto, yang mengatakan, bahwa dalam politik jalanan, sulit membedakan mana spontanitas rakyat, mana rekayasa. Justru, menurutnya yang paling penting adalah menelusuri siapa yang diuntungkan dari kekacauan itu.

 

Siapa Penunggang Sesungguhnya?

Lucunya, istilah “ditunggangi” sering jadi mantera ajaib pemerintah. Begitu ada aksi besar, selalu ada suara pejabat berkata: “Ini pasti ada yang menunggangi.”

Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya menunggangi siapa? Apakah elite menunggangi rakyat untuk kepentingan politik mereka? Ataukah rakyatlah yang sedang berusaha menunggangi momentum elite? Atau jangan-jangan yang menunggangi adalah opini kelompok tertentu lewat framing di media yang selalu lapar rating?

Dalam bahasa satir, demonstrasi di Indonesia kadang lebih mirip arena pacuan kuda: rakyat jadi kuda, tuntutan jadi pelana, dan penunggangnya bisa siapa saja—partai, oligarki, aparat, atau kelompok asing.

Baca juga: Unstoppable

Analisis

Untuk memahami aksi demonstrasi di jalanan, ada sejumlah pisau analisis yang bisa pakai.

Pertama, analisis struktural. Demo lahir karena ada ketidakadilan nyata: harga melambung, kebijakan elitis, atau korupsi yang menggerogoti. Ini basis murni.

Kedua analisis kultural. Setidaknya, budaya protes di Indonesia sudah melekat sejak era reformasi. Tapi juga ada budaya infiltrasi—aktor bayangan yang suka nimbrung.

Ketiga, analisis aktor. Siapa yang hadir? Apakah ada kelompok tak dikenal yang tiba-tiba jadi “pemicu” kerusuhan? Kalau iya, besar kemungkinan ada penunggang.

Keempat, analisis narasi. Bagaimana media, pejabat atau pihak-pihak tertentu merespons? Kalau narasi “ditunggangi” langsung muncul sejak awal, justru itu tanda ada upaya menggiring opini.

Kelima, analisis politik kekuasaan. Aksi massa sering dijadikan bargaining politik. Demo sangat mungkin bisa jadi “alat negosiasi” elite untuk tekan lawan.

 

Penutup

Pada akhirnya, membaca pola demo di Indonesia mirip membaca naskah sinetron: ada tokoh utama (massa), ada antagonis (provokator), ada figuran (aparat), dan ada sutradara tak terlihat (elite politik).

Demo 25 Agustus 2025 memperlihatkan satu hal: ternyata rakyat masih punya energi untuk bersuara, tapi suara itu selalu terancam ditelan skenario para hantu penunggang.

Apakah murni? Bisa iya. Apakah ada yang menunggangi? Bisa juga. Tapi yang pasti, rakyat jarang sekali jadi penunggang. Mereka lebih sering jadi tunggangan—yang digiring, digas, atau dibiarkan lelah di jalanan. (*)

Tags: Aksi DemonstrasiAksi Unjuk RasaPola Aksi DemonstrasiTulisan M. Risfan Sihaloho
Previous Post

Kalau Mau Cari Uang Jadilah Guru dan Pedagang

Next Post

Sosok Nabi Muhammad SAW di Mata Cendekiawan Non-Muslim

Related Posts

Jateng Sabet Juara Umum Putra LPB V Nasional Hizbul Wathan: Bukti Semangat Fastabiqul Khairat

Jateng Sabet Juara Umum Putra LPB V Nasional Hizbul Wathan: Bukti Semangat Fastabiqul Khairat

1 Juli 2026
101
FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
142
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
108
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

29 Juni 2026
104
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
Next Post
Sosok Nabi Muhammad SAW di Mata Cendekiawan Non-Muslim

Sosok Nabi Muhammad SAW di Mata Cendekiawan Non-Muslim

XLSMART Hadirkan Program Apresiasi Spesial di Hari Pelanggan Nasional 2025

XLSMART Hadirkan Program Apresiasi Spesial di Hari Pelanggan Nasional 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
108
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
116

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan