Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Selembar Kain Fiksi dalam Upacara Sunyi

Mujaddid by Mujaddid
2025/08/02
in Nasional, Opini
Reading Time: 2 mins read
0
Selembar Kain Fiksi dalam Upacara Sunyi

Foto ilustrasi.

Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Farid Wajdi

Founder Ethics of Care/Anggota Komisi Yudisial 2015-2020

 

Ada yang berbeda di langit Indonesia menjelang HUT ke-80 kemerdekaan. Di antara bendera Merah Putih yang berkibar di tiang-tiang rumah dan jalanan, muncul satu bendera lain yang mencuri perhatian: kain hitam bergambar tengkorak bertopi jerami—simbol bajak laut dalam serial One Piece.

Di sejumlah kota dan desa, bendera ini dikibarkan dengan penuh kesadaran. Bukan karena lupa aturan, tapi justru sebagai bentuk ekspresi. Sebuah sindiran. Atau mungkin, sebuah seruan!

Bagi sebagian kalangan, tindakan ini tentu tak lebih dari lelucon, tren budaya pop yang kebetulan viral. Tapi bagi negara, bendera itu tampaknya lebih dari sekadar guyon. Pemerintah bereaksi cepat. Imbauan diluncurkan. Teguran dilayangkan. Bahkan ada suara dari elite politik yang menyebutnya “potensi ancaman persatuan.” Ada kekhawatiran bahwa di balik simbol tengkorak itu tersembunyi benih pemberontakan yang terorganisir.

Di era ketika makna bisa viral dalam hitungan menit, negara rupanya tak ingin lengah—walau hanya oleh selembar kain fiksi.

Namun yang menarik bukan hanya soal simbolnya, melainkan reaksi yang ditimbulkannya. Mengapa negara begitu reaktif terhadap satu bendera yang tak memiliki kekuatan hukum, apalagi kekuatan politik?

Jawabannya mungkin terletak pada satu hal: rasa tidak nyaman terhadap kritik yang tak terdefinisikan.

Di dunia One Piece, bendera bajak laut adalah lambang pembangkangan terhadap otoritas yang korup dan penuh ketidakadilan. Topi Jerami bukan simbol anarki, tapi mimpi bagi dunia yang lebih adil dan bebas.

Ketika bendera itu dikibarkan di dunia nyata, ia menyisipkan kritik yang halus namun tajam: bahwa ada yang keliru dalam cara negara memperlakukan rakyatnya; kemerdekaan yang dirayakan belum sepenuhnya merata maknanya.

Kritik yang datang lewat meme, lewat budaya pop, justru semakin sulit ditebak dan dikendalikan. Ia cair, jenaka, tapi punya nyala.

Dan dalam kasus ini, negara memilih untuk meresponsnya seperti merespons ancaman formal. Padahal yang dituntut bukan revolusi, melainkan ruang untuk menyampaikan suara.

Yang luput dari perhatian adalah pesan yang disampaikan rakyat lewat bendera itu: ekspresi dan perasaan mereka tak lagi menemukan tempat dalam bahasa formal negara.

Mereka tidak berteriak di jalan, tidak membuat petisi, tidak menulis kritik akademik. Mereka hanya mengibarkan simbol yang—dalam imajinasi kolektif mereka—lebih mewakili rasa keadilan daripada narasi resmi kenegaraan.

Justru di sanalah makna pentingnya. Di tengah krisis kepercayaan, kritik tak datang dalam bentuk dokumen panjang, tapi dalam pilihan simbol. Ketika rakyat mengibarkan bendera One Piece, mereka sebenarnya sedang bertanya: apakah negara ini masih milik bersama, atau hanya milik mereka yang duduk di kursi kekuasaan?

Alih-alih meredam dengan kekhawatiran berlebih, pemerintah seharusnya menjawabnya dengan introspeksi. Sebab tidak semua kritik datang dengan kemarahan. Kadang ia datang dengan tertawa, tapi dengan luka di dalam dada.

Karena itu, bendera bajak laut yang berkibar di tanah merdeka bukan ancaman, melainkan cuma cermin polos. Cermin yang menunjukkan bahkan di ulang tahunnya yang ke-80, republik ini masih harus menjawab pertanyaan paling mendasar dari rakyatnya: “Apakah suara kami masih didengar?”. (*)

 

Tags: Bendera Merah PutihBendera One PieceHUT RI ke 80
Previous Post

Mahasiswa FKIP UMSU Baca Puisi di Balige Writers Festival

Next Post

PPK ORMAWA HMJ Pendidikan Akuntansi FKIP UMSU Resmi Dibuka di Desa Bekulap

Related Posts

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
123
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

29 Juni 2026
104
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Next Post
PPK ORMAWA HMJ Pendidikan Akuntansi FKIP UMSU Resmi Dibuka di Desa Bekulap

PPK ORMAWA HMJ Pendidikan Akuntansi FKIP UMSU Resmi Dibuka di Desa Bekulap

UM Bandung Libatkan Dinkes dan Praktisi UMKM dalam Pembekalan KKN 2025

UM Bandung Libatkan Dinkes dan Praktisi UMKM dalam Pembekalan KKN 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan